Resistensi Antibiotik Yang Terjadi Pada Pasien
Penulis:Anjelli Oktaviana Putri, mahasiswa prodi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Antibiotik adalah obat untuk mencegah dan mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik merupakan obat yang mengandung golongan senyawa, baik alami maupun buatan. Asal mula kata antibiotik adalah dari Bahasa Yunani, yaitu anti yang artinya melawan dan bias yang artinya kehidupan. Dalam hal ini berarti melawan gakteri yang hidup. Sebelum adanya antibiotik (pre-antibiotic era) penyakit akibat infeksi bakteri seringkali dapat mengakibatkan kematian. Infeksi kulit yang tergolong ringan bisa memberat dan berakhir dengan kematian karena belum ditemukan obat yang dapat mengatasi infeksi tersebut. Penemuan antibiotic pertama yaitu penisilin oleh Alexander Fleming pada tahun 1928 yang merupakan sebuah momentum besar dalam dunia kesdokteran.Penyakit akibat infeksi bakteri dapat diatasi dengan mudah setelah ditemukannya antibiotik.
Antibiotik diberikan kepada pasien yang berisiko tinggi atau sedang mengalami infeksi dengan sebagaimana anjuran dari dokter. Dapat dikatakan untuk memperoleh antibiotik harus memiliki resep dari dokter. Namun masih ditemukan perilaku yang salah dalam penggunaan antibiotik ini. Sehingga penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik adalah kondisi dimana bakteri, virus, jamus, dan parasit tidak mampu dimatikan atau dihambat pertumbuhannya oleh antibiotik atau bisa dikatakan kebal. Bakteri yang sudah kebal terhadap antibiotik dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain. Selain itu kekebalan yang dimiliki oleh satu bakteri dapat ditularkan ke bakteri yang lain.
Terjadinya resistensi antibiotik ini dipercepat oleh adanya penyalahgunaan dan penggunaan antibiotik yang berlebihan. Selain itu kurangnya kepatuhan pasien yang mengabaikan pesan dari dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya untuk menghabiskan atau menyelesaikan treatment antibiotik ini. Penyebab dari ketidakpatuhan ini dapat terjadi karena terlalu banyaknya jenis dan jumlah obat yang diberikan, rentang waktu pengobatan yang panjang, dan pasien yang tidak mendapat informasi atau penjelasan yang cukup mengenai cara penggunaan obat yang benar.
Resistensi antibiotik dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu :
- Penggunaan yang tidak diperlukan
Ketika antibiotik digunakan untuk infeksi yang tidak disebabkan oleh bakteri. - Konsumsi antibiotik secara berlebihan
Kosumsi antibiotik yang berlebih dapat meningkatkan risiko terjadiya resistensi antibiotik. Penting untuk diketahui jika konsumsi antibiotik sebaiknya dilakukan saat kita benar-benar-benar membutuhkannya. - Mutasi bakteri
Beberapa pengobatan yang diperoleh dapat membuat bakteri kebal terhadap antibiotik. Jika kita mengobati populasi bakteri dengan antibiotik spesifik tersebut, hanya bakteri resisten yang berkembang biak. Ketika bakteri yang resisten berkembang biak dan menyebar, dapat menggantikan bakteri yang tidak resisten.
- Ketergantungan antibiotik
Ketergantungan antibiotik biasanya terjadi karena terlalu sering mengonsumsi antibiotik saat merasa sakit. - Kurang berkembangnya antibiotik
Kurangnya pengembangan antibiotik baru membuat kita bergantung pada antibiotic yang sudah ada, dan beberapa bakteri telah mengembangkan resistensi terhadap antibiotik. - Tidak menjaga kebersihan
Menjaga kebersihan tubuh sangatlah penting dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit. Menjaga kebersihan juga menjadi salah satu upaya untuk mencegah bakteri resisten berkembang.
Selain hal-hal yang sudah disebutkan, resistensi antibiotik juga dapat disebabkan karena pasien tidak menuntaskan pengobatan, fasilitas kesehatan yang kurang mengontrol penyebaran infeksi. Sebaiknya kita perlu memperhatikan beberapa penyebab tersebut untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik.
Dalam penggunaannya antibiotik dapat menyebabkan beberapa reaksi tertentu. Reaksi yang timbul biasanya seperti reaksi alergi, gatal-gatal, dan juga kulit merah. Hal tersebut dapat terjadi apabila ada kesalahan dalam penggunaannya. Oleh karena itu antibiotik harus dengan ajuran dokter. Untuk penggunaan antibiotik juga tidak boleh diulang tanpa resep dokter, meskipun gejala penyakit yang diderita pasien sama.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan di masyarakat untuk dapat mengurangi dampak dan membatasi penyebaran resistensi antibiotik :
- Menggunakan antibiotik jika hanya diresepkan oleh dokter saja.
- Mengikuti saran dari tenaga kesehatan untuk penggunaannya.
- Tidak pernah berbagi atau menggunakan antibiotik sisa.
- Mengedukasi dengan cara mengadakan sosialisasi tentang penggunaan antibiotik.
Kepatuhan penggunaan obat pada pasien yang mendapat terapi antibiotik masih tergolong rendah. Faktor yang menyebabkan pasien menjadi patuh ataupun tidak patuh adalah kurangnya komunikasi antara dokter dengan pasien, serta kurangnya pemahaman pasien tentang jenis obat, dan terkadang kurangnya komunikasi antara tenaga kefarmasian dengan pasien. Jika resistensi antibiotik ini dibiarkan begitu saja, maka penyait yang diderita pasien sulit atau bahkan tidak bisa sembuh sepenuhnya. Karena resistensi antibiotik ini sudah membuat bakteri menjadi kebal. Oleh karena itu untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan pendekatan tenaga kesehatan dengan pasien. Dengan adanya pendekatan tersebut, tenaga kesehatan dapat menyampaikan bahaya penggunaan antibiotik bila dikonsumsi bebas dan tanpa konsuktasi dokter. Selain itu kesadaran diri pasien juga diperlukan. Bila dari pasien sendiri tidak menyadari bahayanya resistensi antibiotik ini, maka tidak ada gunanya dokter dan tenaga kesehatan lainnya menjelaskan tentang bahaya resistensi antibiotik. (anjelli oktaviana putri, NIM:202310410311026, Prodi:Farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang, Email : anjellioktaviaa@gmail.com)
