RSI Aisyiyah Malang Bahas Benjolan di Payudara
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – RSI Asiyiyah Kota Malang (RSIA) hadir kembali dengan NgoPi (Ngobrol Pintar) secara live instagram pada Selasa (22/8). Mengundang Dokter Spesialis Bedah Umum, dr. Arifin Perdana I., Sp.B., membahas “Waspada Benjolan Pada Payudara” kenali gejalanya dan cegah resikonya.
Benjolan pada tubuh seringkali dikaitkan dengan kanker. Dokter Arifin menjelaskan bahwa benjolan atau bahasa latinnya tumor yang terbagi menjadi tumor jinak dan ganas adalah definisi dari kanker payudara. Kanker payudara, sebut Dokter Arifin, secara statistik masuk ke dalam penyakit dengan penyumbang kematian terbanyak di Indonesia.
“Disayangkan sekali banyak pasien yang datang di faskes sudah pada kondisi stadium 3 dan 4 sehingga penangannya tidak bisa maksimal, biasanya dalam terapis untuk memperlambat” ujar Dokter Arifin prihatin.
Sambung Dokter Arifin menjelaskan bagaimana kanker payudara bisa muncul. Dokter Arifin menyebutkan ada tiga hal yang menambah resiko terjadinya kanker payudara. Pertama adalah faktor usia, wanita berusia di atas 35 tahun akan lebih rentan terkena kanker payudara. Kedua adalah hormonal (estrogen dan progesteron) tinggi pada wanita yang tidak menyusui atau mengandung. Ketiga adlaah gaya hidup yang tidak sehat seperti konsumsi alkohol, secara stastistik akan meningkatkan 2 kali lipat terkena kanker payudara.
“Menyusui akan mengurangi resiko kanker payudara 11 persen” imbuh Dokter Arifin perihal hormon.
Dokter Arifin juga memaparkan hal-hal yang patut dicurigai jika ada benjolan pada payudara. Pertama adalah ketika benjolan tersebut membesar dua kali lipat dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan. Menurut Dokter Arifin hal tersebut memiliki resiko keganasan yang tinggi. Selanjutnya benjolan yang menyebar secara lokal disertai borok yang tidak kunjung sembuh. Tanda berikutnya adalah bengkak pada lengan atau ketiak karena sel kanker yang menyebar lewat darah dan kelenjar getah bening. Terakhir yaitu benjolan yang keras dan tidak normal.
“Bisa dicegah sedini mungkin dengan deteksi SADARI atau pemeriksaan payudara sendiri” ujar Dokter Spesialis Bedah Umum RSIA Malang.
SADARI bisa dianjurkan pada saat hari ke-7 setelah menstruasi dikarenakan pada saat itu jaringan payudara akan lebih padat. Melakukan SADARI bisa diterapkan sejak usia remaja tanpa harus menunggu dewasa. Selain itu SADARI merupakan upaya preventif sebelum benjolan tumbuh lebih kuat.
Lantas apa yang harus dilakukan setelah ada tanda-tanda benjolan. Dokter Arifin menyarankan untuk segera cek ke layanan kesehatan untuk screening. Pertama akan dilakukan wawancara history checking terkait penyakit. Selanjutkan akan dilakukan pemeriksaan fisik, radiologis, dan patologis untuk hasil yang lebih akurat sesuai anjuran dari petugas medis.
Menjadi menarik, Dokter Arifin menyebutkan satu studi penelitian bahwa kanker payudara juga berpotensi dialami oleh laki-laki. Bisa terjadi pada laki-laki meskipun pada penelitian tersebut dibandingkan 100 : 1 didasarkan pada hormon masing-masing atau laki-laki tetap berpeluang meskipun sangat kecil. (hamara)
