Cuaca Ekstrem, Kesehatan Tidak Stabil
Penulis: Nabilah Insani, mahasiswaProgram Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Fenomena El Nino 2023 berpengaruh terhadap pola cuaca global, termasuk di Indonesia. El Nino merupakan cuaca yang terjadi akibat peningkatan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Suhu menjadi yang lebih hangat dari biasanya ini mengakibatkan pengurangan udara basah di wilayah yang pada akhirnya ikut menaikin suhu yang artinya fenomena ini bersifat global dan dampaknya tidak hanya terjadi di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi El Nino akan berlangsung hingga akhir oktober 2023, bahkan fenomena ini bisa dialami hingga akhir tahun. El Nino dapat memberikan beberapa dampak yang cukup signifikan di Indonesia. Di antaranya kekeringan, kekurangan air bersih, gagal panen, serta kebakaran dan daerah kering justru banjir. Kondisi cuaca panas ini dapat mengancam Kesehatan warga, seperti heat stroke. Masyarakat dihimbau untuk menjaga stamina tubuh dan kecupukan cairan, terutama bagi warga yang beraaktivitas di luar ruangan. Berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi, Klimatogi, dan Geofisika (BMKG) pada 22-29 september 2023, suhu di beberapa wilayah di Indonesia cukup tinggi, yakni 35-38 derajat celcius pada siang hari.
Menurut sisi Kesehatan, perubahan kondisi iklim dapat mengakibatkan penyakit yang ditularkan melalui nyamuk, banjir, dan penyakit – penyakit yang ditularkan lewat air, masalah gizi, hingga dampak mental akibat ketidak pastina ekonomi dan ketegangan sosial. Berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengukapkan dampak El Nino bisa berupa gangguan kekurangan makanan sampai ke malnutrisi, terjadi karena gangguan ketersediaan ketahanan pangan (food security) akibat kombinasi menurunnya higiene sanitasi, perubahan pola hidup penular penyakit. Peningkatan pada penyakit – penyakit yang berhubungan dengan air (water borne disease) seperti yang terjadi akibat keterbatasan ketersediaan air dan sanitasi.
Penurunan akses Masyarakat ke fasilitas Kesehatan dan disurpsi pelayanan Kesehatan, baik karena cuaca panas, atau mungkin bencana alam yang terjadi masa El Nino. Peningkatan penyakit paru dan saluran napas, berhubungan dengan terjadinya polusi udara.
Penyakit akibat cuaca panas (heat stress) juga berdampak psikososial dan kejiawaan. Peningkatan penyakit tular vektor (vector borne disease) karena perubahan pola hidup vektor seperti nyamuk, tikus dll dengan segala dampaknya. Terjadinya benvana alam yang dapat mengakibatkan orang mengungsi dengan berbagai akibatnya. Dampak langsung yang terjadi berupa kecederaan dan bahkan mengakibatkan kematian akibat cuaca ekstrem dan juga bencana yang terjadi. El Nino dapat memicu risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat. Minimnya curah hujan membuat sejumlah wilayah mengalami kekeringan, sehingga di khawatirkan akan menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Musim kemarau yang berkepanjangan dari awal tahun 2023 memicu terjadinya kebakaran hutan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan. Kabut asap karhutla juga telah memperburuk kualitas udara. Alat pengukur Indeks Pencemaran Udara (ISPU) di Jalan Lambung Mangkurat, Kota Banjarmasin,menunjukan, udara Banjarmasin sangat tidak sehat. ISPU di Banjarmasin tercatat 220 dan berwarna merah atau sangan tidak sehat. Dinas Pendidikaan Kota Banjarmasin juga sudah membuat surat edaran PJJ pada 3 oktober 2023. Dalam surat edaran itu disebutkan, PJJ dilaksanakan 4-7 oktober 2023 karena kondisi udara di Banjarmasin kurang sehat akibat kabut asap.
Cuaca panas ekstrem adalah cuaca adalah kondisi cuaca dimana suhu udara mencapai tingkat tidak biasa tinggi dan berlangsung waktu yang lama. Cuaca panas ekstrem merupakan fenomena cuaca yang ditandai oleh suhu udara yang sangat tinggi dan berkepanjangan. Hal ini dapat memiliki dampak serius pada lingkungan, kesehatan manusia, dan ekonomi. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan kekeringan, kebakaran hutan, dan kerusakan tanaman pertanian, selain itu, cuaca panas ekstrem juga dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia, menyebabkan penyakit panas dan dehidrasi. Perubahan iklim diyakini menjadi salah satu penyebab meningkatnya cuaca panas ekstrem, Fenomena ini semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia, dan banyak negara telah mengambil tindakan untuk mengatasi dampaknya. Upaya mitigasi perubahan iklim, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan adaptasi terhadap cuaca panas ekstrem menjadi langkah penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan manusia di masa depan.
Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam situasi cuaca panas ekstrem adalah
Suhu yang sangat tinggi Cuaca panas ekstrem ditandai oleh suhu udara yang jauh diatas rata-rata normal untuk daerah tersebut, suhu dapat melebihi 40 derajat Celcius atau bahkan lebih tinggi, Durasi yang Panjang Cuaca panas ekstrem tidak hanya berlangsung selama beberapa jam, tetapi seringkali dapat berlangsung elama beberapa hari, minggu, atau bahkan lebih lama. Ini dapat mengakibatkan tekanan yang signifikan pada lingkungan, kesehatan manusia, dan sumber daya air, Kekeringan Cuaca panas ekstrem seringkali berhubungan dengan kekeringan, di mana curah hujan sangat rendah atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini dapat berdampak negative pada pertanian, suplai air, dan ekosistem alam, Ancaman Kesehatan Suhu tinggi dapat membahayakan Kesehatan manusia. Orang yang rentan seperti anak-anak, orang tua, dan individu dengan penyakit kronis lebih rentan terhadap panas ekstrem. Ini dapat menyebabkan berbagai masalah Kesehatan, termasuk penyakit panas, kelelahan panas, dan bahkan kematian,
Kerusakan Lingkungan Cuaca panas ekstrem dapat merusak lingkungan termasuk hutanyang rentan terhadap kebakaran, ekosistem Sungai yang mengalami penurunan air, dan gangguan pada kehidupan liar, Peningkatan Risiko Kebakaran Hutan Kondisi kering yang sering terkait dengan cuaca panas ekstrem dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan. Kebakaran hutan ini dapat memiliki dampak besar pada lingkungan dan kualitas udara, Perubahan Iklim Cuaca panas ekstrem sering dihubungkan dengan perubahan iklim global, Aktivitas manusia seperti peningkatan emisi gas rumah kaca dapat menyebabkan peningkatan suhu rata-rata di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan risiko cuaca panas ekstrem. (Nabilah Insani, mahasiswaProgram Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang, nabilainsani2005@gmail.com)
