Kandungan Kafein Pada Kopi Secara Berlebihan Yang Menimbulkan Efek Toxic Bagi Tubuh
Penulis : Renata, mahasiswa jurusan farmasi,FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Kafein merupakan suatu senyawa golongan alkaloid xantin dan dipercaya oleh sebagian besar orang untuk melawan rasa kantuk. Zat ini dapat ditemukan pada berbagai tumbuhan ataupun buah-buahan, minuman energi, coklat, kopi, dan teh. jumlah kafein yang disarankan dan dalam batas aman untuk dikonsumsi adalah sebanyak 300 mg per hari. Ini setara dengan lima gelas the dan lima gelas kopi instan. Walaupun pada beberapa penelitian dikatakan konsumsi kafein 1000 mg sehari masih aman, alangkah baiknya dibatasi hanya sebanyak 300 mg per hari mengingat tingkat penerimaan kafein pada tubuh berbeda-beda pada tiap individu. Mengonsumsi kafein dalam jumlah besar dan frekuensi berlebih dapat menyebabkan tubuh mengalami semacam ketagihan atau kecanduan.
Faktor ketertarikan kopi kian meningkat dikalangan para remaja, khususnya mahasiswa. Apalagi kopi adalah minuman yang sering menjadi teman di banyak suasana. Sayangnya, jika konsumsi kopi secara berlebihan akan memberi efek tertentu pada tubuh. Tidak menutup kemungkinan bagi mahasiswa jurusan kesehatan, bahwa kopi sangat membantu kita untuk selalu terjaga mengerjakan tugas kuliah yang mengharuskan kita menuntaskannya dalam waktu yang telah ditentukan. Di antara kebaikan yang ada pada kopi, seharusnya kita menjadi bijak menikmati tiap teguk cangkir kopi kita. Tidak perlu berlebihan ketika minum kopi, cukuplah untuk memenuhi kebutuhanmu akan kopi.
Minum kopi identik dengan meningkatnya asam lambung, terutama bagi penderita maag dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Kandungan kafein yang terdapat pada kopi akan menimbulkan efek toxic bagi tubuh, terutama pada tubuh yang sensitif terhadap kafein. Hal yang kerap terjadi pada mahasiswa adalah telat makan atau pola makan tidak teratur sebagaimana mestinya. Di pagi hari pasti sarapan adalah hal yang sering dikesampingkan dan inilah awal pemicu maag itu akan kambuh. Pada intinya, utamakan sarapan daripada mengonsumsi kafein di pagi hari jika tidak mau tubuh kalian mengalami gangguan penceraan yang kurang baik.

Makanan sangat penting bagi tubuh. Tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi berupa karbohidrat, lemak, protein dan senyawa-senyawa gizi penting lainnya. Asupan makanan ini harus didukung dengan pengaturan pola makan yang sesuai. Pola makan yang teratur sangat penting bagi kesehatan tubuh kita, sedangkan pola makan yang tidak teratur dapat menyebabkan gangguan di sistem pencernaan. Permasalahan dalam sistem pencernaan tidak boleh dibiarkan. Ada berbagai gangguan sistem pencernaan atau penyakit yang mungkin terjadi dan sering dibiarkan oleh banyak orang, salah satunya adalah penyakit gastritis atau biasa kita sebut penyakit maag.
Terjadinya gastritis dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur yang mencakup frekuensi makan, jenis dan jumlah makanan. Pola makan yang baik mencegah terjadinya gastritis. Penyimpangan kebiasaan, cara, serta konsumsi jenis makanan yang tidak sehat dapat menyebabkan gastritis. Pada kasus gastritis akut, faktor penyimpangan makan merupakan titik awal yang memengaruhi terjadinya perubahan pada dinding lambung. Peningkatan produksi cairan lambung dapat dirangsang oleh konsumsi makanan atau minuman. Cuka, kopi, alkohol serta makanan lain yang bersifat merangsang juga dapat mendorong timbulnya kondisi tersebut. Pada akhirnya kekuatan dinding lambung menjadi semakin parah. Tak jarang kondisi seperti itu akan menimbulkan luka pada dinding lambung
Di sinilah peran apoteker dibutuhkan untuk melakukan swamedikasi kepada pasien dan memberikan layanan yang tepat akibat terlalu sering konsumsi kafein dari kopi. Melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi merupakan salah satu alternatif yang kerap dipilih oleh Masyarakat untuk mengatasi keluhan dan gejala-gejala penyakit sebelum kemudian memutuskan untuk konsul langsung ke dokter. Namun harus diingat, bahwa tidak semua penyakit boleh dibati dengan swamedikasi, karena swamedikasi dilakukan pada keluha dan penyakit ringan. Apoteker berperan dalam konseling dan pemberian informasi obat yang objektif, rasional dan relavan. Disesuaikan dengan kondisi dan keluhan pasien sehingga terjamin penggunaan obat yang aman dan berefikasi. Apoteker juga berperan dalam mencegah kesalahan dalam pengobatan. Saat konseling terkait swamedikasi oleh masyarakat, setidaknya apoteker harus mempertimbangkan ketepatan penetuan indikasi atau penyakit, ketepatan pemilihan obat, dan ketepatan dosis obat dan cara penggunaannya.
Peranan apoteker pada swamedikasi sangat penting untuk mendukung pasien menggunakan obat yang tepat dengan cara yang tepat sesuai dengan kondisi atau keluhan pasien. Sehingga menjamin obat tetap aman, berkualitas dan berefek saat digunakan. Informasi yang perlu disampaikan oleh apoteker kepada pasien saat melakukan swamedikasi, antara lain :
- Indikasi dan khasiat obat. Sampaikan khasiat obat sesuai dengan indikasi pasien
- Kontraindikasi (hal yang menyebabkan pasien tidak boleh menggunakan obat tersebut)
- Efek samping obat dan cara menanganinya
- Cara pakai obat
- Dosis (jumlah atau takaran tertentu dar obat yang dibutuhkan untuk mencapai efek terapi)
- Lama pemakaian, jelaskan berapa lama obat ini harus digunakan, dan kapan perlu konsultasi ke dokter
- Hal yang harus diperhatikan ketika menggunakan obat, misal diminum ketika perut kosong
- Cara penyimpanan obat
Apoteker berperan untuk menyediakan obat-obatan yang dapat digunakan untuk swamedikasi yaitu:
- Golongan non resep yaitu obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter, aman, dan efektif jika digunakan sesuai petunjuk. Meliputi obat bebas (simbol lingkaran hijau, obat aman dijual bebas) dan obat bebas terbatas (simbol lingkaran biru, dijual bebas tetapi disertai peringatan)
- Golongan obat wajib apotek (OWA), yaitu beberapa obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter. Namun harus diserahkan oleh apoteker di apotek. Pemilihan dan penggunaan obat OWA harus dengan bimbingan apoteker. Daftar obat wajib apotek yang dikeluarkan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan.
Tingginya angka kejadian gastritis akibat pola makan yang tidak teratur dan tidak sesuai, maka sebagai apoteker hendaknya menjelaskan tentang bagaimana jumlah makan, frekuensi makan, jenis makanan yang baik dan tepat bagi penderita gastritis agar pasien dapat merubah perilaku pola makannya menjadi teratur sehingga tidak terjadi kekambuhan pada penderita gastritis dan penyakit gastritisnya tidak semakin parah. (Renata, mahasiswa jurusan farmasi,FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang,NIM: 202310410311215, Kelas: Farmasi E)
