Ber-Muhammadiyah dengan Keluwesan
Oleh: Fathan Faris Saputro, mahasiswa Magister Pendidikan Islam UM Surabaya dan Penulis Buku Luwesitas IMM
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMONGAN – Muhammadiyah, sebagai gerakan dakwah Islam yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912, telah menjadi kekuatan yang signifikan dalam perjalanan sejarah Islam di Indonesia. Dakwah yang diusung oleh pendiri Muhammadiyah ini tidak hanya teguh pada prinsip-prinsip Islam, tetapi juga menonjolkan keluwesan dalam praktiknya. Teguh pada nilai-nilai Islam yang murni, Muhammadiyah menjadi simbol perubahan dan kemajuan dengan sentuhan kesantunan dalam berdakwah.
Dalam perjalanan sejarahnya, Muhammadiyah telah menunjukkan keberhasilannya dalam menyebarluaskan ajaran Islam dengan pendekatan yang luwes. Pemikiran dakwah KH Ahmad Dahlan yang kuat pada prinsip-prinsip Islam tidak pernah menyebabkan gerakan ini terperangkap dalam kekakuan dogmatis. Sebaliknya, Muhammadiyah menjadi teladan dalam menyebarkan nilai-nilai Islam dengan menggandeng kearifan lokal, mengadaptasi diri terhadap perubahan zaman, dan menghargai keberagaman.
Pernyataan Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, menjadi cerminan penting terkait karakteristik Muhammadiyah yang terus berkembang. Beliau menyoroti konsep moderasi dalam Muhammadiyah, terutama dalam sepuluh sifat kepribadian Muhammadiyah. Salah satu aspek yang menjadi fokus adalah penekanan pada pentingnya memperbanyak teman, yang kemudian diikuti oleh usaha membangun ukhuwah. Pada intinya, Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan kebenaran agama, tetapi juga mengajak umat Islam untuk memperluas jaringan sosial dan menjalin persaudaraan.
Berkaitan dengan moderasi, Prof. Biyanto, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, menegaskan bahwa nilai ini memiliki relevansi yang besar dengan konsep luas dan luwes. Ia meminjam istilah dari almarhum Malik Fadjar, seorang tokoh Muhammadiyah, yang menyebutkan bahwa pemimpin Aktivis Muhammadiyah perlu bersikap luas dalam wawasan. Luas wawasan ini kemudian menjadi landasan untuk bersikap luwes, terutama dalam menyikapi keragaman dan perbedaan.
Dalam konteks ini, karakter Muhammadiyah dapat diartikan sebagai organisasi moderat yang tidak hanya berpegang pada nilai-nilai klasik Islam, tetapi juga membuka diri terhadap dinamika zaman. Muhammadiyah tidak sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mengedepankan toleransi, dialog, dan sikap terbuka terhadap berbagai pandangan. Keberanian Muhammadiyah untuk bersikap luwes dalam menghadapi perbedaan adalah salah satu kunci keberhasilannya dalam menyebarluaskan pesan Islam di tengah masyarakat yang beragam.
Secara keseluruhan, ber-Muhammadiyah dengan keluwesan bukanlah sekadar semboyan kosong. Ia mencerminkan keterampilan gerakan dakwah ini dalam memadukan keteguhan prinsip dengan keluwesan praktik. Dengan demikian, Muhammadiyah tidak hanya menjadi penjaga keaslian ajaran Islam, tetapi juga menjadi pelopor dalam merespons tantangan zaman dengan cara yang bijaksana dan beradab.
Keberhasilan Muhammadiyah dalam menjalankan dakwahnya dengan keluwesan tidak terlepas dari semangat untuk terus berinovasi dan beradaptasi. Muhammadiyah senantiasa berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan akar nilai-nilai keislaman yang mendasar. Sikap terbuka terhadap perubahan tidak menjadikan Muhammadiyah melupakan warisan intelektual dan spiritual yang ditinggalkan oleh pendiri, KH Ahmad Dahlan.
Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki peran krusial dalam menciptakan keseimbangan antara tradisi dan modernitas. Gerakan ini tidak sekadar melibatkan diri dalam ranah keagamaan, tetapi juga aktif dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Keberagaman inilah yang membuat Muhammadiyah menjadi kekuatan holistik yang tidak hanya memberikan pemahaman agama, tetapi juga memberdayakan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Pentingnya bersikap luwes dan melibatkan diri dalam ukhuwah menunjukkan bahwa Muhammadiyah memahami esensi dari ajaran Islam sebagai agama rahmatan lil-alamin, yakni rahmat bagi seluruh alam. Dalam konteks ini, Muhammadiyah tidak hanya berinteraksi dengan umat Islam sendiri, tetapi juga terbuka untuk berdialog dan berkolaborasi dengan yang lain. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai moderasi yang diusung oleh gerakan ini.
Sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang, Muhammadiyah tidak pernah kehilangan fokus pada nilai-nilai kemanusiaan. Gerakan ini selalu mengajarkan untuk berbuat baik, membantu sesama, dan menyebarkan nilai-nilai toleransi. Sikap luwes dalam berdakwah juga tercermin dalam kemampuan Muhammadiyah untuk menjawab tantangan-tantangan kemanusiaan, seperti bencana alam, kemiskinan, dan ketidaksetaraan.
Menyimak perjalanan panjang Muhammadiyah dan nilai-nilai yang dipegang teguh, menjadi jelas bahwa keberhasilan gerakan ini bukan hanya dalam aspek pertumbuhan jumlah anggota atau jangkauan dakwahnya, tetapi juga dalam kemampuannya untuk tetap relevan dan bermanfaat bagi masyarakat. Keberlanjutan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang inklusif dan progresif memerlukan keluwesan dalam menjawab dinamika masyarakat dan menghadapi perkembangan zaman.
Ber-Muhammadiyah dengan keluwesan merupakan panggilan untuk terus membangun harmoni antara kekayaan tradisi dan keberanian menghadapi perubahan. Dengan memahami nilai-nilai Islam secara mendalam dan mempraktikkannya dengan keluwesan, Muhammadiyah tidak hanya menjadi pelopor dalam menyebarkan kebaikan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam lainnya di seluruh dunia. Keberlanjutan dan relevansi Muhammadiyah akan terus berkembang sejalan dengan kemampuannya untuk bersikap luas dan luwes dalam mengemban misi dakwah dan kemanusiaan.
(Penulis adalah Mahasiswa Magister Pendidikan Islam UM Surabaya dan Penulis Buku Luwesitas IMM)
