Penggunaan Obat Antibiotik Yang Tidak Rasional
Penulis: Adiqta Nasywa Khailillah, mahasiswa prodi garmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Antibiotik adalah jenis obat yang secara khusus digunakan untuk melawan infeksi akibat bakteri pada tubuh manusia maupun hewan.Sedangkanresistansi antibiotik adalah penurunan kemampuan obat antibiotic untuk menyembuhkan suatu penyakit karena adanya infeksi. Peristiwa dari resistensi antibiotic dikenal dengan istilah pandemic senyap atau silent pandemic. Para pakar telah memprediksikan bahwa pada tahun 2050 ada sekitar 10 juta korban jiwa yang tewas karena adanya resistensi terhadap antibiotic pada tubuh manusia. Pada kenyataannya kasusyang banyak di Indonesia dan selaluterulang adalah penggunaan obat antibiotic yang tidak rasional hingga menjadikannya resisten terhadap obat antibiotic. Kerasionalan dalam penggunaan antibiotic sangat diperlukan dalam pengobatan untuk mencegah terjadinya resisten terhadap antibiotic. Efek samping yang ditakutkan ketika tubuh sudah mulai resisten terhadap antibiotic adalah bakteri pathogen yang menyebabkan penyakit infeksi mulai membangun kekebalan terhadap obat antibiotic yang diberikan. Kebalnya bakteri akan obat antibiotic tersebut menyebabkan sulitnya tubuh untuk melawan bakteri yang menyerang. Melihat efek samping yang sangat merugikan, perlu adanya pengetahuan umum untuk masyarakat Indonesia mengenai penggunaan antibiotic, mengingat masyarakat Indonesia yang sering kali mengonsumsi obat antibiotic setiap kali sakit apapun itu tanpa menggunakan resep atau arahan dari dokter.

Demikian juga yang telah disampaikan Menkes Prof. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K), ketika menghadiri seminar Cegah Resistensi Antibiotik, di Jakarta (5/8). Seminar yang diadakan atas kerjasama Kemenkes, Yayasan Orang Tua Peduli (YOP) dan WHO itu bertujuan untuk memberikan pemahaman bahaya Anti Microbial Resistance (AMR) pada masyarakat dan menyusun rekomendasi bersama sebagai dasar memerangi Resistensi Antimikrobia. AMR adalah kondisi dimana bakteri, jamur, parasite, dan virus tidak lagi merespon obat antibiotic yang dikonsumsi sebagai pengobatan yang telah dianjurkan oleh dokter. Mereka akan menjadi kebal terhadap obat antibotik dan akan menyebabkan pasien sulit sembuh di kemudian hari.
Kolaborasi antara kesadaran diri dari Masyarakat dan tindakan edukasi yang dilakukan pemertintah atau BPOM sangat diperlukan dalam menghadapi kasus ini. Kurang pahamnya masyarakat Indonesia mengenai penggunaan antibiotic yang rasional menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi pemerintah dan BPOM untuk mengedukasi. Baik pemerintah ataupun BPOM mempunyai tanggung jawab kepada Masyarakat untuk memberi penjelasan mengenai dasar cara kerja dari antibiotic dan dapat munculnya resistensi obat antibitik bila digunakan dengan asal atau tidak rasional. Edukasi yang dapat diberikan pemerintah ataupun BPOM bisa dilakukannya pengadaan iklan atau kampanye di TV ataupun media social lainnya yang cenderung Masyarakat luas menggunakannya. Selain itu, upaya pemerintah untuk mengedukasi Masyarakat luas juga dapat dilakukan dengan cara penyuluhan pada daerah yang terbelakang atau kurang dari segi tingkat pendidikannya, sehingga dengan dilakukannya penyuluhan tersebut masyarakat dapat memahami bahaya dari penggunaan antibitik yang secara asal.
Selain dari tindakan yang telakukan dari pemerintah untuk mengedukasi masyarakat Indonesia terhadap antibiotik dan resistennya, masyarakat juga diharapkan bisa mengedukasi diri mereka sendiri dengan tidak asal mengonsumsi asal obat ketika sakit atau ada beberapa cara yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengetahui dasar penggunaan antibotik yang baik dan benar yaitu dengan cara :
- Hindari pembelian antibiotic tanpa resep yang diperoleh dari dokter.
Pada dasarnya obat antibiotik hanya dapat dibeli dan diperoleh dengan adanya resep dokter. Namun kenyataan menunjukkan bahwa obat antibiotik seringkali dijual secara bebas di apotek dan tanpa disertai dengan adanya resep dokter. Hal ini sangat berbahaya, karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan kerugian pada diri sendiri akibat kesalahan pemilihan obat dan dosis.
- Konsumsi antibiotic hingga habis atau tuntas sesuai anjuran dari dokter.
Konsumsi antibiotik yang benar sangat dianjurkan untuk menghindari berkembangnya resistensi bakteri. Pemakaian yang benar yaitu meliputi konsumsi dalam dosis, frekuensi dan durasi yang benar sesuai dengan petunjuk pemakaian dari dokter yang menangani. Dosis antibiotik sebaiknya diminum 1-3 kali sehari sesuai apoteker dan petunjuk ini diberikan berdasarkan resep yang telah diberikan oleh dokter. Selain dosis, durasi penggunaan antibiotik bisa berbeda-beda. Beberapa jenis antibiotik perlu diminum selama tujuh atau sepuluh hari, sementara jenis antibiotik lainnya mungkin hanya memerlukan waktu beberapa hari. Perbedaan jangka waktu penggunaan ini bergantung pada jenis penyakit yang diobati, jenis antibiotik yang digunakan, dan keadaan pasien, seperti usia dan berat badan.
- Menambah pengetahuan tentang penggunaan obat antibiotic dan resiko terjadinya resistensi.
Salah satu langkah penting yang dapat diambil oleh masyarakat untuk mendukung kampanye ini adalah dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang obat antibiotik dan resistensi antibiotik. Misalnya, Anda harus memelajari bahwa antibiotik adalah obat khusus untuk menghancurkan bakteri patogen penyebab penyakit. Obat antibiotik berbeda dengan obat lain, misalnya dalam mengatasi gejala penyakit kronis atau umumnya penyakit ringan yang mengubah proses fisiologis tubuh. Jika Anda sudah memahami hal ini, Anda akan lebih berhati-hati dalam mengonsumsi antibiotik dan akan menggunakannya hanya jika dokter sudah meresepkan obat ini. Selain itu, penting untuk dipahami bahwa resistensi antibiotik adalah masalah global dan dapat berdampak buruk bagi kesehatan semua orang jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Antibiotik yang efektif diperlukan untuk semua orang, tanpa memandang status sosial dan status kesehatan.
Jadi, penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat membahayakan tubuh karena dapat menimbulkan resistensi dan dapat menimbulkan pandemi senyap bila terus dibiarkan tanpa penanganan yang tepat. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan antara Masyarakat dan pemerintah untuk kasus ini. Kerja sama antara masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan dalam menangani resisten terhadap antibiotik. Kesadaran diri dari masyarakat dan tindakan dari pemerintah untuk mengedukasi tersebut, diharapkan saling bersinergi untuk mengatasi penggunaan antibiotic yang tidak rasional di Indonesia sehingga memperkecil jumlah korban jiwa yang disebabkan oleh resisten terhadap antibotik. (adiqta nasywa khailillah, NIM: 202310410311081, kelas: Farmasi-F)
