Fenomena Kasus Bunuh Diri di Kalangan Remaja Indonesia
oleh : Vinna Alfiana Syahrani, Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Akhir-akhir ini banyak terjadi kasus bunuh diri, seolah-olah dijadikan sebagai tren masa kini di Indonesia. Berdasarkan siaran pers oleh Komnas Perempuan pada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2023 yang dilansir pada 10 Oktober 2023, menyebutkan bahwa sejumlah 663 kasus bunuh diri tercatat dari Januari hingga Juni 2023. Persentase ini semakin meningkat sebesar 36,4 persen dibandingkan dengan tahun 2021. Tren angka bunuh diri ini menunjukkan pola yang menimbulkan kekhawatiran nyata. Bunuh diri banyak terjadi pada kelompok tertentu seperti pada rentan usia muda dan remaja. Pada mereka yang berada di usia ini rata rata mengalami stres ringan hingga stres berat.
Menurut Keliat 2011 bunuh diri merupakan sebuah tindakan yang tragis dan sangat serius, keinginan untuk mati menjadi faktor utama seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Individu yang terdorong untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah mereka yang mengalami kesedihan dan rasa putus asa yang sangat mendalam sehingga mereka memilih mengakhiri hidupnya sebagai jalan keluar dari berbagai masalah. Padahal, mengakhiri hidup bukanlah sebuah solusi, melainkan tindakan konyol. Namun, bagi mereka yang berpikiran buntu, terkadang membuat otak tidak dapat berpikiran jernih sehingga melakukan tindakan bunuh diri.
Meningkatnya angka kasus bunuh diri di Indonesia disebabkan oleh dua faktor yang memicu seseorang melakukannya. Salah satu faktor yang memengaruhi seseorang melakukan tindakan bunuh diri adalah faktor tekanan dari individu, seperti depresi. Depresi merupakan salah satu faktor dengan persentase yang sangat tinggi sehingga memicu adanya tindakan bunuh diri. Depresi bisa terjadi karena masalah-masalah yang menumpuk pada diri seseorang dan tidak dapat teratasi dengan baik. Depresi biasanya timbul karena faktor dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan sekitar atau pertemanan.
Pada depresi yang dipengaruhi oleh individunya sendiri biasanya berawal dari stress kecil. Dapat kita lihat pada sistem pendidikan di Indonesia sangat mengedepankan para siswa untuk berprestasi. Dengan adanya sistem tersebut membuat tekanan pada diri masing-masing individu meningkat dan kecemasan yang berlebih. Hal ini yang membuat seseorang berakhir memilih tindakan bunuh diri untuk menghentikan tekanan yang terus menerus muncul.
Kemudian pada depresi yang dipengaruhi oleh keluarga biasanya terjadi pada anak broken home atau orang tuanya yang sudah berpisah. Ada beberapa dari mereka yang menyaksikan pertengkaran kedua orang tua mereka sehingga menimbulkan trauma yang mendalam. Anak-anak broken home cenderung kurang mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Mereka dipaksa oleh keadaan untuk memendam semua trauma itu hingga banyak dari mereka yang melampiaskan semua amarah dan trauma itu dengan melakukan selfharm hingga bunuh diri karena sudah tidak kuat memendamnya.
Faktor depresi yang terakhir adalah faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan pertemanan. Hal ini ditimbulkan karena seseorang diperlakukan tidak baik oleh teman-temannya dan orang sekitarnya. Atau biasa kita sebut sebagai bullying. Bullying dapat berakibat trauma yang mendalam sehingga seseorang mengalami shock yang berlebih hingga menimbulkan depresi. Bagi seseorang yang memiliki mental yang lemah maka dapat berakibat fatal.
Faktor lainnya yang dapat memengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri adalah faktor ekonomi. Negara Indonesia termasuk negara dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan yang tinggi. Dengan adanya hal ini membuat dampak besar pada individu yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dengan baik. Kesehatan mental mereka terganggu dan merasakan putus asa yang mendalam hingga bunuh diri merupakan sebuah pertimbangan sebagai jalan keluarnya.
Untuk mengatasi tindakan bunuh diri yang kian meningkat di Indonesia dapat dilakukan tindakan-tindakan yang berfokus pada pencegahan, penanganan dini, dan dukungan berkelanjutan. Terdapat enam strategi pencegahan tindakan bunuh diri. Pertama, pendidikan dan kesadaran diri. Peningkatan pendidikan dan kesadaran diri mulai diri mengenai kesehatan mental dan pencegahan bunuh diri dapat menghilangkan stigma mengenai kesehatan mental dan mendorong percakapan terbuka mengenai hal tersebut.
Kedua, perluas akses layanan kesehatan mental. Meningkatkan dan memperluas akses layanan kesehatan mental dapat mengurangi resiko bunuh diri. Hal ini harus dipastikan tersebar luas pada setiap individu. Dengan meluasnya akses layanan kesehatan mental dapat mengurangi resiko bunuh diri karena setiap individu sudah paham bagaimana cara menjaga kesehatan mental yang baik, konsultasi mengenai kesehatan mentalnya, dan setiap individu dapat mengikuti pelatihan-pelatihan dengan banyak professional mengenai kesehatan mental.
Ketiga, komunitas yang mendukung. Mengikuti komunitas-komunitas yang suportif dan mendukung ke arah yang baik dapat membuat kita menjadi orang yang positif. Kita juga harus mengikuti komunitas yang mengutamakan kesejahteraan mental anggotanya dan menyediakan ruang aman bagi setiap individu untuk mencari dukungan dan bantuan demi kesejahteraan bersama.
Keempat, dekati dan pahami kondisi. Saat kita merasa seseorang akan melakukan tindakan bunuh diri kita tidak boleh menghindar karena takut, melainkan kita harus berada disamping mereka. Langkah-langkah yang dapat kita lakukan adalah yang pertama, memberi perhatian penuh kepada mereka dengan cara melibatkan mereka disetiap aktivitas. Yang kedua, menggali perasaan dan sudut pandang mereka tentang permasalahannya hingga mereka menceritakan masalahnya. Ingat, kita harus menunjukkan bahwa kita memahami perasaan mereka. Ketiga, mengajukan pertanyaan mengenai permintaan bunuh diri, harus diungkapkan dengan jelas tanpa kiasan. Keempat, apabila mereka memang berniat untuk bunuh diri selidiki alasannya. Dan yang terakhir, mengulik secara detail dan ajukan pertanyaan penutup mengenai permintaan bunuh diri yang hanya bisa dijawab ya dan tidak.
Kelima, kenali tanda bunuh diri. Ada banyak tanda dan peringatan untuk mengetahui seseorang akan melakukan tindakan bunuh diri yang perlu kita pahami dan waspadai. Biasanya mereka mulai mengasingkan diri, cemas berlebihan, rasa putus asa yang mendalam, memiliki pikiran membenci diri sendiri dan kehilangan minat. Apabila seseorang sudah menunjukkan tanda-tanda tersebut, kita dapat meluangkan waktu lebih banyak untuk berada disampingnya dan menghubungi terapis.
Keenam, memiliki terapis yang terhubung. Bagi individu yang merasa memiliki gangguan pada kesehatan mentalnya diharapkan memiliki terapis yang terhubung dengannya. Dengan adanya terapis dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Apabila merasa sudah tidak kuat menanggung bebannya bisa menghubungi terapis yang terkait.
