Pengaruh Stres Terhadap Siklus Menstruasi Remaja
Penulis: Friska Noraida, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, friskanoraida1234@gmail.com
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan dalam hal fisik, psikologis dan intelektual. Masa remaja merupakan periode peralihan dari masa remaja ke masa dewasa, pada masa ini dimulai suatu periode pematangan organ reproduksi manusia dan sering di sebut masa pubertas. Masa ini merupakan transisi atau perubahan dari remaja menjadi dewasa.
Pubertas pada perempuan lebih cepat matang dibandingkan dengan laki-laki dalam waktu kurang lebih 3 tahun. Perkembangan seks primer pada wanita ditandai dengan menstruasi. Perkembangan skunder pada wanita meliputi pertumbuhan rambut, payudara, pinggul yang mulai melebar, peningkatan pada jaringan lemak, timbulnya jerawat, dan adanya perubahan suara (Pratiwi dan Rusiani 2020). Pubertas pada remaja putri ditandai dengan terjadinya menstruasi (Widyastuti, 2009).
Menstruasi adalah perdarahan pada uterus (rahim) karena proses pelepasan lapisan dinding rahim yang mengandung banyak pembuluh darah secara periodik dan berulang (Rosyida, 2019). Proses menstruasi diawali degenerasi pada korpus luteum yang membuat progesteron dalam darah menurun. Korpus luteum mengalami degenerasi karena tidak terjadi pembuahan pada ovum sehingga hanya dapat bertahan selama 12-14 hari sampai masa menstruasi berikutnya, selanjutnya terjadi penyusutan dan digantikan jaringan parut sehingga pada masa itu endometrium di permukaan dinding uterus mengalami peluruhan dan terjadi perdarahan.
Menstruasi yang terjadi pertama kali disebut dengan menarche. Perkembangan seks primer pada Wanita ditandai dengan menstruasi dan perkembangan skunder pada Wanita meliputi pertumbuhan rambut, payudara, pinggul yang mulai melebar, pe ningkatan pada jaringan lemak, timbulnya jerawat, dan adanya perubahan suara (Pratiwi dan Rusiani 2020). Masa menstruasi ini juga biasanya terdapat sikul, Siklus menstruasi adalah jarak antar menstruasi. Siklus menstruasi normal terjadi 22-35 hari.
Siklus menstruasi amat berdampak besar direproduksi perempuan, karena akan mempengaruhi suatu runtutan pergantian pada system reproduksi wanita, namun cukup besar wanita percaya bahwa dengan mendapati siklus menstruasi yang tidak teratur mempengaruhi kesehatan reproduksi mereka (Sinaga et al., 2017). Jarak siklus yang lebih atau kurang termasuk gangguan siklus menstruasi. Gangguan siklus menstruasi dibagi menjadi 3 yaitu polimenorea, oligomenorea, dan amenorea. If kelelahan kerja diminimalisir melalui penataan aktivitas dan sistem reward, mekanisme efisiensi pada platform seperti read more dapat dijadikan contoh penerapan model kerja yang mendukung ketahanan tubuh.
Gangguan siklus menstruasi sering terjadi pada usia remaja karena kinerja hormon yang belum stabil dan dapat disebabkan karena beberapa faktor gangguan siklus menstruasi diantaranya adalah aktivitas stres, aktivitas fisik, dan kelelahan. Siklus menstruasi di pengaruhi oleh serangkaian hormon yang di produksi oleh tubuh yaitu luteineizing hormon (LH), Follicile Stimulating Hormon (FSH), dan Estrogen.
Gangguan siklus menstruasi dapat terjadi karena adanya faktor risiko, beberapa diantaranya adalah gangguan psikologis seperti stres, tingkat aktivitas fisik, kelelahan, berat badan (diet) (Rosyida, 2019). Terdapat faktor lain yang dapat mempengaruhi sehingga siklus menstruasi dapat menjadi maju dan bisa juga menjadi mundur (Milanti et al., 2017). Faktor ini antara lain status gizi, asupan makanan, usia, dan IMT.
Keadaan stress yang ada pada individu berbeda-beda tergantung dari kondisi tubuh dan stressor individu tersebut. Beratnya tingkat aktivitas fisik memiliki hubungan kuat dengan kejadian siklus menstruasi yang tidak teratur (Gudmundsdottir, et al., 2011). Aktivitas fisik yang terlalu berat dapat terjadi kelelahan dan mempengaruhi produksi hormon. Kelelahan terjadi dapat berupa kelelahan fisik dan kelelahan mental.
Kelelahan fisik berakibat pada penuruhan kapasitas daya tahan tubuh (Cahyani, 2016) daya tahan tubuh yang menurun menyebabkan gangguan hipotalamus sehingga sekresi GnRH menjadi terganggu. Kelelahan merupakan suatu perasaan subjektif yang berbeda-beda setiap orang. Dimana semunya berujung kehilangan efisiensi, penurunan kapsitas kerja, gangguan Kesehatan dan kemampuan bertahan tubuh (Perwitasari & Tualeka, 2014). Kelelahan kerja merupakan suatu kondisi dimana tubuh mengalami penurunan kinerja dan ketahanan seseorang dalam bekerja.
Istilah kelelahan yaitu melemahnya energi yang dibutuhkan untuk melakukan suatu aktivitas, sehingga daya tahan tubuh seseorang menurun (Gaol, dkk, 2018). Stress adalah tekanan yang terjadi akibat ketidaksesuaian antara situasi yang diinginkan dengan harapan, di mana terdapat kesenjangan antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan individu untuk memenuhinya yang dinilai potensial membahayakan, mengancam, mengganggu, dan tidak terkendali atau dengan bahasa lain stres adalah melebihi kemampuan individu untuk melakukan koping (Barseli & Ifdil, 2017). Stress sendiri juga memiliki lima tingkatan.
Pertama, stress normal adalah stress yang di hadapi setiap harinya serta telah menjadi komponen alami pada kehidupan. Kedua, Stress ringan yakni stress yang dialami pribadi secara periodik takkala keadaan jumlah menit atau jam yang bisa menaikkan resiko penyakit. Ketiga, stress sedang adalah stress yang dialami individu dalam waktu beberapa jam atau hari. Keempat, stress berat adalah stress yang berjalan pada waktu berminggu-minggu sampai tahun. Kelima, stress sangat berat yaitu stress yang berlangsung pada masa yang berkepanjangan.
Beberapa faktor lain seperti usia kategori dewasa, beban kerja yang berat, gaya hidup, tingkat kelelahan yang dapat berubah-ubah, jenis aktivitas serta beberapa faktor pendukung lain seperti gangguan kecemasan, dan intensitas pekerjaan atau kegiatan menyebabkan perbedaan hasil pada gangguan siklus menstruasi. Perbedaan kematangan hormon tiap individu juga dapat menyebabkan keragaman panjang siklus menstruasi.
Aktivitas fisik responden Sebagian besar dalam tingkat ringan, kelelahan responden Sebagian besar dalam tingkat sedang, dan stress responden Sebagian besar dalam tingkat sedang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara variable stress, aktivitas fisik, dan kelelahan dengan gangguan siklus menstruasi. Tetapi aktivitas fisik, stress, dan kelelahan juga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan tergantung tingkat dari masing-masing individu. Dan bagi individu diharapkan bisa lebih meningkatkan keterampilan saat memanagement waktu serta senantiasa berfikir baik untuk mengurangi stress agar tidak mengganggu sikluss menstruasi.
