Fenomena Gizi Buruk Yang Meresahkan
Penulis: Karina Oktavia Dewi, mahasiswa Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHTAI.COM, MALANG – Setiap orang pasti menginginkan gizi yang normal dan seimbang, mempunyai berat badan dan tinggi badan yang ideal. Status gizi yang sehat dan normal menunjukan bahwa memiliki status kesehatan yang baik dapat menurunkan risiko terkena penyakit. Status gizi merupakan kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh kecukupan asupan gizi dan penggunaan zat gizi. Ketika asupan gizi memenuhi kebutuhan makanan status gizi kita akan baik. Namun, ketika asupan gizi kurang atau berlebih maka akan menimbulkan ketidakseimbangan dalam tubuh.
Klasifikasi status gizi dapat dilakukan berdasarkan asupan nutrisi yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi. Nutrisi yang penting untuk diklasifikasi dalam status gizi antara lain protein, energi, vitamin, dan mineral. Statuz gizi seseorang tergantung oleh metabolisme tubuh yang dibutuhkan, jadi tidak semua orang sama.
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan antar perkembangan fisik maupun mental. Dalam masa tumbuh kembang anak kecukupan gizi harus lebih diperhatikan oleh orang tua. Apabila terjadi gangguan gizi baik, gizi kurang, maupun gizi berlebih. Kekurangan zat gizi pada anak mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak menjadi tidak optimal, postur tubuh cenderung pendek, tidak aktif bergerak. Sedangkan kelebihan zat gizi akan meningkatkan resiko penyakit degenerative di masa yang akan dating seperti diabetes, stroke, dan kanker.
Gizi juga berpengaruh dalam menunjang kegiatan belajar disekolah. Gizi yang baik sangat mempengaruhi konsentrasi dan kecerdasan anak dalam menyerap ilmu yang didapat di sekolah. Hal ini penting karena anak sekolah sedang mengalami pertumbuhan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk menunjang kehidupan di masa depan tanpa perlu mengkhawatirkan hal buruk.
Status gizi juga dipengaruhi oleh konsumsi zat gizi dan penyakit infeksi. Konsumsi zat gizi seseorang yang didapatkan dari makanan dan minuman yang dikonsumsi selama 24 jam. Apabila zat-zat gizi yang dikonsumsi pada makanan kurang maka status gizi akan menurun begitupun sebaliknya apabila zat-zat yang dikonsumsi pada makanan sehat maka status gizi akan baik.
Status gizi dan infeksi terdapat interaksi. Infeksi dapat menimbulkan gizi yang kurang melalui mekanismenya. Akibat adanya infeksi akan menyebabkan menurunnya nafsu makan. Jika ini terjadi maka zat gizi yang masuk ke dalam tubuh akan berkurang, dan akan mempengaruhi keadaan gizi menjadi turun dan memburuk. Keadaan gizi yang memburuk akan mengakibatkan sistem kekebalan tubuh itu sendiri menurun sehingga kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri akan berkurang.
Kebutuhan pangan sehari-hari yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan, aktifitas fisik, perilaku hidup bersih, dan mempertahankan berat badan normal secara teratur. Pentingnya untuk mengetahui status gizi anak. Karena pertumbuhan anak di usia balita akan menentukan kesehatannya secara jangka panjang dan periode penting untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Di usia balita adalah usia rawan terhadap berbagai penyakit dan masalah gizi. Faktor-faktor yang mempengaruhi termasuk asupan energi, berat badan lahir, tingkat pendidikan ibu, tingkat pendapatan keluarga, pola asuh anak dan keragaman pangan. Disarankan untuk memberikan asupan energi yang cukup kepada bayi dan balita, memberikan asupan gizi yang baik kepada ibu hamil, meningkatkan pengetahuan ibu, membuka lapangan pekerjaan yang luas, memberikan penyuluhan tentang pola asuh dan memanfaatkan lahan sebagai kebun sayur.
Gizi yang salah berarti seseorang terlalu banyak mengonsumsi gizi atau sangat sedikit mengonsumsi komponen penting dalam gizi dan nutrisi. Terlalu banyak mengonsumsi gizi dan nutrisi juga tidak baik karena dapat mengakibatkan terkena penyakit diabetes tipe dua. Masalah gizi utama di Indonesia terdiri dari masalah gizi pokok yaitu kekurangan energi protein, kekurangan vitamin A, gangguan akibat kekurangan yodium, dan anemia gizi besi, juga obesitas.
Masalah kesehatan akan terjadi jika zat gizi tidak terpenuhi adalah saat seseorang mengalami kekurangan gizi, maka tubuh tidak akan mendapat cukup nutrisi, sehingga menyebabkan wasting (berat badan rendah menurut tunggi badan), stunting (tinggi badan rendah menurut umur), dan kekurangan berat badan (berat badan rendah menurut umur). Tanda seseorang mengalami kekurangan gizi adalah ia akan mudah lelah, konsentrasinya akan menurun, gusi dan mulut sering luka atau nyeri, kulit dan rambut kering. Untuk mendapatkan gizi yang normal dan sehat, pertama kita diharuskan mengonsumsi aneka ragam pangan, namun setiap orang membutuhkan gizi yang berbeda. Kedua membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Ketiga melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga yang dapat memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Keempat sering memantau berat badan dan tinggi badan secara teratur.
Cara mengatasi gizi buruk dengan cara pengobatan, yaitu dengan cara memberikan cairan infus untuk mengatasi dehidrasi, mengobati infeksi dengan pemberian antibiotik sesuai anjuran dokter, memberikan suplemen berupa vitaminA, zat besi dan asam folat, dan yang terakhir memberikan vaksin. Mari kita jaga kesehatan tubuh kita agar terhindar dari berbagai penyakit, dengan cara dimulai dari diri sendiri. Karena kesehatan kita juga berpengaruh pada kesehatan orang lain terutama orang yang berada disekitar kita. Situasi ini bukan hanya dapat menurunkan status kesehatan tubuh namun juga status ekonomi. Tetap terapkan kebiasaan hidup sehat, rajin berolah raga, makan makanan bergizi dan seimbang, istirahat yang cukup, dan yang paling penting jangan mudah stres. Karena jika stres kita akan malas melakukan aktivitas juga malas untuk makan yang sebagaimana makanan yang dikonsumsi akan menentukan status gizi kita. Karena kesehatan mental sangat berpengaruh terhadap pikiran seseorang, merasakan perasaan batin, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sayangi dirimu sendiri sebelum menyayangi orang lain. (*)
