Toleransi Dalam Lingkaran Kebhinekaan
Penulis: Shamita Shemi Nulhakim, mahasiswaProgram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Indonesia merupakan negara yang mempunyai budaya, agama, ras, dan suku bangsa yang beragam. Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau dan 700 bahasa, mempunyai warisan budaya, bahasa, dan tradisi yang beragam. Setiap daerah dan kelompot etnis mempunyai kekhasan atau ciri khas sendiri yang membentuk kolase budaya yang menarik. Indonesia dengan ragam agama mulai dari Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu menjadi salah satu negara yang terkenal akan adanya keberagaman.
Perbedaan yang ada di Indonesia agar tidak terjadi konflik diperlukan sebuah landasan agar terciptanya kerukunan. Kerukunan di Indonesia sangat diperlukan mengingat Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak suku, agama, atau budaya. Kerukunan dapat menjadi salah satu kekuatan bangsa kita ini untuk mencapai sebuah kesejahteraan hidup bersama. Setiap daerah pasti mempunyao aturan yang berbeda-beda. Namun, perbedaan ini dapat diatasi oleh landasan negara.
Perbedaan merupakan suatu kodrat manusia sebagai salah satu makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Perbedaan ini dipersatukan serta disintesisikan dalam suatu sintesis yang positif. Saling menghormati terhadap sesama warga negara merupakan salah satu esensi dari nilai-nilai toleransi. Toleransi tidak hanya terbatas pada sesama kelompok atau sesama agama melainkan juga dengan orang yang mempunyai latar belakang berbeda dengan kita.
Indonesia mempunyai sebuah landasan yang menjadi solusi untuk mengatasi perbedaan tersebut dalam persatuan. Landasan tersebut berupa Pancasila yang terdiri dari lima sila dimana setiap sila tersebut menggambarkan persatuan dan kesatuan. Selain Pancasila, ada salah satu landasan penting dalam menjalankan kehidupan berbangsa. Landasan tersebut adalah Kebhinekaan. Bhinneka Tunggal Ika mempunyai arti berbeda-beda tetap satu jua yang menjadi semboyan bangsa Indonesia dan tertulis dalam lambang Garuda Pancasila.
Konsep Bhinneka Tunggal Ika sendiri diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular, yang hidup pada masa Kerajaan majapahit di sekitar abad ke-14 M. Para tokoh bangsa ini membuat sebuah semboyan yang menjadi solusi untuk mengatasi keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman ini kemudian menjadi sebuah realitas yang harus dihadapi. Ke-Bhinnekaan menjadi sebuah hakikat yang nyatanya sudah ada dalam bangsa. Sedangkan ke-Tunggal-Ika-an merupakan cita-cita dari bangsa Indonesia. Ke-Bhinekaan adalah aset bangsa Indonesia karena bangsa ini sangat berpontensi besar untuk mempunyai perspektif yang kaya dalam melihat berbagai persoalan.
Kesadaran akan kemajemukan telah disadari oleh para tokoh bangsa ini sebelum kemerdekaan dengan adanya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Namun, banyak sekali orang mengatakan bahwa persoalan atau permasalahan yang disebabkan oleh perbedaan ini sudah selesai, padahal kebhinekaan itu sendiri selalu berubah dan dinamis. Banyak masyarakat masih hidup dengan terkotak-kotak atau terpisah-pisah. Beberapa orang bergaul dengan mereka yang seagama saja dan sebagian lagi merasa enggan hidup dengan orang yang beasal dari etnis tertentu.
Perkembangan teknologi dan komunikasi kini membuat bangsa Indonesia mengalami tantangan dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Sasaran yang paling utama yaitu ketahana ekonomi, pertahanan dan keamanan, budaya, ideologi, dan politik. Dalam rangka membentengi diri, maka masyarakat Indonesia harus kembali kepada nilai-niali Pancasila. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila adalah semangat bersatu, menghormati perbedaan, rela berkorban, pantang menyerah, gotong royong, patriotisme, nasionalisme, optimisme, harga diri, kebersamaan, dan percaya pada diri sendiri.
Bhineka Tunggal Ika tidak bisa hanya dianggap sebagai semboyan, melainkan harus dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pemantapan nilai-nilai kebangsaan yang terkandung dalam Bhinneka Tunggal Ika sebagai ajaran moral dalam sikap toleransi, adil dan bergotong royong. Contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai berikut:
- Tidak melakukan tindakan diskriminasi terhadap siapapun
- Berlaku adil terhadap siapapun baik di lingkungan rumah, sekolah atau masyarakat
- Saling menghormati walaupun berbeda agama, suku, ras, dan budaya
- Tidak menghina atau merendahkan orang lain
Empat poin di atas dapat menjadi tindakan yang diterapkan oleh masyarakat Indonesia terlebih mendekati tahun politik yang rentan terjadinya perpecahan. Sebagai warga Indonesia yang baik sudah selayaknya kita mendalami dan memahami kembali arti dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mengingat sejarah dan menerapkan kehidupan lebih baik untuk memajukan bangsa. (*)
