Hubungan Kesehatan Mental Terhadap Maraknya Tindakan Bunuh Diri
Penulis : Valen Hapsari, mahasiswa Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Kesehatan mental adalah suatu kondisi yang terjadi pada seorang individu yang berhubungan dengan batin dan watak manusia. Pada masa remaja saat ini, sering sekali terjadi gangguan kesehatan mental akibat suatu tekanan baik dari lingkungan ataupun orang di sekitar mereka. Kesehatan mental juga diartikan dengan perubahan yang terjadi pada pola pikir atau emosi seorang individu yang dapat menggangu kinerja aktivitasnya sehari-hari. Kesehatan mental sendiri sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Mental yang sehat dapat membuat kita berpikir positif sehingga dapat mewujudkan kesehatan yang menyeluruh. Seseorang yang memiliki gangguan kesehatan mental, mereka akan kesulitan dalam mengendalikan amarah, tidak dapat berfikir positif, dan beranggapan tindakan atau keputusan yang mereka ambil merupakan hal yang tepat.
Kesehatan mental saat ini sebagian besar telah menyerang anak muda atau lebih dikenal dengan sebutan gen Z. Apabila kesehatan mental sudah menyerang pada anak-anak maupun remaja, maka nantinya akan dapat mempengaruhi kejiwaannya hingga dewasa. Kesehatan mental ini memberikan dampak buruk, bahkan fatal bagi individu dan orang-orang sekitarnya. Kesehatan mental yang terjadi pada seseorang bisa berubah dengan berjalannya waktu. Hal tersebut tergantung dengan apa yang mereka alami dalam kehidupannya. Biasanya, kesehatan mental terjadi ketika seseorang menghadapi suatu tuntutan atau beban yang melebihi kemampuan yang dimiliki orang tersebut. Banyak sekali berita yang beredar akhir-akhir ini, yang diduga salah satu faktornya adalah gangguan kesehatan mental. Salah satu berita yang sedang trending di media sosial Indonesia, yaitu kasus bunuh diri yang terjadi pada remaja SMA dan mahasiswa. Keduanya memiliki keterkaitan yang mana jika seseorang sudah terkena gangguan mental mereka mungkin akan mengalami keputusasaan, tidak dapat mengontrol emosi, dan kehilangan harapan atau arah dalam hidupnya yang nantinya dapat menimbulkan risiko terjadinya bunuh diri.
Menurut World Mental Health, gangguan kesehatan mental yang saat ini terjadi pada mahasiswa sedang meningkat sekitar 10% selama kurang lebih sepuluh tahun ini. Gangguan depresi atau mental jika dibiarkan dan tidak ditindak lanjuti atau diobati maka akan terjadi resiko terjadinya bunuh diri. Bunuh diri merupakan kejadian kematian yang terjadi pada banyak umur, baik yang muda maupun tua. Kejadian bunuh diri di Indonesia sendiri sangat memprihatinkan di mana banyak terjadi di kalangan remaja lebih tepetnya pada kalangan mahasiswa rata-rata mereka tertekan dengan permasalahan akademik dan tekanan dari lingkungan sekitar, seperti berita yang banyak beredar pada media masa tanggal, 12 Oktober 2023 “Mahasiswa 21 Tahun Meninggal Diduga Bunuh Diri di Mall Paragon Semarang”. Seharusnya ada tindakan atau perhatian khusus dari semua pihak atas kejadian bunuh diri ini. Jika, tidak ada perhatian khusus atas tindakan ini, maka akan dianggap bahwa bunuh diri menjadi solusi tepat dalam menyelesaikan masalah bagi mereka yang depresi atau mengalami gangguan mental. Dalam hal ini, mereka seolah-olah seperti tidak memiliki sebuah harapan atau usaha untuk melanjutkan kehidupan.
Hasil Riset Kesehatan Dasar menunjukkan angka prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia 1.7 permil, artinya ada sekitar 1.7 kasus gangguan jiwa berat di antara 1000 orang penduduk Indonesia. Gangguan jiwa berat adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan terganggunya kemampuan menilai realitas dan tilikan diri (insight) yang buruk. Gejala yang menyertai gangguan ini antara lain berupa halusinasi, wahan, gangguan proses pikir dan kemampuan berpikir, dan tingkah laku aneh seperti katatonik (Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013).
Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di tengah mahasiswa seharusnya menjadi perhatian khusus bagi para sifitas akademik seluruh universitas atau perguruan tinggi. Meskipun, penyebab utama bunuh diri tidak dapat kita lihat dari satu faktor saja. Upaya pencegahan bunuh diri memerlukan koordinasi dan kolaborasi antar berbagai sektor masyarakat, termasuk sektor kesehatan dan sektor lain seperti pendidikan. Meningkatkan kesadaran kepada masyarakat merupakan hal yang penting bagi negara-negara untuk mencapai kemajuan dalam mencegah tindakan bunuh diri.
Semakin kita bertumbuh dewasa, maka akan betambah pula tantangan yang nantinya dihadapi. Banyaknya suatu tuntutan dan tinggi target sebuah pencapaian sering kali menjadi faktor terganggunya kesehatan mental. Sebagai pencegahan untuk mengatasi adanya gangguan mental dan tindakan bunuh diri pada mahasiswa, yaitu melakukan sharing pengalaman bersama teman. Karenan tekanan bisa menjadi sangat berat jika kita menanganinya sendiri, jadi wajar jika nantinya merasa stress dan jangan pernah sesekali menyimpannya sendiri. Kemudia kita bisa melakukan kegiatan yang dapat mengurangi gangguan mental dengan olahraga selama beberapa menit sehari. Lalu juga dapat meluangkan waktu untuk diri sendiri, seperti menonton film, menggambar, mendengarkan musik dan apapun yang dapat membuat diri kita senang dan istirahat yang cukup dengan mengatur pola tidur yang benar.
Terkadang remaja atau seseorang dengan gangguan mental membutuhkan dukungan sosial yang entah datangnya dari keluarga, teman, dan orang terdekat. Dukungan yang paling utama biasanya didapat dari keluarga sebelum teman dan orang terdekat, karena menjadi sumber dukungan yang paling utama bagi remaja. Jika seorang remaja kurang mendapatkan dukungan dari keluarga maka akan dapat meningkatkan adanya tindakan bunuh diri dalam kondisi depresi. Dukungan dari teman dan orang terdekat juga sangat berpengaruh, karena masa remaja adalah fase dimana kita mencari jati diri kita. Kurangnya dukungan sosial dapat mengakibatkan pikiran negatif untuk melakukan bunuh diri.
Pada pembahasan awal artikel ini sangat menyorot pada hubungan antar kesehatan mental dengan maraknya tindakan bunuh diri. Upaya kita sebagai generasi muda dapat dengan meningkatkan kesadaran, mengatasi adanya gangguan mental dan pentingnya dukungan sosial yang penting untuk pencegahan tindakan bunuh diri. Bunuh diri sendiri merupakan permasalahan serius yang akhir-akhir ini banyak menyerang para remaja. Dalam hal seperti ini sangat perlu sekali melakukan pendekatan dengan pencegahan yang luas dan menyeluruh. Serta perlu adanya perhatian khusus dan dukungan sosial dari orang-orang sekitar. (penulis: valen hapsari, mahasiswa Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, valenhapsari19@gmail.com)
