Efektivitas Pelvic Rocking Terhadap Nyeri Haid Pada Remaja
Penulis: Tasya Nashifatus Su’ba, Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, nashifahtasya428@gmail.com
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Dismenore (dysmenorrhea) merupakan rasa nyeri selama mesntruasi yang diakibatkan oleh kejadian kejang-kejang pada otot uterus (Price, 2016). Dismenore dikatakan pula sebagai kelainan selama masa menstruasi yang umum terjadi pada remaja dengan gejala kram atau nyeri pada perut bagian bawah yang kemudian biasanya disertai dengan pusing, sakit kepala, kembung, diare, nyeri punggung bawah, mual, muntah, dan nyeri kaki (Aboushady, 2016). Dismenore yang terjadi selama masa mesntruasi ini memberikan rasa nyeri pada bagian pinggang, perut bawah, dengan gejala ngilu, mulas-mulas, dan perasaan seakan-akan ditusuk, diare, hingga pingsan yang terjadi sebelum maupun selama menstruasi (Nurwana et al.,2017).
Faktor penyebab dismenore adalah meningkatnya produksi prostaglandin oleh endometrium saat menstruasi sehingga menimbulkan nyeri akibat kontraksi rahim yang tidak teratur. Dismenore banyak terjadi pada wanita usia subur. Faktanya, prevalensi dismenore di seluruh dunia sangat tinggi. Beberapa wanita mengalami rasa sakit yang tak tertahankan saat menstruasi sehingga dapat mempengaruhi aktivitas sehari-harinya.
Dismenore dikelompokkan menjadi dua, yakni dismenore primer dan dismenore sekunder. Dismenore primer adalah nyeri haid yang bukan disebabkan oleh suatu kondisi patologis. Kondisi ini tentunya berbeda dengan dismenore sekunder. Sementara itu, dismenore sekunder merupakan nyeri haid yang disebabkan oleh suatu kondisi patologis seperti penjumpaan kista ovarium atau endometris.
Gejala dismenore berbeda dengan PMS. Untuk dismenore, akan terasa nyeri atau kram yang tumpul dan tajam di sekitar perut bagian bawah, kemudian nyeri ini akan merambat ke punggung bawah dan paha. Sebagian wanita mungkin juga mengalami mual, muntah, berkeringat, dan pusing. Sedangkan untuk gejala PMS terbagi menjadi dua, yang pertama gejala fisik yaitu kembung, nyeri payudara, sakit kepala, sembelit atau diare, kelelahan, jerawat, berat badan bertambah karena retensi urine, dan berkurangnya toleransi terhadap suara dan cahaya. Yang kedua gejala perilaku dan emosional yaitu, stres, cemas, menangis, perubahan suasana hati, marah, nafsu makan meningkat, susah tidur, dan sulit berkonsentrasi.
Penyebab dismenore antara lain stres, syok, penyempitan pembuluh darah, penyakit kronis, kekurangan darah, serta kondisi fisik dan mental seperti kemunduran kondisi fisik. Menurut Arulkumaran (2006), terjadinya dismenore bisa di sebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: pertama, faktor menstruasi yaitu pada saat menarche atau permulaan menstruasi pada masa pubertas yang dialami oleh seorang wanita, umumnya pada rentang usia 12 – 14 tahun. Remaja putri yang mengalami menarche dini lebih mungkin menderita dismenore. Wanita dengan siklus menstruasi yang lebih panjang tampaknya lebih banyak mengalami dismenore. Kedua, paritas yaitu wanita multipara memiliki insiden dismenore yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian dan tingkat keparahan dismenore primer menurun setelah kelahiran pertama. Ketiga, olahraga yaitu dismenore dapat diminimalisir melalui berbagai jenis olahraga. Atlet juga terbukti memiliki kasus dismenore yang lebih rendah, mungkin karena siklus anovulasi. Keempat, pemilihan metode kontrasepsi yang mana apabila digunakan kontrasepsi oral, harus mampu menentukan efektivitasnya dalam mengatasi atau memperburuk gejala. Di samping itu, penggunaan kontrasepsi jenis lain juga berpotensi menyebabkan nyeri dismenore. Kelima, riwayat keluarga ini dapat memungkinkan adanya pembedaan antara endometriosis dan dismenore primer. Ke enam,stress sebagai faktor psikologis yaitu dismenore lebih mungkin terjadi pada remaja perempuan yang emosinya tidak stabil, terutama ketika mereka tidak memperoleh pendidikan yang cukup mengenai proses menstruasi. Di samping itu, stres dan ketegangan emosional yang berhubungan dengan sekolah maupun pekerjaan juga dapat memperparah tingkat keparahan rasa sakit.
