International Community Services Program Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bersama PCIM–PCIA Türkiye dan Sakarya Üniversitesi dalam Penguatan Manajemen Obat dan Logistik Darurat di Tingkat Keluarga
TABLOIDMATAHATI.COM, ISTAMBUL– Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Program Studi Farmasi bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Türkiye dan Sakarya Üniversitesi sukses menyelenggarakan kegiatan International Community Services Program di Istanbul.
Kegiatan ini mengusung tema “Strengthening Health Resilience: Integrated Medication and Emergency Logistics Management.”

Acara ini menjadi bagian dari pengabdian masyarakat berskala internasional yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan obat dan kesiapsiagaan dalam kondisi darurat, khususnya di tingkat keluarga.
Kegiatan menghadirkan sejumlah akademisi dan mahasiswa dari Indonesia dan Türkiye, di antaranya Dr. Aam Slamet Rusydiana (Sakarya Üniversitesi), Sedangkan tim dari UMY terdiri dari Dr. apt. Salmah Orbayinah, Dr. apt. M. Thesa Ghozali, apt. Indra Putra Taufani, Ph.D, Dr. apt. Pinasti Utami, Dr. apt. Ingenida Hadning dan apt. Puguh Novi A, Ph.D. Turut berpartisipasi pula perwakilan dari organisasi Yedi hilal, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Türkiye serta komunitas lokal.
Ketua panitia, Maftuh Ikhsan Nanda Kurniawan, S.Pd sekaligus sekretaris PCIM Türkiye, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk memberikan edukasi praktis kepada masyarakat, terutama dalam menghadapi situasi darurat yang membutuhkan kesiapan logistik kesehatan di rumah tangga. “Ketahanan kesehatan keluarga adalah fondasi utama dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk bencana. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan keterampilan nyata yang bisa langsung diterapkan,” ujarnya.

Sekretaris PCIA Türkiye, Neysa Rasionalis El Rahma, menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata komitmen Aisyiyah dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat, khususnya perempuan, dalam menjaga kesehatan keluarga. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga perlu dimiliki oleh setiap individu di tingkat rumah tangga. “Melalui kegiatan ini, kami berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk bertindak secara tepat dalam situasi darurat. Peran perempuan sebagai pilar keluarga sangat strategis dalam memastikan kesiapan kesehatan di lingkungan terdekat,” ungkapnya.
Kegiatan ini diawali dengan materi pembuka untuk memperluas wawasan peserta. Materi pembuka, edukasi peluang studi lanjut (S2/S3) di Turki bagi mahasiswa Indonesia, dengan penekanan pada sistem wakaf (endowment) sebagai penopang kualitas pendidikan dan kesehatan, serta peluang kolaborasi riset internasional dan keterlibatan dalam kebijakan publik dan inovasi kesehatan.
Sebagai tindak lanjut yang lebih aplikatif dan sesuai dengan fokus kegiatan, peserta kemudian mengikuti materi inti, yaitu:
- Materi pertama :Edukasi “7-Hour Golden Rule”, yaitu konsep penting dalam penanganan awal kondisi darurat berbasis keluarga sedangkan
- Materi kedua : Pelatihan penyimpanan dan penggunaan obat yang aman, terutama dalam situasi bencana.
Konsultasi kesehatan, yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi langsung dengan tenaga ahli.
Peserta mengikuti seluruh rangkaian acara sampai selesai. Suasana berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan praktik langsung.
Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model pengabdian masyarakat internasional yang berkelanjutan serta memperkuat jejaring kolaborasi antara institusi pendidikan dan organisasi masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan global. (neysa/rilis pcia turki)
