Menyikapi Maraknya Pergaulan Bebas di Era Global
Penulis: Nova Auliah Febriani, mahasiswa prodi farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Anak merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap Orang tua. Dimana Orang Tua diberi amanah untuk mendidik, merawat serta menjaga anak yang telah diberikan dengan baik dan benar. Masa remaja adalah peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa, dimana pada masa remaja ini seorang anak harus berjuang keras untuk apa yang dicita-citakan dimasa dewasa nanti. Dalam proses tersebut tak jarang seorang remaja menemui banyak permasalahan-permasalahan yang dapat menjadikan seorang remaja berperilaku positif atau dapat juga seorang remaja menjadi berperilaku negative. Salah satu yang menjadi permasalahan di kalangan remaja dalam proses pencarian jati diri adalah bahaya pergaulan bebas. Masyarakat cenderung memikirkan kesenangan duniawi saja, tanpa memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut. Terutama anak remaja yang ingin bersenang senang tanpa batas wajarnya remaja, yang penting bisa uploud SG (story instagram) biar dikira keren ceunah. Banyak remaja zaman sekarang salah mengartikan arti pergaulan bebas yang terjadi pada sekarang mereka hanya memikir arti pergaulan bebas itu seks bebas saja, padahal merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, tawuran, mengonsumsi obat-obatan terlarang, itu juga termasuk dalam pergaulan bebas.
Remaja masa kini lebih menghadapi banyak tuntutan dan harapan, demikian juga bahaya dan godaan, tampaknya lebih kompleks masalah-masalah yang dihadapi remaja saat ini dengan
yang dihadapi remaja generasi masa yang lalu, oleh karena itu peran orang tua masih sangat dibutuhkan. Bagi remaja yang masih tinggal dengan orang tua mereka masih akan mendapat campur tangan maupun kontrol dalam setiap aktivitasnya, melalui hubungan antara orang tua dan anak dimana orang tua memiliki pengetahuan dan kewenangan yang lebih besar dan remaja sering kali harus belajar bagaimana mematuhi perintah dan peraturan yang ditetapkan orang tua. Banyak dari anak remaja saat ini sangat di himpit dengan kondisi dimana mereka mudah tergoda dengan budaya bebas, mereka mulai tercandu dengan pergaulan bebas. Karena bagi anak remaja, clubbing adalah sesuatu yang dianggap keren. Didalam clubbing terdapat asap-asap rokok, mengonsumsi obat-obat terlarang, minum-minuman beralkohol mulai dari cocktails hingga murni alkohol, hingga terjadi transaksi gelap.
Seringkali kita mendengar ungkapan “masa remaja adalah masa abu-abu, labil, emosional, dan ekspresi” remaja didefinsikan merupakan masa peralihan dari masa anak anak menuju masa dewasa. Menurut WHO batasa usia remaja adalah 12-24 tahun. Khusus pada kalangan SMA atau sederajat yang berada dalam usia 25-17 tahun. menemukan banyak anak yang terlibat pergaulan bebas diantaranya, keluarga yang broken home, tingkat pendidikan yang minim, ekonomi keluarga, faktor lingkungan. Kebanyakan anak remaja sekarang ikut-ikut teman atau tidak biasanya malu kalau tidak ikut mereka.
Sebagian besar remaja tidak memandang siapapun orang yang dapat ia jadikan sebagai teman karena pada prinsipnya yang penting mereka memiliki banyak teman dimanapun ia berada. Mereka lebih banyak berada diluar rumah dengan teman sebaya menghabiskan banyak waktu dengan teman teman sekolahnya hal tersebut secara tidak langsung dapat mempengaruhi sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku. Teman dekat lebih besar pengaruhnya dari pada keluarga jika temanya mengenakan model pakaian yang sama dengan pakaian anggota kelompok yang populer, maka kesempatan baginya untuk dapat diterima oleh kelompok menjadi lebih besar demikian pula bila anggota kelompok mencoba hal baru meski negatif, maka pelajar cenderung mengikuti tanpa memperdulikan akibatnya.
Pergaulan bebas dapat mengganggu konsentrasi dan fokus remaja dalam pendidikan mereka. Hasrat dan aktivitas seksual yang tidak terkendali dapat mengarah pada penurunan prestasi akademik, absensi sekolah, bahkan putus sekolah, menghambat masa depan mereka. Dalam pergaulan bebas, seseorang dapat dengan mudah terpapar penyakit menular seksual seperti HIV/AIDS dan yangb lain. Pergaulan bebas juga dapat menimbulkan masalah emosional dan psikologis, sehingga orang yang ada dalam lingkup pergaulan bebas mungkin merasa kosong dan tidak bahagia setelah berinteraksi dengan orang lain.
Pada masa ini peran orang tua sangat penting agar dapat mencegah anaknya dari pergaulan yang buruk. Sikap orang tua yang kurang memperhatikan anak bahkan untuk hal kecil/sepele seperti cara bergaul dan berpakaian ternyata berpengaruh terhadap perilaku pergaulan bebas. Oleh karena itu, orang tua harus meluangkan waktu untuk memperhatikan anak, serta mengontrol kegiatan mereka. Orang tua juga harus menerapkan kedisiplinan beribadah/beragama dengan cara memberi teladan yang baik. Adapun yang dapat orang tua lakukan untuk menghadapi remaja ialah melakukan pendekatan untuk bisa menjadi teman
curhat, sehingga ia tidak merasa canggung mengungkapkan pendapatnya pada suatu masalah dan mengungkapkan perasaan terhadap suatu hal. Kebanyakan orang tua sekarang suka meninggalkan anaknya bekerja jadi tidak tau perkembangan anaknya lalu mereka seolah-olah kaget kalau anaknya terjerumus dalam pergaulan bebas.
Sebagai harapan masa depan bangsa, seharusnya remaja mengetahui benar tanggung jawab dan kewajiban besar yang dibebankan di bahu mereka. Oleh karena itu, agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif yang merugikan diri sendiri maupun pihak lain, maka mahasiswa harus membentengi diri dengan cara memperdalam pengetahuan agama, yang bisa dilakukan dengan cara memperbanyak membaca buku keislaman, rajin mengikuti ceramah keagamaan, mengikuti kegiatan/organisasi keagamaan atau organisasi lain yang bermanfaat, bergaul dengan teman-teman yang baik. Dengan cara-cara tersebut dapat terhindar dari pengaruh buruk lingkungan yang akan menjerumuskan dalam perbuatan maksiat, yang merupakan pelanggaran terhadap agama maupun norma masyarakat. (Nova Auliah Febriani, Nim : 202310410311212, Farmasi E)
