IBI-PPNI Hadirkan Balai Sihat Rakjat Doeloe, Layanan Kesehatan Gratis di Lamongan Tempo Dulu
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMONGAN – Suasana nostalgia dan semangat pelayanan berpadu indah di Lapangan Gajah Mada, Lamongan, dalam acara tahunan Lamongan Tempo Dulu (LTD) 2025. Tahun ini, LTD mengusung tema besar “Harmoni 2025”, sebuah refleksi kolaborasi antar elemen masyarakat untuk membangkitkan nilai budaya dan sosial di tengah kehidupan modern.
Salah satu sorotan utama di acara ini adalah kolaborasi luar biasa antara dua organisasi profesi kesehatan: Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Lamongan dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lamongan, yang bergandengan tangan menghadirkan sebuah inovasi layanan kesehatan bernuansa tempo dulu: “Balai Sihat Rakjat Doeloe”.
Konsep Balai Sihat Rakjat Doeloe: Layanan Gratis dalam Balutan Budaya
Berlokasi di Stand Nomor 5, kolaborasi ini berhasil menyulap area sederhana menjadi balai layanan kesehatan yang membawa nuansa masa lampau — lengkap dengan dekorasi khas zaman kolonial, pakaian tradisional petugas kesehatan, serta jajanan rakyat gratis untuk pengunjung.
Namun bukan sekadar dekorasi yang mencuri perhatian, melainkan pelayanan nyata yang diberikan kepada masyarakat selama empat hari penuh, yaitu: Pemeriksaan kesehatan gratis, Konsultasi kesehatan umum, Pelayanan Keluarga Berencana (KB) gratis, Pemeriksaan laboratorium GDA (Gula Darah Acak), kolesterol, dan asam urat. Jajanan rakyat gratis seperti klepon, onde-onde, dan es dawet, Hadiah menarik bagi peserta pemeriksaan

Antusiasme warga sangat tinggi. Setiap hari, stand ini dipenuhi pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari lansia, remaja, hingga anak-anak yang penasaran dengan suasana “balai sehat zaman dulu”.
Bd. Hj. Nanik, SST, M.MKes – Ketua PC IBI Lamongan menyatakan Kami ingin memberikan pengalaman kesehatan yang menyenangkan namun tetap edukatif. Lewat Balai Sihat Rakjat Doeloe, kami mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati hiburan dalam Lamongan Tempo Dulu, tapi juga mendapatkan manfaat kesehatan. Pelayanan gratis ini mencerminkan semangat para bidan tempo dulu yang hadir langsung di tengah rakyat, tanpa sekat. Dan tentu, kolaborasi dengan PPNI sangat memperkuat cakupan layanan kami.”
Beliau juga menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata dari IBI hadir di tengah masyarakat, tidak hanya dalam peran klinis, tetapi juga sebagai pelindung, pendidik, dan mitra keluarga dan berterimakasih kepada Bupati Lamongan yang telah melibaykan IBI dan PPNI dalam kegiatan LTD
Selain itu Nurul Cahyatin, S.Kep, Ns – Ketua PPNI Lamongan menyatakan Kami percaya bahwa kolaborasi adalah kunci dalam pelayanan kesehatan yang efektif. Konsep Balai Sihat ini memberikan ruang bagi masyarakat untuk merasakan langsung kehadiran tenaga kesehatan dalam suasana yang akrab dan menyenangkan. PPNI mendukung penuh inisiatif ini karena sejalan dengan nilai-nilai profesionalisme perawat: pelayanan holistik, humanis, dan berbasis budaya.”
Ia juga menekankan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk membangun kepercayaan masyarakat kepada tenaga kesehatan serta meningkatkan kesadaran pentingnya deteksi dini terhadap penyakit-penyakit tidak menular.
Beberapa pengunjung yang ditemui menyatakan kegembiraannya bisa menikmati layanan kesehatan tanpa harus datang ke puskesmas atau rumah sakit. “Biasanya saya takut dicek gula darah, tapi karena suasananya santai dan petugasnya ramah, saya jadi berani,” ujar Ibu Sulastri, 59 tahun, warga Sukodadi.
Sementara Pak Slamet, warga Turi, menambahkan, “Unik, baru kali ini saya periksa kolesterol sambil minum dawet dan makan klepon. Harus ada lagi tahun depan!” Kegiatan “Balai Sihat Rakjat Doeloe” bukan hanya simbol pelayanan kesehatan, tetapi juga cerminan keharmonisan antarprofesi dan kedekatan tenaga kesehatan dengan masyarakat. Dalam semangat Harmoni 2025, IBI dan PPNI Lamongan berhasil membuktikan bahwa kolaborasi bukan hanya mungkin, tapi sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks.
Dengan antusiasme tinggi dan respon positif dari warga, besar harapan agar kegiatan ini menjadi program rutin dalam event serupa di masa mendatang, bahkan bisa ditingkatkan menjadi gerakan pelayanan kesehatan berbasis budaya lokal yang menyentuh seluruh pelosok Lamongan. (sulistyowati)
