Penggunaan Antipsikotik pada Pasien Skizofrenia
Penulis: Nabila Adelia Ramadhani, mahasiswa jurusan Farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Psikosis merupakan gangguan kejiwaan berupa penyimpangan sikap, pikiran, dan perilaku seseorang. Gangguan jiwa ditandai dengan terganggunya kemampuan menilai secara realistis yang buruk. Gejalanya antara lain berupa halusinasi, gangguan proses berpikir, kemampuan berpikir yang menurun, serta tingkah laku aneh seperti agresifitas atau katatonik. Gangguan jiwa berat dikenal dengan sebutan psikosis dan salah satu contoh dari psikosis adalah skizofrenia.
Skizofrenia adalah salah satu yang paling kompleks dan menantang dari penyakit gangguan jiwa. Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan keadaan psikopatologis yang sangat mengganggu, melibatkan proses berpikir, emosi persepsi, dan tingkah laku. Pada bulan januari 2021 sampai juni 2021, di rumah sakit jiwa lebih banyak ditemukan angka kejadian skizofrenia pada laki-laki yang lebih tinggi dari pada perempuan. Laki-laki mempunyai serangan sizofrenia lebih awal daripada perempuan. Prognosis dan perjalanan penyakit pada laki-laki lebih buruk dibandingkan pada penderita perempuan sehingga lebih cepat terlihat.

Pada dasarnya laki-laki cenderung lebih sulit untuk mengontrol emosi, berbeda dengan perempuan. Hal ini dapat disebabkan adanya efek neuroprotektif dari hormon perempuan dan kecendrungan yang lebih besar mendapatkan trauma kepala pada laki-laki. Hormon pada perempuan yang berperan sebagai neuroprotektif/pelindung neuron adalah estrogen. Gejala psikotik cenderung timbul pada masa remaja yang umumnya terkait masalah-masalah sosial, sehingga dengan adanya estrogen pada perempuan dapat menunda serangan prepsikotik.
Berdasarkan usia pasien yang menderita skizofrenia menunjukkan bahwa pasien skizofrenia dengan rentang usia 18-40 tahun merupakan yang paling banyak menderita skizofrenia yaitu sebanyak 61 pasien (75,5%). Masa dewasa awal adalah masa yang dimulai pada umur 18 tahun sampai umur 40 tahun (Hurlock, 2001). Orang dewasa awal termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik, transisi secara intelektual, serta transisi peransosial. Masa ini disebut juga dengan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan. Secara psikologis pada usia ini tidak sedikit di antara mereka yang kurang mampu mencapai kematangan. Hal ini disebabkan banyaknya masalah yang dihadapi dan tidak mampu untuk mengatasinya. Dalam menghadapi masalah tersebut mereka ragu untuk meminta pertolongan dan nasehat orang lain karena enggan dianggap “belum dewasa”, sehingga dapat menyebabkan stres (Savioli, 2009).
Pada status perkawinan yang paling banyak menderita skizofrenia adalah pasien dengan status perkawinan belum kawin sebanyak 46 pasien (56,8%). Gangguan skizofrenia biasanya muncul pada masa remaja atau ketika belum menikah, sehingga pasien perlu pengobatan dalam jangka waktu lama karena skizofrenia bersifat kronis sehingga kemampuan membangun relasi dengan baik (misalnya untuk menikah) cendrung terganggu (David, 2004). Berdasarkan tingkat pendidikan pasien yang paling banyak menderita skizofrenia adalah tamatan SD sebanyak 31 pasien (38,3%). Pengetahuan yang tinggi akan memudahkan hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang gaya hidup sehat (Notoatmodjo, 2007). Hasil yang sama ditunjukkan juga oleh penelitian yang dilakukan oleh Farul, dkk (2014) di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah menunjukkan bahwa pasien dengan pendidikan SD yang paling banyak menderita skizofrenia yakni sebesar 28,4%.
