Kasus Bullying Yang Dapat Menyebabkan Kerusakan Mental Pada Remaja
Penulis: Muhamad Fikri Renaldi, mahasiswa Prodi farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Baru-baru ini viral kejadian seorang anak yang menjadi korban bullying dari temannya. Menurut cerita korban itu kerap sering dibully oleh teman-temannya karena dia di anggap sebagai anak yang tidak bisa berkelahi. Setelah ditelusuri korban tersebut adalah anak yang pintar di dalam kelas, kemudian pelaku meminta korban untuk mengerjakan tugas di dalam kelas sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Ternyata bukan cuman sekali atau dua kali pelaku meyuruh korban untuk mengerjakan tugasnya, namun sering kali pelaku tersebut meminta tugasnya di kerjakan oleh korban.
Pas di pagi hari dimana pelaku meminta korban mengerjakan tugasnya lagi dan korban pun sudah tidak mau lalu melaporkan pelaku kepada guru. Pelaku pun marah dan merasa tidak terima dirinya di laporkan oleh korban, kemudian pelaku Bersama teman-temannya membuat rencana untuk memberikan hukuman terhadap sang korban yang telah melaporkan dirinya ke guru.
Pada saat pulang sekolah pelaku pun Bersama teman-temannya menjalankan aksinya untuk memberi pelajaran kepada korban. Mereka menunggu korban berjalan keluar pagar sekolah, setelah melihat korban berjalan keluar pagar pelaku pun memulai aksinya, mereka membawa korban menuju ke samping sekolah lalu mengikat korban di pohon. Setelah mengikat korban di pohon teman pelaku mengambil air di got yang ada di samping sekolah, kemudian air got itu di siram ke korban tersebut. Tak hanya disiram korban pun di tertawakan oleh pelaku dan teman-temannya, kemudian pelaku Bersama teman-temannya meninggalkan korban tanpa rasa kasihan untuk melepaskan ikatan korban di pohon itu.
Kemudian dimana di tempat itu korban tersebut dihampiri oleh seorang ibu yang merasa kasihan dengan kondisi sang korban yang sudah basah kuyup dan kotor karena diguyur oleh sang pelaku menggunakan air got.
Nampak ibu tersebut bertanya langsung pada sang anak terkait kondisinya saat itu yang cukup menyedihkan layaknya korban penculikan yang sedang disekap. “kenapa kamu hanya diam di gituin, emang siapa yang melakukan ini? Teman kamu? Teman kamu juga yang beginiin”. Lantas sang ibu kembali mempertanyakan air yang di siramkan padanya untuk memastikan apakah air got atau bukan. Korban pun menjawab ia di siram menggunakan air got. Setelah mendengar penjelasan korban ibu itupun melepaskan ikatan korban di pohon itu, lalu ibu itu menyuruh korban untuk Kembali kerumah buat membersihkan diri nya dari siraman air got itu.
Sebelum pulang kerumah korban tersebut merasa sangat kasihan dan menangis saat pulang. Saat sampai dirumah korban itu pun terdiam dan orang tua korban menanyakan kenapa pada korban itu? Korban pun memberitahukan yang sebenarnya. Setelah itu korban pun masuk kedalam kamar dan duduk terdiam sambil menangis tanpa membersihkan badannya yang sudah kotor karena tersiram air got dari pelaku.
Setelah beberapa hari melihat kondisi korban seperti itu orang tuanya pun ingin membawanya ke yang lebih ahli yaitu ke psikolog karena orang tua korban merasa takut dan kasihan sama kondisi korban yang terus terdiam di dalam kamar. Setelah diajak ke psikolog korban marah dan tidak mau pergi karena korban merasa sangat takut dan trauma untuk keluar rumah. Sang orang tua korban merasa bingung dengan korban yang tidak ingin keluar rumah, orang tua korban langsung mencari cara agar trauma korban bisa di obati. Orang tua korban pun memanggil ahli psikolog untuk datang kerumah korban. Setelah melihat ada tamu, korban pun lebih takut untuk bertemu orang dan mengunci diri di dalam kamarnya. Kemudian psikolog pun mencoba mengajak korban untuk bisa bertemu dengannya dan berbicara apa yang sedang terjadi sebenarnya dan apa yang sedang di rasakan oleh korban. Beberapa jam korban masih belum mau bertemu dengan siapa-siapa.
Beberapa hari kemudian korban sudah merasa tenang dan mencoba untuk keluar kamar, tetapi ia masih berfikir untuk tidak bertemu dengan orang-orang diluar rumah karena masih merasa trauma dengan kejadian yang terjadi beberapa hari lalu. Setelah melihat korban keluar kamar, orang tua korban menghampiri korban dan menyuruhnya makan tetapi korban masih belum mau untuk makan apapun karena korban masih kepikiran tentang kejadian tersebut. Orang tua korban mencoba untuk menenangkan korban dan merayunya untuk makan makanan yang sudah diberika. Setelah ditenangkan korban pun mau untuk makan makanan dan mulai sedikit demi sedikit berbicara. Setelah itu orang tua korban memberikan obat yang diberikan dari ahli psikolog untuk korban, obat tersebut adalah obat yang diracik dari ahli farmasi untuk menenangkan korban agar tidak terpikir dan menenangkan korban agar bisan menjadi tenang. Farmasi juga memberikan obat vitamin dan penambah darah untuk korban agar daya imun korban menjadi lebih baik dan korban tidak menjadi lebih lemas. Orang tua bertanya lagi apakah korban masih mau untuk pergi berobat kepada psikolog?
Korban pun mulai memikirkan dan korban setuju untuk berobat ke ahli psikolog. Setelah sampai, ahli psikolog pun bertanya… apakah korban sudah agak membaik atau masih dan ahli psikolog pun bertanya bagaimana keadaan korban setelah meminum obat yang sudah diracil oleh ahli Farmasi. Korban menjawab badannya merasa lebih baik dan terasa enak, tetapi korban masih sedikit terpikir tentang apa yang terjadi beberapa hari yang lalu. Ahli psikolog pun merasa sangat senang ia bisa berkontribusi dengan ahli Farmasi untuk membuat sang korban merasa lebih baik, ahli psikolog pun menyuruh korban untuk memberi jarak untuk meminum obat yang diberikan ahli Farmasi agar tidak terlalu kecanduan terhadap obat yang diberikan. Orang tua korban pun merasa sangat senang melihat korban sudah mulai bisa berbicara dengan orang lagi.
Farmasi bisa berkontribusi disini, karena pada saat korban merasa trauma itu dia bisa konsultasi kepada ahli psikolog dan di ajukan untuk menontrolkan diri untuk bisa diberikan obat racikan yang sesuai dengan trauma yang dirasakan. Korban juga bisa diberikan obat vitamin dan penambah darah karena korban jika merasa trauma ia akan menguras tenaga yang ada dalam tubuh korban. Makanya bisa dibilang bahwa Farmasi bisa berkontribusi dalam korban bullying ini. Selain Farmasi yang bisa berkontribusi disini yang lebih harus disadarkan yaitu kesadaran dari diri sendiri, diri sendiri harus bisa saling menghargai dan menghormati sesama agar bisa mencapai hidup yang damai mencegah terjadinya bullying.(MUHAMAD FIKRI RENALDI, NIM: 202310410311187, kelas: FARMASI E)
