Inovasi BOT Whatsapp PMM 40 UMM Tingkatkan Layanan Publik Desa Kemantren
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang kelompok 40 gelombang 9 merupakan kegiatan pendampingan dan pelayanan yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM) untuk melakukan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dalam menerapkan aplikasi, desain, teknologi, atau perubahan sosial ke arah yang lebih baik. Kegiatan PMM ini wajib diikuti mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Malang. Tujuan dari diadakannya kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Salah satu kelompok yang mengikuti kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah kelompok 40 gelombang 9 atau PMM 40 UMM, dengan skema PMM Bhaktiku Negeri. Kelompok ini terdiri dari Mazen Fayiz, Milan Alifian, Hilmi Naufal, Febriansyah Ilham, dan Prabu Shakti dengan Dosen Pembimping Lapang (DPL) Ir. Denar Regata Akbi, S.Kom., M.Kom. PMM 40 UMM mengusung program kerja (proker) program pemberdayaan innovasi Bot Whatsapp dalam meningkatkan efektivitas pelayanan di Desa Kemantren, Jabung, Kabupaten Malang.
Dijelaskan salah satu anggota PMM 40 gelombang 9, Mazen Fayiz bahwa Desa Kemantren memiliki potensi besar dalam sumber daya manusia, keberlanjutan tradisi, dan ekonomi lokal. Namun, kendala akses informasi terbatas akibat jam kerja memerlukan solusi inovatif. Untuk mengatasi hal ini, penggunaan BOT WhatsApp diusulkan sebagai solusi untuk meningkatkan fleksibilitas akses informasi, memfasilitasi koordinasi, dan komunikasi sepanjang waktu.
Program Pemberdayaan Inovasi BOT WhatsApp di Desa Kemantren diharapkan dapat memberikan solusi konkret untuk meningkatkan kualitas hidup dan pelayanan terhadap masyarakat desa.
Tujuan Program Pemberdayaan Inovasi Bot WhatsApp pertama memberikan pengetahuan mendalam tentang cara memanfaatkan inovasi bot WhatsApp. Kedua mendorong warga untuk merumuskan dan mengimplementasikan solusi inovatif menggunakan bot WhatsApp. Ketiga, meningkatkan efektivitas layanan di desa melalui otomatisasi dan interaksi yang lebih baik.
Pemberdayaan Bot WhatsApp untuk meningkatkan efektivitas pelayanan di Desa Kemantren merupakan inisiatif yang mengintegrasikan teknologi dalam meningkatkan kualitas layanan masyarakat. Dengan melibatkan Bot WhatsApp, penduduk Desa Kemantren dapat dengan mudah mengakses informasi terkini, mengajukan pertanyaan, serta mendapatkan layanan pelayanan tanpa harus secara fisik datang ke kantor desa.
Tujuan kegiatan ini untuk menciptakan konektivitas yang lebih baik antara pemerintah desa dan warganya, meningkatkan aksesibilitas informasi, dan mengoptimalkan proses administratif secara efisien melalui pemanfaatan teknologi komunikasi.
Program Pemberdayaan Inovasi Bot WhatsApp di Desa Kemantren oleh PMM 40 UMM merupakan langkah yang signifikan dalam menghadirkan solusi inovatif untuk kendala akses informasi dan meningkatkan efektivitas pelayanan. Dengan melibatkan teknologi, diharapkan program ini tidak hanya memberikan solusi praktis tetapi juga menjadi contoh inspiratif bagi desa-desa lain di Indonesia. Diharapkan pula bahwa partisipasi masyarakat dalam program ini akan memperkuat ikatan antara pemerintah desa dan warganya, menciptakan kolaborasi yang positif untuk pembangunan berkelanjutan.

Kesinambungan program dan dukungan dari berbagai pihak akan menjadi kunci keberhasilan, sehingga Desa Kemantren dapat terus berkembang dan menjadi contoh desa yang maju melalui pemanfaatan teknologi dan pelestarian budaya lokal.
Perlu diketahui, Desa Kemantren mempunyai potensi ekonomi keberadaan pasar desa yang mendukung penjualan produk lokal seperti tahu, tempe, tape, dan sayur mayur. Selain itu, diversifikasi ekonomi terjadi melalui home industri seperti kerajinan kayu dan anyaman bambu, serta usaha angkutan.
Potensi sumber daya alam desa mencakup tanah subur yang luas, memberikan peluang peningkatan produktivitas pertanian dan pengembangan peternakan, termasuk sapi pedaging. Upaya untuk memanfaatkan sisa kotoran ternak untuk pupuk organik dan biogas menunjukkan komitmen terhadap pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Tradisi Pekan Budaya, yang diadakan setiap tahun seiring perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, menjadi momen penting dalam melestarikan kebudayaan lokal Desa Kemantren. Acara ini menggabungkan tradisi selamatan desa dengan semangat patriotisme nasional, menciptakan kebersamaan dalam merayakan kemerdekaan sambil mempertahankan kekayaan budaya lokal.
Sejarah nama Kemantren pada masa lalu berasal dari Mbah Mantri di Dusun Alas Kulak atau Hutan Pohon Kulak, merupakan sejenis tanaman mirip pohon bambu, memainkan peran penting dalam pembangunan desa. Saat ini, makam Mbah Mantri terletak di Dusun Putuk Rejo RT.05/RW.05, dan ada juga versi lain yang menyebut banyak pesantren dan penduduk desa yang “mondok” di pesantren-pesantren, sehingga desa ini disebut “Kemantren” yang berarti desa yang dihuni oleh banyak santri. (rilis: pmm 40 umm gelombang 9)
