Mental Health Pada Gen Z
Penulis: Nabilah Nur Fitria, mahasiswaProgram Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM,MALANG- Dalam pembahasan kali ini saya akan membahas mengenai Mental health. Mental health merupakan kejadian yang saat ini sedang maraknya terjadi dikalangan Gen Z. Sebelum kita membahas lebih dalam topik kita kali ini alangkah baiknya jika kita mengenal terlebih dahulu apa itu mental health. Menurut Jurnal Tasawuf dan Psikoterapi, Mental health adalah sebuah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat serta lingkungan hidupnya. Ada lagi menurut Universitas Esa Unggul Fakultas Psikologi, mental health adalah kondisi dimana seseorang memiliki kesejahteraan yang terlihat dari dirinya yang mampu menyadari potensinya sendiri, memiliki kemampuan untuk mengatasi Tekanan hidup dan ordinary di setiap situasi dalam kehidupan. Menurut Kementrian Kesehatan mental health dalam bidang kesehatan memiliki arti tersendiri yaitu kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang. Dari beberapa pendapat yang telah mengartikan apa arti dari mental health dapat kita ketahui bahwa betapa pentingnya mental health bagi semua orang khususnya juga untuk Gen Z yang sekarang sedang marak-maraknya. Terlihat bahwa mental health melibatkan kemampuan adaptasi, kesejahteraan, dan ketenangan batin. Semakin meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental, penting untuk terus mendukung upaya pemahaman dan penanggulangan masalah mental di kalangan Gen Z.
Seperti yang kita ketahui bahwa tingkat kasus kematian pada tahun 2023 meningkat hingga 36,4 persen yang dimana didalamnya faktor utamanya adalah kasus kematian dengan cara bunuh diri. Seperti kasus bunuh diri yang marak terjadi belakangan ini diantaranya yaitu, mahasiswa yang gantung diri setelah melaksanakan wisuda, seorang mahasiswa yang ditemukan gantung diri dikamar kos, seorang mahasiswi menabrakan diri ke kereta api, mahasiswa yang ditemukan tewas tergantung dan sempat curhat karena kesulitan mengurus skripsi, mahasiswa ditemukan tewas didalam mobilnya dengan keadaan ada gas helium dan selang yang terpasang pada tubuhnya, dan masi banyak lagi. Mental health atau kesehatan mental pada Gen Z menjadi perhatian utama di tahun 2023 dengan meningkatnya kasus bunuh diri yang menghantui Gen Z. Fenomena ini mencerminkan kompleksitas tantangan yang dihadapi oleh Gen Z dalam mengatasi tekanan sosial, akademis, dan teknologi. Kondisi ini menyoroti pentingnya memahami dan mengatasi masalah kesehatan mental secara serius. Pentingnya kesadaran akan kesehatan mental remaja telah semakin terasa, namun statistik yang terus meningkat menunjukkan bahwa kita masih memiliki jalan panjang. Faktor-faktor penyebab melibatkan tekanan akademis yang berlebihan, perbandingan sosial di media sosial, serta kurangnya dukungan emosional. Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang menghadapi stres yang berkepanjangan atau merasa terisolasi memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan kesehatan mental. Program pendidikan yang mendalam tentang kesehatan mental di sekolah-sekolah dan dukungan psikologis yang mudah diakses dapat membantu meredakan beban mental yang mungkin dirasakan oleh remaja.
Selain itu, penting untuk memeriksa peran media sosial dalam mempengaruhi persepsi diri remaja. Kebiasaan membandingkan diri dengan standar kecantikan dan keberhasilan yang tidak realistis di dunia maya dapat meningkatkan tekanan dan merusak harga diri remaja. Dukungan dan pemahaman dari orang tua, teman sebaya, dan masyarakat dapat membantu membentuk citra diri yang positif. Investasi dalam sistem dukungan kesehatan mental di sekolah dan komunitas dapat menjadi langkah awal untuk mengatasi krisis ini. Dalam menghadapi krisis kesehatan mental remaja di tahun 2023, kita perlu mengambil tindakan kolektif. Dengan meningkatkan kesadaran, memberikan pendidikan yang memadai, dan menciptakan lingkungan yang mendukung, kita dapat bersama-sama meredakan beban mental yang dihadapi oleh generasi muda. Hanya dengan langkah-langkah konkret ini, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih peduli dan mendukung bagi kesehatan mental remaja.
Generasi Z, menghadapi tantangan unik dalam mengelola kesehatan mental mereka. Para pakar kesehatan mental memberikan berbagai perspektif yang membantu memahami kompleksitas dan tingkat urgensi dari isu ini. Dr. Sarah Miller, seorang psikolog klinis terkemuka, menyatakan bahwa tekanan yang dialami Gen Z bersumber dari tekanan akademis dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Mereka hidup dalam era di mana komparasi sosial di media sosial seringkali mendominasi kehidupan mereka, memicu perasaan tidak memadai dan isolasi,” kata Dr. Miller. Ia menyoroti pentingnya pendekatan holistik terhadap kesehatan mental, dengan memperkuat aspek emosional, sosial, dan psikologis. Dr. Sarah Miller, seorang psikolog klinis terkemuka, menyatakan bahwa tekanan yang dialami Gen Z bersumber dari tekanan akademis dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Mereka hidup dalam era di mana komparasi sosial di media sosial seringkali mendominasi kehidupan mereka, memicu perasaan tidak memadai dan isolasi,” kata Dr. Miller. Ia menyoroti pentingnya pendekatan holistik terhadap kesehatan mental, dengan memperkuat aspek emosional, sosial, dan psikologis. Profesor John Davis, seorang ahli neurologi dan kepala penelitian di bidang neurosains, menekankan dampak teknologi terhadap kesehatan mental Gen Z. Profesor Davis merekomendasikan batasan waktu penggunaan teknologi dan mempromosikan kegiatan luar ruangan untuk meningkatkan kesehatan otak. Sementara itu, Dr. Lisa Chen, seorang ahli psikiatri anak dan remaja, memberikan perspektif tentang peran orang tua dalam mendukung kesehatan mental Gen Z. Para pakar sepakat bahwa pendekatan kolaboratif dari masyarakat, keluarga, sekolah, pemerintah adalah kunci untuk meningkatkan kesehatan mental Gen Z yang penuh empati bagi kesejahteraan mental mereka.
Dapat disimpulkan kesehatan mental Gen Z merupakan tantangan serius yang memerlukan pendekatan holistik. Para pakar menekankan perlunya dukungan emosional, batasan teknologi, keterlibatan orang tua, dan pendidikan kesehatan mental di sekolah. Dengan upaya bersama dari masyarakat dan pemerintah, kita dapat menciptakan lingkungan yang mendukung dan mengurangi dampak negatif tekanan modern pada kesehatan mental Gen Z. (*)
