Upaya-Tantangan Meningkatkan Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar: Langkah Menuju Generasi Melek Angka dan Kata
Oleh: A.F. Suryaning Ati MZ, M.Pd, Mahasiswa S3 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya
LITERASI dan numerasi adalah fondasi penting dalam pendidikan dasar, yang melibatkan kemampuan membaca, menulis, dan memahami konsep matematika dasar. Kemampuan ini tidak hanya menjadi dasar dalam proses belajar, tetapi juga berperan penting dalam kehidupan sehari-hari siswa. Pada tahun 2020, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) telah memperkuat upaya untuk meningkatkan literasi dan numerasi melalui kebijakan dan program yang mengutamakan keterampilan ini di sekolah dasar. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam memastikan keterampilan tersebut merata di seluruh wilayah Indonesia.
Menurut data Asesmen Nasional (AN) tahun 2022, 34,5% siswa SD kelas 4 memiliki tingkat kemampuan literasi yang rendah, sementara 38% siswa berada di tingkat numerasi dasar. Ini menunjukkan bahwa banyak siswa yang masih memiliki keterbatasan dalam memahami dan menggunakan keterampilan dasar yang seharusnya telah mereka kuasai pada usia sekolah dasar. Selain itu, peringkat Indonesia dalam Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2018 juga menunjukkan posisi rendah dalam kemampuan literasi dan numerasi, yakni berada di peringkat 74 dari 79 negara.Dalam menghadapi tantangan tersebut, Kemendikbudristek menerapkan berbagai program dan kebijakan untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa, dengan beberapa upaya utama sebagai berikut:
Implementasi Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka yang diterapkan sejak 2021 bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dasar siswa dalam membaca, menulis, dan berhitung. Kurikulum ini memberi kebebasan kepada sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan siswa dan situasi sekolah. Di beberapa Sekolah Penggerak yang menerapkan Kurikulum Merdeka, sebanyak 60% siswa menunjukkan peningkatan dalam pemahaman membaca dan hitungan dasar. Program ini juga didukung dengan pelatihan intensif bagi guru agar dapat memberikan pembelajaran yang lebih efektif dan relevan.
Pelatihan Guru melalui Program Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak
Pelatihan guru menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan literasi dan numerasi siswa. Guru dilatih untuk menggunakan metode kontekstual, di mana konsep literasi dan numerasi diajarkan melalui kegiatan sehari-hari yang relevan bagi siswa. Misalnya, di sekolah-sekolah di Jakarta yang mengikuti program Guru Penggerak, sebanyak 70% siswa mengalami peningkatan minat belajar setelah guru mengaitkan pelajaran matematika dengan kegiatan praktis, seperti menghitung uang atau mengukur bahan dalam memasak. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi persepsi siswa bahwa matematika dan bahasa hanya tentang hafalan dan rumus.
Penggunaan Teknologi untuk Mendukung Pembelajaran
Dengan kemajuan teknologi, Kemendikbudristek meluncurkan berbagai aplikasi pendidikan, seperti Rumah Belajar dan AKSI (Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia), yang memungkinkan siswa belajar membaca, menulis, dan berhitung melalui media interaktif. Hasil survei menunjukkan bahwa 80% siswa yang menggunakan aplikasi literasi dan numerasi memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap materi pelajaran. Ini sangat membantu terutama di daerah perkotaan, meskipun tantangan akses internet masih menjadi kendala di beberapa wilayah terpencil.Meski berbagai upaya telah dilakukan, masih banyak tantangan yang menghambat peningkatan literasi dan numerasi di sekolah dasar. Beberapa tantangan utama meliputi:
Kesenjangan Akses Pendidikan
Perbedaan akses terhadap fasilitas pendidikan antara daerah perkotaan dan daerah terpencil masih menjadi kendala. Di beberapa wilayah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), guru masih menghadapi keterbatasan dalam pelatihan dan sumber daya belajar. Hanya sekitar 40% sekolah dasar di daerah 3T yang memiliki akses ke pelatihan guru secara rutin, dibandingkan dengan lebih dari 70% di perkotaan.
Kurangnya Sarana dan Prasarana yang Mendukung Literasi dan Numerasi
Kurangnya buku bacaan dan alat bantu belajar menjadi kendala yang dihadapi oleh banyak sekolah dasar. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2022 menunjukkan bahwa hanya sekitar 65% sekolah dasar di Indonesia yang memiliki perpustakaan, sementara di daerah terpencil, siswa masih kesulitan mendapatkan bahan bacaan dan sumber belajar numerasi yang memadai.
Kesulitan dalam Pemahaman Konsep Abstrak
Banyak siswa sekolah dasar yang mengalami kesulitan dalam memahami konsep abstrak dalam matematika, seperti pecahan atau pengukuran. Hal ini dapat menghambat perkembangan kemampuan numerasi, terutama pada siswa kelas 4 ke atas. Survei Kemendikbudristek menemukan bahwa 42% siswa SD kelas 4 masih kesulitan mengerjakan soal matematika yang melibatkan konsep abstrak.
Meskipun masih ada banyak tantangan, langkah-langkah yang telah dilakukan mulai menunjukkan hasil positif, terutama di sekolah-sekolah yang aktif mengadopsi metode pembelajaran kontekstual dan teknologi. Dengan terus mengembangkan pelatihan guru, memperluas jangkauan Kurikulum Merdeka, dan meningkatkan akses teknologi di seluruh wilayah, diharapkan siswa sekolah dasar di Indonesia akan memiliki keterampilan literasi dan numerasi yang lebih kuat.
Kemendikbudristek berkomitmen untuk terus mendukung berbagai program pendidikan guna memastikan bahwa seluruh siswa di Indonesia, terlepas dari latar belakang atau lokasi, memiliki kesempatan yang setara untuk mengembangkan kemampuan dasar mereka dalam literasi dan numerasi. Dengan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat, diharapkan generasi muda Indonesia akan tumbuh sebagai generasi literat yang berbudi pekerti baik sehingga siap menghadapi tantangan global di masa depan., siap menghadapi tantangan global di masa depan. (Tulisan ini terinspirasi dari perkuliahan di Prodi S3 Pendidikan Dasar FIP UNESA, https://s3pendidikandasar.fip.unesa.ac.id/ sebagai institusi jenjang S3 yang saya tempuh pada mata kuliah Problematika Pendidikan Dasar)