Angka kejadian dismenore pada remaja putri yang cukup tinggi bisa berakibat buruk jika tidak ditangani, seperti terjadinya patologi (kelainan atau gangguan) hingga menyebabkan peningkatan angka kematian, termasuk infertilitas (kemandulan). Hal tersebut dapat terjadi jika mengalami efek jangka panjang dan serius. Dengan demikian, permasalahan dismenore pada remaja sangat penting untuk segera diatasi agar tidak membawa pengaruh buruk yang berkepanjangan. Dismenore ini dapat di atasi dengan pengobatan farmakologi atau terapi non-farmakologi, seperti melakukan gerakan pelvic rocking (gerakan goyang panggul).
Aprilia (2011) mengemukakan, Pelvic rocking exercise merupakan satu di antara gerakan yang menggoyangkan panggul ke sisi depan, belakang, kanan, dan kiri. Pelvic rocking exercise menjadi satu di antara latihan fisik yang mampu menjadi tindakan pencegahan dalam mengurangi kram menstruasi dan berfungsi memperkuat otot perut serta memperlancar aliran darah ke rahim. Gerakan ini mampu memperkuat otot pinggang dan perut. Selain itu, dapat pula mengurangi tekanan pada daerah pinggang, tekanan pada kandung kemih, dan tekanan pada pembuluh darah di rahim (uterus). Pelvic rocking exercise bermanfaat pula dalam menciptkana suasana relaks bagi tubuh dan memperbaiki proses pencernaan (Utami et al., 2019). Pelvic rocking exercise berguna dalam mengurangi stress, rasa nyeri, dan memperbaiki mood serta meningkatkan kesehatan tubuh.
Pelvic rocking banyak sekali manfaatnya, seperti memperkuat otot perut dan pinggang, mengurangi tekanan pada kandung kemih, membantu relaksasi dan melancarkan pencernaan, melancarkan aliran darah ke rahim dan otot rahim, sehingga suplai darah mencapai rahim dan mengurangi rasa nyeri, sekaligus mampu menciptakan rasa nyaman bagi tubuh hingga mengurangi tekanan pada pinggang. Cara melakukan gerakan pelvic rocking adalah dengan melakukan gerakan memutar pada posisi berdiri, duduk, atau berbaring dengan menggunakan alat penyangga seperti bola atau dapat menggunakan alat penyangga apa saja. Gerakan menggoyangkan panggul ke arah depan dan belakang ataupun melingkar akan menjadikan tubuh lebih rileks, sehingga melancarkan aliran darah ke dalam rahim sehingga rasa nyeri akan berkurang. Keunggulan teknik ini sebagai tindakan non farmakologis yang sederhana namun efektif guna meringankan dismenore, yang bisa dilakukan diamanapun dan kapanpun. Teknik ini bisa dilakukan sambal berdiri, duduk, atau berbaring dan tidak memerlukan penggunaan media tertentu.
Berdasarkan penjabaran di atas, ditarik kesimpulan bahwa rasa nyeri selama menstruasi dapat berkurang dengan peregangan otot panggul (pelvic rocking) dapat mengurangi nyeri pada saat menstruasi. Hal ini dikarenakan gerakan pelvic rocking mampu menciptakan suasana rileks bagi tubuh dan memungkinkan peradaran darah pada rahim menjadi lancar serta mengendalikan pengeluaran prostaglandin agar tidak lewat dari batas normal sebagai penyebab timbulnya nyeri pada saat menstruasi. Selain itu, dismenore juga dapat diatasi dengan cara menerapkan hidup sehat dengan menghindari makanan yang tidak sehat seperti junkfood, berolahraga secara rutin untuk mengurangi terjadinya dismenore, hindari konsumsi alkohol dan juga merokok, dan beristirahat yang cukup. (*)
