Vaksin HIV: Masih Diteliti dan Diuji
Penulis: Cindy Zahira Putri, mahasiswa Prodi Farmasi, FIKES,Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– HIV atau (Human Immunodeficiency Virus) adalah Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang menyebabkan lemahnya tubuh untuk melawan infeksi dan penyakit. HIV bekerja dengan cara menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 atau bisa juga disebut sel T, sel CD4 atau sel T adalah sel darah putih yang berperan penting bagi sistem kekebalan tubuh. Fungsinya adalah untuk membantu mengidentifikasi sekaligus menghancurkan patogen penyebab infeksi bakteri, jamur, dan virus. Tidak sedikit juga nyawa yang melayang akibat penyakit HIV ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, penyakit ini telah merenggut nyawa sedikitnya 40,1 juta penderita. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2019, terdapat lebih dari 50.000 kasus infeksi HIV di Indonesia. Dan kasus HIV di Indonesia pada 2023 dapat diperkirakan sekitar 500 ribu lebih hingga bulan September 2023. Diperkirakan sekitar 5.100 kasus tercatat tiap tahunnya. HIV juga kerap kali disandingkan dengan AIDS. Dan apa itu AIDS? AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome merupakan virus HIV yang sudah berada pada tahap akhir infeksi. Kondisi ini ditandai dengan komplikasi infeksi parah sampai kanker tertentu. Dan setiap tanggal 1 Desember dirayakan hari AIDS sedunia, yang bertujuan sebagai pengingat perjuangan global untuk mengakhiri stigma terkait HIV. Dan menjadi sebuah kesempatan untuk menghormati mereka yang mengalaminya. Di Indonesia sendiri penyebab penularan HIV melalui hubungan intim yang tidak aman, penggunaaan jarum suntik lebih dari sekali atau berkali-kali, menggunakan jarum suntik yang tidak steril penularan bisa terjadi jika berbagi pakai jarum suntik ketika menggunakan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif) atau saat membuat tato, transfusi darah yang tidak steril, dan menggunakan alat makan yang telah dipakai penderita HIV, Bergonta-ganti pasangan dalam melakukan hubungan intim serta tidak menggunakan alat kontrasepsi. Penularan HIV sebenarnya hanya bisa terjadi karena adanya kontak dengan cairan tubuh penderita. Kontak dengan cairan tersebut seperti darah, sperma, cairan vagina, cairan anus, dan juga ASI (Air Susu Ibu) dengan kata lain bayi juga bisa tertular HIV melalui ASI yang dikonsumsinya. HIV tidak bisa ditularkan melalui udara, air keringat, air mata, air liur, gigitan nyamuk, ataupun sentuhan fisik.

Gejala-gejala HIV memiliki 4 fase dan setiap fase memiliki ciri-ciri yang berbeda yaitu: Fase 1 atau fase awal. Pada fase penderita tidak akan terasa gejala-gejalanya, Fase ini belum masuk sebagai AIDS karena tidak menunjukkan gejala. Gejala yang sering terjadi adalah pembengkakan kelenjar getah bening di beberapa bagian tubuh seperti ketiak, leher, dan lipatan paha. Pada fase ini penderita masih terlihat sehat dan normal, namun sudah terinfeksi dan dapat menularkannya pada orang lain. Selanjutnya ada fase 2 atau fase infeksi HIV akut, Pada fase ini, sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi membentuk antibodi untuk melawan virus HIV. Gejala-gejala pada tahap ini muncul 2–4 minggu setelah terjadinya infeksi pada tubuh. Penderita umumnya tidak menyadari telah terinfeksi HIV, karena gejala-gejala yang muncul mirip dengan gejala penyakit flu, gejala ini bisa hilang dan bisa kambuh kembali. Fase 3 atau fase infeksi HIV kronis. Pada fase ini, virus HIV tetap aktif merusak daya tahan tubuh, tetapi berkembang biak dalam jumlah yang lebih sedikit. Beberapa gejala pada fase ini adalah berat badan menurun, diare, herpes zoster, Pembengkakan kelenjar getah bening, dan lain-lain. Dan yang terakhir adalah fase 4 atau AIDS, Pada fase ini, sistem kekebalan tubuh sudah rusak parah sehingga penderita akan lebih mudah terserang infeksi lain. Beberapa gejala pada fase ini yaitu Bintik ungu di kulit yang tidak bisa hilang, demam yang berlangsung lebih dari 10 hari, Infeksi jamur di berbagai bagian tubuh, gangguan syaraf dan lain sebagainya.
Ditemukannya HIV ini berawal dari Simpanse (Simian Immunodeficiency Virus) SIV. Virus ini bekerja dengan menyerang sistem kekebalan monyet dan kera. Simpanse yang memangsa monyet berukuran kecil yang terinfeksi SIV, membuat simpanse tersebut ikut terjangkit SIV. Dan kemudian virus SIV kemungkinan bisa menyerang manusia lantaran pemburu di Afrika memakan daging simpanse yang terinfeksi biang penyakit, atau darah simpanse masuk ke tubuh pemburu lewat celah luka di kulit pemburu. Penularan pertama SIV ke HIV pada manusia ini diperkirakan menjadi tonggak awal sejarah pertama kali ditemukannya HIV / AIDS pada 1920.
Terhitung sudah 1 abad lebih hadirnya penyakit HIV, namun hingga sekarang masih belum ditemukan vaksin atau obat yang dapat mencegah dan menyembuhkan penyakit HIV dan AIDS ini. Vaksin pencegahan HIV diberikan kepada orang yang tidak mengidap HIV, dengan tujuan mencegah infeksi HIV di masa depan. HIV adalah virus yang kompleks, karena ia dapat bermutasi dengan cepat dan mampu menangkis respon sistem kekebalan tubuh. Tentunya ada alasan mengapa belum ditemukannya vaksin untuk penyakit HIV ini, alasannya yaitu:
– Sistem kekebalan tubuh semua manusia tidak pernah berhadapan dengan virus seperti HIV
– Vaksin biasanya dibuat untuk meniru reaksi kekebalan orang yang pulih. Namun, sampai sekarang tidak ada orang yang sembuh setelah menerita atau tertular penyakit HIV. Akibatnya, tidak ada reaksi kekebalan yang dapat ditiru oleh vaksin
– Virus HIV bermutasi dengan cepat. Jika virus cepat bermutasi, vaksin mungkin tidak berfungsi sehingga sulit untuk membuat vaksin untuk melawan HIV
– Vaksin mengajarkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk mengenali dan secara efektif melawan HIV jika virus tersebut masuk ke dalam tubuh orang tersebut. Dan vaksin biasanya dibuat dari virus yang dilemahkan atau dimatikan, namun Virus HIV yang dimatikan atau dilemahkan tidak bisa digunakan untuk vaksin.
Jadi dapat disimpulkan bahwa lebih baik menjauhi penyebab HIV dan AIDS, karena vaksin dan obat dari HIV dan AIDS masih belum ditemukan sehingga jika sudah terjangkit maka yang menjadi taruhan adalah nyawa. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati. (cindy zahira putri, NIM: 202310410311194, Kelas: Farmasi–E)
