Fenomena Hedonisme Berkedok Self Reward
Penulis: Gita Aulia Dwi S, mahasiswaFarmasi, Fikes, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Self reward merupakan istilah yang sering digunakan saat seseorang memberikan hadiah kepada dirinya sendiri. Bentuk self reward diperuntukan kepada diri sendiri yang telah melakukan suatu pekerjaan atau pencapaian serta bentuk apresiasi untuk diri sendiri dalam menghadapi suatu permasalahan. Biasanya self reward dilakukan dengan berbelanja, liburan ke tempat wisata, hingga bermalas-malasan seharian dengan dalih self reward. Namun, tanpa disadari self reward dengan cara seperti itu dapat menimbulkan gaya hidup yang boros serta sifat hedonisme.
Hedonisme merupakan salah satu gaya hidup yang dikenal sebagai trend di kalangan remaja saat ini. Gaya hidup hedon dapat membuat menarik orang yang melihatnya dan menuntut diri sendiri untuk melakukan hal yang sama, terlebih di zaman sekarang, sudah ada banyak platform sosial media seperti instagram, tiktok, ataupun twitter yang membuat para remaja dapat memamerkan gaya hidup hedonnya. Setiap orang menganggap gaya hidup sebagai tren dan kebutuhan bahwa gaya hidup seseorang mencerminkan status sosialnya.

Kehidupan moderen membawa banyak orang memiliki pemikiran yang beragam yang mengekspresikan pemikiran itu di sosial media. Mengenai kesehatan mental yang sering digaung-gaungkan sekarang, banyak orang yang sering megalami validasi perasaan dari opini orang lain di sosial media, termasuk masalah self reward yang seharusnya setiap orang memiliki permasalahan dan kebiasaan yang berbeda dalam menghadapi suatu kegagalan dan keberhasilan. Tetapi, tak sedikit orang juga yang terlalu mengkotakan setiap permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang sama, yaitu self reward.
Mengenai fenomena self reward yang sudah banyak dilakukan oleh banyak orang, ternyata memiliki dampak buruk jika dilihat dari sisi yang berbeda terutama dari sisi gaya hidup yang konsumtif. Bayangkan jika setiap orang memiliki banyak pencapaiannya dan disetiap pencapaiannya selalu melakukan self reward dengan membeli barang-barang yang mahal atau berlibur ke suatu tempat yang jauh. Dapat kita tilik lebih dalam bahwa dalam setiap permasalahan dan pencapaian punya porsi masing-masing tentang ‘hadiah’ apa yang akan kita berikan kepada diri sendiri. Terkadang masih banyak orang yang fomo jika melihat self reward orang lain di sosial media yang membeli barang branded dan memaksa diri sendiri untuk juga dapat melakukan hal yang sama. Padahal, tidak sedikit orang juga yang justru stres karena tidak bisa mengikuti tren self reward itu sendiri.
Pada intinya, self reward merupakan suatu perilaku memberikan hadiah kepada diri sendiri karena telah melakuakn suatu pencapaian atau telah menyelesaikan suatu permasalahn dalam hidup. Namun, self reward di zaman sekarang memiliki pergeseran arti yang dapat menjerumuskan para generasi milenial dan gen z untuk melakukan gaya hidup yang konsumtif atau hedonisme. Padahal, self reward dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal kecil yang dapat membahagiakan diri sendiri tanpa harus mengikuti tren membeli barang-barang mahal dan mengikuti gaya hidup orang lain yang tidak sesuai dengan kemampuan kita.
Pergeseran makna dari self reward justru membuat banyak anak generasi milenial dan gen z terlalu memaksakan dirinya dan menimbulkan gaya hidup yang konsumtif atau hedonisme. Bayangkan jika self reward setelah gajian malah dipakai untuk membeli barang-barang branded dan melakukan liburan tanpa memikirkan aspek lainnya, setelah semua uang habis akibat self reward malah dapat menimbulkan masalah lainnya yaitu stres akibat uang habis. Sehingga, jika ingin melakukan self reward, dilihat terlebih dahulu dari kemampuan diri sendiri serta kita juga harus memahami diri sendiri. Self reward sendiri dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal kecil yang dapat membahagiakan tanpa harus mengikuti tren hedonisme berkedok self reward. (*)
