Mahasiswa Farmasi Menggunakan Tikus dan Kelinci Sebagai Bahan Penelitian
Penulis:Tri Trisnamiati, mahasiswa Jurusan Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG- Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kedua hewan ini yang dikenal sebagai hewan percobaan dalam penelitian. Biasanya kedua hewan ini disebut kelinci percobaan dan tikus laboratorium .Dalam bidang kesehatan kedua hewan ini sangat sering digunakan khususnya sebagai mahasiswa farmasi untuk menguji obat-obatan sebelum digunakan dan diedarkan pada manusia. Sebenarnya bisa saja menggunakan hewan primata atau monyet yang digunakan dalam bahan penelitian, tetapi hewan tersebut adalah hewan yang hampir punah dan dinilai kurang etis jika kita menggunakannya.
Jadi disini ada alasan mengapa penggunaan kelinci dan tikus sebagai hewan percobaan, pertama tikus dan kelinci ini memiliki struktur mikroskopis tubuh yang mirip dengan manusia. Apasih yang dimaksud struktur mikroskopis itu?, nah mikroskopis disini itu maksudnya struktur dan susunan bahkan sel yang ada pada tikus dan kelinci sangat mirip dengan manusia, dan termasuk hewan mamalia, dimana yang kita tahu selama ini bahwa hewan mamalia itu rentan terkena penyakit yang sama pada manusia.
Kedua, struktur genetika tikus dan kelinci yang mudah dipahami, menurut Nasional Human Genome Research Institute, sebagian besar tikus dan kelinci yang digunakan dalam percobaan medis memiliki sifat inbred, maksud dari sifat ini adalah kesamaan genetik yang identik antara satu tikus dengan yang lain dan satu kelinci dengan yang lain. Hal ini membuat hasil uji medis lebih seragam karena tikus dan kelinci cenderung menunjukkan gejala yang sama.
Ketiga, tikus dan kelinci termasuk hewan yang cepat berkembang biak dalam kata lain terancam punah, kelinci bahkan bisa berkembangbiak pada usia 3-4 bulan. Dan dapat hamil lagi setelah 28 hari masa kelahiran. Sekali melahirkan bisa 4-12 bayi kelinci. Sedangkan tikus memiliki periode kehamilan 21-24 hari dimana sekali melahirkan bisa 10-12 bayi tikus.
Keempat, selain karena harganya yang tergolong cukup murah, bahkan mudah didapatkan dalam jumlah yang tidak sedikit entah itu di pasar ataupun para pembiak tikus dan kelinci ini juga termasuk hewan yang jinak dan membuat peneliti mudah menggunakannya sebagai bahan penelitian.
Nah yang terakhir adapun tikus dan kelinci ini mudah dipelihara di laboratorium, keduanya dianggap mudah dipelihara karena tidak mudah sakit dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Karena hasil uji coba sangat bergantung dengan kondisi fisik hewan.
Adapun cara memperlakukan tikus dan kelinci di laboratorium.
Cara memperlakukan tikus, pertama pegang tubuh atau ekor tikus dari belakang dan keluarkan dari kandangnya lalu letakkan tikus di permukaan kasar. Tangan kiri menuju kepala dan ibu jari kedepan menjepit kaki kanan depan tikus antara jari tengah dan telunjuk. Usahakan melakukannya tanpa ragu-ragu
Dan cara pemberian obat pada tikus pertama obat oral yaitu diberikan dengan alat suntik, dilengkapi dengan jarum oral. Dan dimasukkan melalui tepi langit kebelakang sampai esofagus. Adapun penyuntikan subkutan dapat dilakukan di bawah abdomen atau tengkorak. Ketika penyuntikan Intarvena dilakukan pada vena ekor menggunakan jarum no. 24 tikus dimasukkan kedalam pemegang penyuntikan Intra muskular sama dengan penyuntikkan intravena yaitu menggunakan jarum no. 24 namun kedalam otot paha posterior. Yang terakhir penyuntikan Intra peritoneal dipegang punggungnya agar abdomen menjadi tegang. Pada saat penyuntikkan kepala tikus lebih rendah dari abdomennya. Volume penyuntikkan palinh baik bagi tikus 0,2-0,3 ml/ 400 gram bobot badan.
Senyawa yang dapat digunakan untuk pembiusan, pertama Eter dan karbondioksida yaitu untuk anestesi singkat. Yang kedua ada Halotan digunakan untuk anestesi yang lebih lama. Yang ketiga ada Pentobarbital Natrium dan Heksobarbital Natrium, dosis nya berbeda-beda untuk intravena dan, intraperitoneal. Uretan (etil karbonat), dengan dosis 1000- 1250 mg/kg secara intraperitoneal.
Adapun cara mengorbankan tikus secara fisik dapat dibunuh dengan 2 cara, yang pertama pukul dengan tongkat bagian bagian belakang telinganya. Dan yang kedua pegang tikus perut menghadap keatas lalu pukul bagian belakang kepalanya dengan sangat keras. Adapun secara cara kimia dilakukan dengan karbondioksida, eter, dan pentobarbital dengan dosis yang sesuai.
Cara memperlakukan kelinci, harus dengan sigap tapi secara halus, karena sering memberontak, untuk mengangkatnya pegang leher kelinci dengan tangan kiri, dan pantatnya diangkat dengan tangan kanan, lalu dekaplah kedekat tubuh.
Cara pemberian obatnya untuk oral dapat dilakukan dengan menggunakan penahan rahang dan pipa lembung, namun sebisa mungkin cara ini dihindari. Pemberian subkutan dengan angkat kulit disisi sebelah pinggang dan tusukkan jarum no 1 dengan arah anterior. Penyuntikan Intravena, yaitu vena marginalis pada daerah dekat ujung telinga yang sudah dibasahi dengan air hangat atau alkohol. Penyuntikan Intramuskular pada otot kaki belakang. Yang terakhir Intra peritoneal, usahakan letak kepala kelinci lebih rendah dari perut dan penyuntikkan pada garis tengah dimuka kandung kencing.
Adapun cara pembiusan pada kelinci dengan menyuntikkan pentobarbital natrium secara perlahan. Untuk dosisnya umumnya 22 mg/kg bobot badan dan untuk pembiusan singkat diambil setengah dari dosis di atas.
Mengorbankan kelinci dengan beberapa cara, pertama menggunakan karbondioksida, yang kedua menggunakan injeksi pentobarbital natrium natrium 300 mg secara intravena.dan yang terakhir dengan cara dislokasi leher dengan memegang kaki belakang kelinci dan pukullah sisi telapak tangan kanan dengan keras kepada tengkuk kelinci. Lalu tempatkan kelinci di meja lalu pukullah dengan keras di bagian telingannya.
Itulah tadi beberapa alasan kenapa tikus dan kelinci yang kebanyakkan dijadikan bahan penelitian, karena keduanya sangat membantu para mahasiswa farmasi untuk melakukan percobaan pada obat yang nantinya akan digunakan manusia. Dan di artikel ini juga saya menuliskan cara para farmasi memperlakukan, serta cara menyuntikkan beberapa macam obat pada tikus dan kelinci. (Tri Trisnamiati, NIM 202310410311207, Jurusan Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang)
