Kabut Asap Melanda, Aktifitas Tertunda
Penulis: Risa Tri Aprilianti, mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG- Kabut asap akibat karhutla yang tengah terjadi di pulau Kalimantan sudah dianggap menganggu oleh masyarakat. Salah satu contoh akibat yang dirasakan yaitu kegiatan pembelajaran yang dialihkan menjadi daring di rumah masing-masing. Selain itu, faktor Kesehatan juga menjadi salah satu alasan kenapa beberapa kegiatan secara langsung dipindahkan menjadi kegiatan daring.
Lalu apa si yang dimaksud dengan karhutla itu ? Kebakaran hutan dan lahan adalah bencana lingkungan yang sering kali menghancurkan ekosistem alam dan memberikan dampak buruk bagi lingkungan, ekonomi, dan Kesehatan Masyarakat. Kebakaran hutan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk cuaca kering, aktivitas manusia, dan perubahan iklim.
Kebakaran hutan dan lahan memiliki dampak ekologis yang cukup signifikan. Kebakaran hutan dan lahan dapat menghancurkan hutan yang merupakan rumah bagi banyak spesies hewan dan tumbuhan, yang sering kali sulit ditemukan atau langka. Selain itu, kebakaran hutan mengeluarkan asap dan gas beracun ke atmosfer bumi, yang bisa menyebabkan pencemaran udara dan memicu perubahan iklim global.
Efek buruk bagi kesehatan yang dirasakan salah satunya yaitu bertambahnya jumlah kasus gangguan pada pernapasan seperti asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan infeksi saluran pernpasan atas, hal ini disebabkan oleh asap yang dihasilkan oleh kebakaran hutan mengandung berbagai polutan udara yang menganggu Kesehatan manusia, termasuk partikulat udara halus dan senyawa kimia beracun.
Kebakaran hutan dan lahan juga dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, terutama pada orang yang mempunyai faktor risiko seperti tekanan darang tinggi atau hipertensi dan penyakit jantung. Selain itu asap karhutla dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit, seperti mata merah, gatal. dan iritas kulit.
Anak-anak menjadi sangat rentan terhadap polusi udara karena sistem pernapasan dan perthanan tubuh yang mereka miliki belum sepenuhnya berkembang. Polusi udara menyebabkan perkembangan paru-paru anak tidak berkembang dengan baik, menyebabkan asma, penurunan fungsi paru, dan masalah Kesehatan lainnya.
Polusi udara dapat berdampak pada kesehatan reproduksi termasuk peningkatan risiko keguguran, kelahiran prematur, dan berat lahir rendah. Sehingga kegiatan aktivitas ibu hamil dan menyusui lebih dianjurkan untuk dilakukan di rumah.
Sistem kekebalan tubuh seseorang juga dapat melemah karena dampak dari karhutla sehingga akan lebih rentan terkena infeksi pernapasan lainnya seperti pneumonia. Pneumonia sendiri adalah infeksi yang menimbulkan peradangan pada kantung udara di paru-paru atau yang lebih dikenal dengan radang paru-paru.
Tidak hanya mempengaruhi Kesehatan fisik, karhutla juga dapat mempengaruhi Kesehatan mental seseorang seperti mengalami stress dan gangguan kecemasan kaarena merasa ketidakpastian dan kekhawatiran tentang Kesehatan dan keselamatan. Karhutla juga dapat menyebabkan dampak jangka panjang, paparan jangka Panjang terhadap polusi udara dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung. Selain mempengaruhi Kesehatan, Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dapat memiliki dampak serius pada berbagai aktivitas manusia. Asap dari karhutla dapat mengurangi jarak pandang dan mempengaruhi kondisi jalan dan udara. Hal ini tentunya dapat menganggu perjalanan transportasi udara, darat, maupun laut. Kualitas udara yang buruk juga dapat membatasi aktivitas di luar ruangan seperti kegiatan olahraga, rekreasi, dan acara-acara publik
Karhutla juga dapat mempengaruhi pariwisata di daerah yang terdampak karena para wisatawan dapat membatalkan rencana perjalanan mereka, yang dapat berdampak negative pada ekonomi masyarakat. Ekosistem hutan dan lahan yang terbakar pun menjadi rusak atau terganggu sehingga mengakibatkan terganggunya berbagai aktivitas, termasuk pemeliharaan lingkungan, riset ilmiah, dan upaya konservasi alam.
Kebakaran hutan juga dapat mempengaruhi iklim regional dengan menciptakan kondisi cuaca yang ekstrem, seperti suhu yang meningkat lebih tinggi dan kekeringan jangka panjang. Hal ini jelas dapat menciptakan siklus yang memperburuk situasi karena lingkungan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran lainnya.
Kebakaran hutan dan lahan juga dapat memengaruhi siklus air baik regional maupun global. Kebakaran mengurangi tutupan vegetasi, yang dapat mengubah pola curah hujan sehingga jarang terjadinya hujan dan menganggu sumber air, seperti Sungai dan danau.
Dalam banyak kasus, kebakaran, hutan disebabkan oleh praktik-peraktik pertanian dan perladangan yang tidak berkelanjutan, seperti pembukaan lahan dengan membakar lahan karena hal itu dinilai lebih cepat dibandingkan harus membersihkan lahan.
Pendidikan dan kesadaran Masyarakat tentang bahaya dari kebakaran hutan dan lahan juga pentingnya menjaga kelestarian alat dapat dianggap sebagai aset yang berharga dan penting untuk diberikan. Selain itu, pemerintah juga perlu mengawasi dan mengatur aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dan memberlakukan system hukum yang kuat juga tegas.
Penggunaan teknologi satelit dan drone dapat sangat membantu untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan lebih awal karena tak jarang penyebab awal terjadinya karhutla berasal dari Tengah hutan yang sulit untuk dijangkau, sehingga dengan adanya teknologi untuk pengawasan dapat memberikan Langkah awal pencegahan yang lebih cepat.
Penangan karhutla adalah tugas yang kompleks dan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, organisasi lingkungan, masyarakat, dan sektor swasta. Upaya yang berkelanjutan dalam pencegahan, pemantauan, dan penanganan kebakaran sangat penting untuk melindungi hutan, lahan, dan kesejahteraan masyarakat.
Pencegahan dan pengendalian karhutla sangat penting untuk mengurangi dampaknya pada aktivitas manusia. Hal ini melibatkan upaya-upaya dalam mengelola dan menjaga hutan juga menghindari upaya praktik yang dapat memicu kebakaran hutan. Praktik-praktik kehutanan berkelanjutan juga dirasa perlu seprti adanya kegiatan reboisasi dan pemeliharaan hutan.
Pemerintah juga harus mulai memperhatikan kelengkapan dan kelayakan pemadaman kebakaran seperti menyediakan peralatan dan personal yang memadai untuk memadamkan kebakaran secepat mungkin, sehingga dampak buruk dari kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalkan dan lingkungan dapat terjaga dengan baik juga menjamin Kesehatan yang baik. (*)
