Hubungan Faktor Stunting Pada Anak Dengan Faktor Penyebab Stunting dan Pencengahannya
Penulis: Riska Anggraeni Paramudita, ProdiKeperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Satu diantara permasalahan kesehatan yang dialami di Indonesia khususnya pada anak ialah kondisi stunting yang telah menjadi perhatian nasional. Adapun target penurunan stunting pada tahun 2024 sebesar 14%, sedangkan di tahun 2022 masih diangka 24%. Stunting adalah gangguan pertumbuhan pada anak yang diakibatkan oleh gizi yang buruk atau kurang dalam waktu yang cukup lama. Berdasarkan World Health Organization (WHO) kejadian stunting di Indonesia ialah masalah serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan serius. Sehingga pemerintah Indonesia harapannya menjadikan program penanggulangan stunting menjadi program prioritas nasional yang membutuhkan penyelesaian komprehensif guna meminimalisir kenaikan peristiwa stunting. Stunting disebabkan oleh asupan makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi sehingga mengakibatkan terhambatnya tumbuh kembang anak, terutama tinggi badan di bawah usia, serta menurunnya kemampuan motorik dan kognitif. Tetapi Perpres No.72/2021 perihal Percepatan Penurunan Stunting menjelaskan stunting ialah kelainan tumbuh kembang anak yang disebabkan oleh gizi buruk dan penyakit menular yang dapat dilihat dengan adanya kelainan pada tinggi atau panjang badan kurang dari standar normal yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Stunting memiliki dampak pada kualitas kehidupan manusia baik itu pada periode waktu singkat ataupun lama.
Efek stunting pada periode singkat, pada kasus stunting bisa menyebabkan kegagalan dalam pertumbuhan anak atau balita, mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif maupun motorik dari anak serta gangguan kesehatan lainnya. Sedangkan dalam jangka panjang akan menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual atau kecerdasaan usia dewasa menjadikan produktivitas yang rendah karena kondisi stunting ini berkaitan dengan syaraf-syaraf dan sel otak sehingga penyerapan dalam proses pembelajaran menjadi lambat serta meningkatnya resiko yang tinggi pada penyakit metabolik. Anak usia di bawah 5 tahun bisa mengalami kegagalan pertumbuhan di 1.000 HPK (hari pertama kehidupan) bila kekurangan gizi menyebabkan gangguan tumbuh kembang. Permasalahan stunting ialah permasalahan kesehatan bagi banyak orang dan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit hingga kematian, serta gangguan perkembangan intelektual dan keterampilan motorik.
Peristiwa stunting pada anak biasanya disebabkan oleh penyebab secara langsung misalnya rendahnya konsumsi nutrisi pada waktu yang cukup lama, terjadinya infeksi ketika balita, kesehatan ibu ketika mengandung, faktor keturunan serta ketidakberhasilan dalam pemberian ASI secara eksklusif. Selain itu, ada faktor lain yang menimbulkan stunting terhadap balita, tetapi begitu bergantung satu sama lain, maka keadaan lingkungan dan keluarga yang menjadi dampak pada status gizinya. Salah satu berkurangnya gizi disebabkan seringnya terjadi infeksi. Jadi dari faktor tersebutlah dapat memudahkan infeksi berdampak pada status gizi anak. Menurut Calder et al (2004) memaparkan, bersumber hasil riset yang telah dijalankan, aspek keturunan menyebabkan stunting sebesar 15%, masalah konsumsi gizi terhadap anak balita, serta hormon pertumbuhan yang menjadi faktor penentu paling dominan. Di sisi lain permasalahan gizi tidak selalu terjadi pada keluarga yang kurang mampu, bahkan banyak balita berasal dari keluarga kurang mampu memiliki status gizi yang baik dan tinggi badan normal (tidak stunting) berdasarkan pola asuh yang diterapkan oleh keluarga kurang mampu. Keterbelakangan pertumbuhan tidak senantiasa terjadi pada anak yang bertubuh pendek. Tetapi bila tinggi badan ada di bawah standar tinggi badan anak pada umumnya, kegagalan pertumbuhan dapat dipertimbangkan. Ciri-ciri dari stunting yaitu pertumbuhannya lambat, wajahnya tampak lebih muda dari usia anak umumnya, berat badan menurun, kemampuan fokus dan memori belajarnya kurang, anak berubah menjadi sering diam, pada saat tumbuh gigi menjadi melambat, namun pada periode lama untuk anak perempuan berpotensi melambatnya haid pada pertama kali, dan anak lebih gampang sakit atau tumbang.
Penyebab stunting yang sering dialami adalah kurang baiknya pengasuhan, minimnya pemahaman ibu terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebelum mengandung, ketika mengandung, serta pasca bersalin, pemberian ASI ekslusif serta status imuninasi, kurangnya persedian air bersih dan sanitasi, tidak memperhatikan bobot tubuh ibu. Sehingga tidak ada peningkatan berat badan ketika mengandung ataupun bobot tubuh ibu dibawah ideal. Akses layanan medis terbatas, dan kurangnya pembelajaran sejak dini, serta anak lebih mudah menderita penyakit yang menghalangi penyerapan nutrisi (kelainan).
Penyembuhan stunting bisa diselaraskan berdasarkan penyebabnya seperti membenahi gizi dan nutrisi yang dibutuhkan, pemberian suplemen, penerapan gaya hidup sehat baik dalam pola makan maupun lingkungan. Selain itu, ada beberapa penanganan yang bisa dilakukan dalam kasus stunting yaitu dengan melakukan pengobatan sesuai penyakit yang didasarinya, memberikan informasi terkait nutrisi tambahan, serta memberikan edukasi kepada keluarga agar selalu mengajari anak melakukan penerapan perilaku hidup bersih, dan membenahi sanitasi.
Pencegahan stunting sangat menjadi peran penting, tanggung jawab bersama, dan membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak. Ada beberapa hambatan yang terjadi dalam pencegahan stunting, diantaranya keterlambatan dalam informasi yang didapatkan oleh daerah dan desa, terputusnya informasi dan kondisi demografi daerah atau desa yang berbeda. Sehingga harus segera menangani hambatan tersebut dan segera memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar. Edukasi gizi ialah sebuah metode dan usaha guna mengoptimalkan pemahaman tentang perilaku cara menjaga pola makan dan gizi yang sesuai dengan nutrisi yang dibutuhkan. Serta pendekatan untuk meningkatkan pengetahuan tentang stunting dan merubah pola pikir remaja terhadap gizi. Edukasi bisa dijalankan dan dilaksanakan melalui penyuluhan secara langsung dan melalui media. Selain itu, pencegahan stunting bisa dijalankan melalui bagaiman cara pemenuhan kebutuhan nutrisi dan gizi pada ibu mengandung sehingga tercapainya status gizi yang optimal, pemberian ASI ekslusif hingga umur 6 bulan. Setelah itu, diteruskan dengan memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup dalam kualitas dan jumlahnya, mengontrol setiap tumbuh kembang balita atau anak ketika melakukan posyandu serta mengoptimalkan layanan pada air bersih, fasilitas sanitasi serta selalu menjaga kebersihan lingkungan. (*)
Penulis adalah Riska Anggraeni Paramudita, mahasiswa Prodi Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, riskaanggraeni390@gmail.com
