PMM 39 UMM Optimalisasi Anti Bullying di SDN 4 Kedungbanteng Sebagai Bentuk Pertahanan Diri
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Gelombang 9 Kelompok 39 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan program kerja di SDN 4 Kedungbanteng, Kabupaten Malang. Program kerja yang dilaksanakan adalah pencegahan optimalisasi program anti bullying. Sebab bullying adalah perilaku agresif yang sering terjadi di lingkungan sekolah, terutama di kalangan anak-anak.
Fenomena ini dapat menimbulkan dampak yang serius bagi korban, baik secara fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi dan mencegah bullying sangatlah penting. PMM Gelombang 9 Kelompok 39 beranggotakan lima orang mahasiswa yakni Ayuning Tyas Darminingsih, Ana Maulida Azura, Mariana Ulfa, Savera Dwi Nasa Rina, dan Marcel Darma Wicaksono. Mereka dalam arahan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Bagi PMM Gelombang 9 Kelompok 39 UMM, pencegahan bullying melalui sosialisasi, pembuatan film pendek, dan kotak pengaduan.
Sosialisasi Anti Bullying
Langkah pertama yang kami ambil adalah mengadakan sosialisasi mengenai bullying. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang apa itu bullying, dampak negatifnya, dan cara untuk mencegah serta melaporkan tindakan bullying. Dengan kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bullying, sehingga siswa dapat lebih peka dan tanggap terhadap perilaku yang tidak menyenangkan ini. Sosialisasi ini dilakukan melalui media power point dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Implementasi Sikap Anti Bullying
Setelah sosialisasi, langkah selanjutnya adalah implementasi sikap anti bullying di lingkungan sekolah. Dalam implementasi bullying ini, kami berperan sebagai fasilitator dalam mengembangkan program-program yang mendukung sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan. Seperti membantu menyusun kode etik yang mengatur perilaku siswa di sekolah, serta menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua.
Pembuatan Film Pendek Mengenai Bullying
Salah satu cara efektif untuk menyampaikan pesan anti bullying adalah melalui media film. PMM 39 berkolaborasi dengan siswa untuk membuat film pendek yang menggambarkan situasi bullying dan dampaknya. Film ini dapat dijadikan alat edukasi yang menarik, sehingga siswa dapat lebih memahami perasaan korban dan pentingnya untuk tidak melakukan tindakan bullying. Pembuatan film pendek juga dapat melibatkan siswa dalam proses kreatif, sehingga mereka merasa memiliki andil dalam menyampaikan pesan ini. Selain itu, film yang dihasilkan dapat diputar di sekolah sebagai bagian dari program sosialisasi, sehingga lebih banyak siswa yang terpapar pesan anti bullying.

Pembuatan Kotak Pengaduan
Untuk memberikan ruang bagi siswa yang merasa tertekan akibat tindakan bullying, pembuatan kotak pengaduan menjadi langkah yang sangat penting. Kotak ini dapat diletakkan di tempat yang mudah diakses oleh semua siswa, sehingga mereka merasa nyaman untuk menuliskan keluh kesahnya. Dalam program kerja ini kami merancang dan mengelola kotak pengaduan ini. Setiap laporan yang masuk ke dalam kotak pengaduan akan ditangani dengan serius. PMM 39 bekerja sama dengan guru untuk menanggapi setiap keluhan dan mencari solusi yang tepat. Dengan adanya kotak pengaduan, siswa akan merasa lebih aman untuk berbicara tentang masalah yang mereka hadapi, tanpa takut akan konsekuensi.
Kesimpulan
Optimalisasi mahasiswa terhadap program anti bullying di Sekolah Dasar Negeri 4 Kedungbanteng Kabupaten Malang merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Melalui sosialisasi, implementasi sikap anti bullying, pembuatan film pendek, dan kotak pengaduan, kami berkontribusi secara signifikan dalam upaya pencegahan bullying. Dengan demikian, diharapkan siswa dapat tumbuh dan berkembang menjadi individu yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama. Menghadapi bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga masyarakat luas, termasuk mahasiswa sebagai agen perubahan. (penulis/foto: pmm gelombang 9 kelompok 39 umm/editor: hamim)
