Konselor PIKR UMLA Sukses Motivasi-Solusi Masalah Mahasiswa-Alumni
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG–Terima kasih pak selama ini panjenengan sudah memberikan masukan baik, motivasi dan semangat di hidup saya, yang tentunya mempunyai arti tersendiri di hidup saya. Sekali lagi terima kasih pak…..Itulah penggalan isi pesan WA dari salah satu klien Konselor Pusat Informasi Konseling Remaja (PIKR) Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Mohamad Saifudin, M.Kes, Ns, S.Psi, M.Kes, disapa ustadz Udin.
Penggalan isi WA tersebut dijelaskan ustadz Udin hasil dari konsultasi seorang klien-nya apakah berasal dari mahasiswa. alumni bahkan rekan sejawatnya. Hal ini tentu saja membuat definisi bahagia itu sederhana.
Yakni saat seseorang bisa dan berusaha membuat orang lain bahagia, Insya Allah kebahagiaan itu akan datang tanpa diminta di dalam kehidupan seorang tersebut. Ibaratnya jika seseorang melempar boomerang yang pada akhirnya boomerang itu akan kembali kepada si pelempar tadi.
Ya, boomerang kebaikan, lanjut ustadz Udin memberikan contoh lagi kutipan isi WA dari kliennya…hanya ingin mengabarkan naskahku lolos dan diterbitkan dan dapat title penulis terpilih.terima kasih atas dukungannya waktu itu. Inilah fungsinya saling berbagi ilmu yang dipahami, aplikasikan meski sedikit karena sebenarnya yang sedikit itu belum tentu sedikit menurut Allah dan sebaliknya yang besarpun belum tentu besar nilainya menurut Allah.

Ustadz Udin lantas menguatkan sabda Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam Wahai manusia beramalah sesuai kemampuanmu, karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sampai kalian bosan, karena sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling rutin dikerjakan meskipun sedikit (HR. Bukhari, 5861).
Atas dasar itulah, ustadz Udin menjalankan amanah sebagai konselor UMLA terus berbuat dan berperilaku yang bisa menyenangkan orang lain, karena banyak saat sesi konsultasi, klien sebagian besar mengatakan saat komunikasi dan menceritakan masalahnya kepada teman atau orang lain, selalu mengatakan dan mengentengkan masalah klien.
“Ah, hal seperti itu saja dipikirkan, itu mah gampang, dan tidak usah dipikirkan dan itu menurut klien sangat menyakitkan,” ucap ustadz Udin.
Menganggap sepele suatu masalah, tandas ustadz udin, dari kacamata ilmu psikologi dan kesehatan dinamakan kurang empati ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain tanpa ikut larut dalam permasalahan yang dialaminya. Sebagai konselor harus paham bahwa setiap manusia tidak akan sama dalam menerima permasalahan termasuk cara menyelesaikan masalah, mekanisme dan pertahanan diri orang tersebut.

Inilah yang membedakan seseorang dalam mengahdapi persolan menurut orang lain itu mudah tapi menurut yang lain sangat sulit. Ssalah satu sebabnya karena belum pernah merasakan apa yang sudah dirasakan orang lain. Itu sebabnya seseorang harus bijak ketika menjadi tumpuhan curhat masalah orang lain. Inilah yang dinamakan konsep human is unix, dalamnya laut dapat diukur namun isi hati seseorang tidak akan pernah ada yang mengetahui.
Lebih lanjut ustadz Udin menuturkan idealnya seorang muslim bisa mengamalkan yang paling dicintai Allah yaitu rasa senang yang engkau masukan ke dalam hati seseorang muslim, atau engkau hilangkan rasa laparnya atau engkau lunaskan hutang-hutangnya, atau engkau hilangkan kesulitanya. (HR. At. Tabrani).
“Saat kita belum bisa meringankan beban seseorang setidaknya kita berusaha untuk memberikan kebahagiaan, kesenangan dalam hatinya, meskipun kita tidak mampu membantu penyelesaian masalah, setidaknya menjadi pendengar yang baik, membuat mereka lebih ringan beban berpikirnya dan Insya Allah mengobati hati mereka,” pungkasnya. (rilis: syaifudin/editor: doni osmon)