Salah satu upaya penanganan skizofrenia dengan menggunakan pengobatan antipsikotik. Antipsikotik merupakan terapi obat-obatan pertama yang efektif mengobati skizofrenia. Antipsikotik merupakan obat-obatan yang efektif mengobati gangguan jiwa. Pengobatan dengan obat antipsikotik diberikan hampir semua episode psikis akut pada pasien dengan skizofrenia. Penggolongan antipsikotik ada dua, yaitu: antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal. Jumlah penggunaan golongan Tipikal – Atipikal lebih besar.
Penggunaan dua atau lebih obat pada waktu bersamaan dapat saling mempengaruhi kerja masing-masing obat. Penggunaan kombinasi obat antipsikotik dengan berbagai macam obat merupakan salah satu pertimbangan dokter untuk mencegah gejala psikosis. Penggunaan antipsikotik kombinasi paling banyak dipergunakan adalah kombinasi obat dengan dua regimen yaitu kombinasi obat tipikal dan atipikal. Pemilihan kombinasi antipsikotik pada pasien skizofrenia selain dilihat dari fase pengobatan juga ditentukan oleh keamanan obat secara efektif. Hal ini sesuai dengan algoritma terapi skizofrenia di mana terapi utama pada pasien skizofrenia menggunakan antipsikotik golongan atipikal secara tunggal atau kombinasi sesuai dengan tingkat keparahan pasien.
Perbedaannya terletak pada pengaruh efek samping yang timbul. Ketepeatan penggunaan antibiotik sangat penting untuk mempertahankan terapi pengobatan dan dapat mempengaruhi kesediaan pasien untuk menerima dan melanjutkan pengobatan farmakologis. Pemberian obat antipsikotik pada pasien skizofrenia menunjukkan gejala yang tenang dan tidak mengamuk, terapi yang diberikan berupa antipsikotik atipikal yang bertujuan untuk memberikan keseimbangan dopamine dan serotine. Sedangkat untuk pasien yang menunjukkan gejala aktif dan mengamuk, diberikan antipsikotok tipikal seperti haloperidol. Pemberian antipsikotik tipikal dapat menimbulkan efek samping ekstrapiramidal seperti tremor, kaku otot, sekresi liur berlebihan, serta kaku pada daerah leher dan kepala. Untuk menangani efek samping tersebut, maka pasien diberikan antikolinergik diphenhidramin.
Berdasarkan hasil pendataan rekam medik pasien, golongan antipsikotik atipikal dan kombinasi atipikal atipikal adalah yang paling banyak digunakan. Antipsikotik atipikal lebih menguntungkan daripada tipikal yaitu antara lain karena atipikal mempunyai efek samping yang rendah, efek untuk mengatasi gejala baik positif maupun negatif, terdapat hubungan kuat antara sistem dopaminergik dan serotonergik. Serotonin memodulasi fungsi dopamine saat ini lebih banyak digunakan sebagai pilihan, karena relatif lebih aman (Kirkpatrick, et al., 2005 and Addington, 2005).
Terapi kombinasi, antipsikotik tipikal masih digunakan karena mempunyai peranan cepat dalam penurunan gejala positif seperti halusinasi dan delusi, tetapi juga menyebabkan kekambuhan. setelah penghentian pemberian antipsikotik tipikal. Adanya ketidakberhasilan pengobatan skizofrenia dengan terapi tunggal tipikal, menyebabkan munculya pemberian antipsikotik kombinasi (Addington, 2005 dan Lehman, 2004). Sedangkan terapi kombinasi yang paling banyak digunakan adalah Risperidon- Clozapin sebanyak 147 penderita (72%). Berdasarkan kategori pengobatan dapat dilihat bahwa pengobatan dengan antipsikotik atipikal lebih banyak digunakan dari pada antipsikotik tipikal dan kombinasi atipikal-tipikal. (Nabila Adelia Ramadhani, mahasiswa NIM:202310410311205,kelas: Farmasi E)
