Maraknya Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita
Penulis: Firsty Putri Anggun Floreza, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Kesehatan adalah aspek penting dalam kehidupan manusia dalam mempengaruhi kehidupan dan kualitas hidup. Diperoleh bermacam-macam permasalahan kesehatan yang seringkali dianggap remeh karena sedikit ilmu mengenai penyakit, mahalnya anggaran pengobatan, dan sulitnya mengakses layanan medis. ISPA yaitu penyakit yang kerap terjadi di kalangan penduduk setempat. ISPA dapat menyerbu berbagai kalangan paling utama balita. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) termasuk penyakit menular yang berasal dari lingkungan. Penyakit ini kerap terjadi di negara-negara berkembang di dunia. ISPA merupakan infeksi akut yang menyerang jaringan paru-paru (alveoli) dan dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur, dan bakteri.
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yaitu suatu hal medis yang kerap diacuhkan oleh kalangan penduduk, khususnya infeksi saluran pernapasan dengan tanda-tanda awalnya berupa batuk, flu, dan suhu tubuh meningkat. ISPA merupakan serangkaian penyakit yang beragam dan kompleks yang terjadi karena banyak penyebab berbeda dan dapat menyerang beragam bagian saluran nafas (Yuliana dkk., 2021). Misalnya Virus Rotavirus, Virus Influenza, Bakteri Streptococcus pneumoniae, Bakteri Haemophilus influenzae. ISPA juga dapat disebabkan oleh faktor eksternal yaitu kondisi cuaca dan pencemaran lingkungan. ISPA mempunyai dua jenis tingkat keparahan ISPA ringan dan ISPA berat. ISPA ringan mencakup gejala batuk, flu, laringitis, dan faringitis. Sedangkan ISPA berat mencakup penyakit semacam bronkitis, bronkiolitis, epiglotitis, pneumonia, sinusitis, dan pleuritis dengan ditandai kesulitan saat bernapas (Afdhal & Rita, 2022).
Menurut WHO 2017, ISPA adalah faktor pertama meninggalnya balita yang sudah mendunia. Di negara Indonesia, ISPA masih menjadi masalah utama kematian bayi dan balita. Selain itu, ISPA kerap tercatat dari daftar 10 penyakit teramai di rumah sakit. Angka kejadian ISPA menjadi tantangan dikarenakan angka kematian masih tinggi. Balita rentan terkena penyakit ini karena sistem imun tubuhnya belum stabil. Penderita ISPA dapat menulari seseorang jika menghirup udara yang mengandung virus atau bakteri tersebut saat bersin atau batuk. Selain itu, cairan yang mengandung virus atau bakteri terkena pada suatu benda dapat menulari orang lain jika tersentuh ini disebut penularan secara tidak langsung. ISPA aktif selama 14 hari dan dapat menular melalui air liur, darah, bersin, atau udara pernafasan yang mengandung kuman. ISPA diawali dengan gejala seperti pilek, batuk, demam, bersin, sakit tenggorokan, sakit kepala, dahak kental, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. ISPA mempunyai tiga faktor, yaitu faktor pribadi, faktor perilaku, dan faktor alam. Faktor pribadi seperti umur, berat badan, status gizi, dan status vaksinasi. Faktor alam antara lain pencemaran udara asap rokok, asap pembakaran sampah, ventilasi dalam ruangan, dan imunitas individu (Norkamilawati et al., 2021).
Masa kanak-kanak merupakan masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia. Daya tahan tubuh anak di bawah 5 tahun yang masih lemah dan belum matang membuat balita sangat rentan terkena penyakit ISPA. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi yang menyerang bagian organ atas dan bawah sehingga menimbulkan berbagai jenis penyakit, mulai dari infeksi ringan hingga berat. Penderita ISPA pada balita jika tidak dirawat dengan baik sehingga menimbulkan akibat yang serius, yaitu infeksi paru-paru, infeksi pada selaput otak, penurunan kesadaran, gagal napas, bahkan kematian. Menurut Kementerian Kesehatan RI, pemerintah telah melakukan banyak upaya untuk mengendalikan epidemi ISPA. Pemerintah secara khusus melaksanakan program eliminasi ISPA (P2 ISPA) pada tahun 1984, seiring dengan dimulainya pengendalian ISPA secara global oleh WHO. Penyelenggaraan program P2 ISPA menitikberatkan pada pencarian dan pengobatan pasien sesegera mungkin dengan mengerahkan peran aktif operator dengan dukungan pelayanan kesehatan terpadu dan rujukan ke tujuan kesehatan terkait.
Sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang baik tentang ISPA pada balita, namun masih banyak balita yang menderita ISPA, karena masih banyak faktor lain yang menyebabkan ISPA pada balita. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat mencegah munculnya ISPA pada balita. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi perilaku merokok orang tua adalah dengan memberikan informasi KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) tentang bahaya asap rokok pada balita. Bagi responden yang berpengetahuan luas dan balita tanpa ISPA, hal ini disebabkan karena responden kesulitan memahami cara pencegahan ISPA, antara lain dengan menerapkan pola hidup sehat, menghindari faktor penyebab ISPA, dan menggunakan masker di sekitar balita. Sedangkan pada responden yang berpengetahuan kurang dan anaknya yang masih kecil mengidap ISPA hal ini disebabkan karena responden kurang mengetahui prevalensi ISPA karena kurangnya informasi yang dikumpulkan dan karena responden tidak ingin memperdalam ilmunya, misalnya dengan belajar lebih jauh informasi dari sumber terpercaya. Kurangnya pemahaman responden mengenai prevalensi ISPA juga disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan orang tua khususnya ibu. Orang tua kurangnya pengetahuan tentang ISPA dapat mempengaruhi kasus ISPA pada balita. Jika orang tua tidak mengetahui cara pencegahan dan pengobatan pada balita, dan jika orang tua tidak memahami secara jelas tanda dan gejala ISPA serta penyebab ISPA maka akan menyebabkan terulangnya angka ISPA pada balita. Diharapkan kepada pemerintah khususnya tenaga kesehatan untuk lebih memberikan bimbingan, pengetahuan dan nasehat mengenai pencegahan dan pengobatan ISPA. Saat itu, masyarakat juga perlu lebih memperhatikan kesehatan lingkungan, sanitasi lingkungan serta ilmu pengetahuan dan kesehatan anak dengan memberikan nutrisi untuk mencegah paparan ISPA. (Firsty Putri Anggun Floreza, mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, anggunputri726@gmail.com)
