Inovasi Kreatif, PMM 24 UMM Manfaatkan Sampah Organik Sebagai Produk Bernilai Jual di Desa Tegalgondo
TABLOID MATAHATI.COM, MALANG – Kegiatan Pengabdian Masyarakat Oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang merupakan suatu agenda yang wajib dilakukan bagi semua mahasiswa yang sedang aktif di universitas tersebut. Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi mahasiswa kepada masyarakat. Program Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (PMM UMM). PMM ini menjadi sarana bagi para mahasiswa untuk menyalurkan berbagai kegiatan positif kepada masyarakat. Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kali ini Kelompok 24 dari Gelombang 9 yang beranggota 5 orang yaitu Fanianing Tias Putri, Salsabila Nur Husnia, Septi Kurniawati, Maya Rosita dan Khuzanatul Mahfiyah, dengan bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Febri Arif Cahyo Wibowo, S.Hut. M.Sc melakukan kegiatan PMM di Desa Tegalgondo bersama para ibu PKK. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan memanfaatkan sampah organik yang nantinya bisa dijadikan sebagai inovasi produk UMKM. Selain itu, juga bertujuan untuk mengurangi limbah sampah-sampah organik yang dapat mencemari lingkungan dan mengurangi tingkat kesuburan tanah.
Inovasi yang dilakukan oleh Kelompok 24 yaitu mengubah tempurung kelapa menjadi briket. Hal ini dikarenakan tempurung kelapa sering kali tidak terpakai jika selesai dikonsumsi dan akan menjadi limbah. Pembuatan briket dari tempurung kelapa ini tidak terlalu sulit dan tidak banyak membutuhkan bahan pembuatan. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat briket ini, yaitu tempurung kelapa, tepung tapioka atau tepung kanji, serta air yang sudah direbus.
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah membakar tempurung kelapa hingga menjadi arang, kemudian arang tersebut dihaluskan menggunakan mesin atau bisa juga ditumbuk supaya menjadi serbuk arang. Setelah arang tersebut dihasulkan, maka yang harus dilakukan adalah mengayak arang tersebut agar arang yang sudah menjadi serbuk dan yang masih menggumpal terpisah. Langkah ini dapat juga diganti dengan langsung menggunakan arang tempurung kelapa yang dijual di e-commorce untuk mempersingkat waktu pembuatan. Langkah kedua yaitu merebus air hingga setengah mendidih. Langkah ketiga mecampurkan air dengan tepung tapioka dan diaduk hingga tercampur rata sampai adonan tersebut seperti lem. Takaran tepung tapioka yang digunakan yaitu 50% dari jumlah arang tempurung kelapa yang akan digunakan. Setelah adonan tapioka sudah menjadi seperti lem kemudian campurkan dengan arang tempurung kelapa yang sudah dihaluskan hingga menjadi seperti adonan kue. Langkah ke empat adalah masukkan adonan arang ke dalam cetakan. Langkah terakhir yaitu jemur arang 2-3 hari jika menggunakan panas matahari. Cara yang lebih efektif adalah dengan menggunakan oven. Setelah arang dikeringkan potong sesuai selera dan briket dari tempurung kelapa siap digunakan.
Briket dari tempurung kelapa ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan arang lainnya. Briket ini memiliki daya tahan panas yang lebih stabil jika dibandingkan dengan arang pada umumnya sehingga memiliki ketahanan panas yang lebuh lama. Selain itu, briket ini juga lebih aman dan ramah lingkungan karena tidak memiliki resiko ledakan seperti kompos pada kompos minyak tanah dan kompor gas selain itu hasil pembakarannya aman bagi kesehatan.
Selain membuat briket, Kelompok 24 juga melakukan inovasi menjadikan koran bekas sebagai bungkus untuk buket bunga. Pembuatan buket bunga juga cukup mudah. Bahan yang dibutuhkan yaitu koran bekas, tali raffia atau pita dan bunga segar. Bunga yang digunakan untuk buket bisa disesuaikan dengan selera masing-masing.
Langkah pertama untuk membuat buket bunga yaitu potong batang bunga sesuai selera agar mudah dirangkai kemudian bersihkan batang bunga tersebut dari ranting atau daun-daun yang kering. Kemudian langkah yang kedua adalah susun beberapa ikat bunga supaya terlihat lebih cantik dan menarik kemudian ikat dengan menggunakan tali raffia. Langkah yang ketiga yaitu siapkan koran bekas lalu dipotong menjadi 4 bagian. Setelah dipotong lipat semua bagian koran kemudian satukan koran yang sudah dilipat sampai menjadi buket. Setelah disatukan tempelkan selotip pada setiap bagian koran agar melekat. Setelah buket sudah tersusun rapi tempelkan atau masukkan bunga yang sudah disusun tadi kebagian tengah buket. Agar terlihat lebih cantik dan menarik pada bagian bawah buket bisa dihias dengan menggunakan pita dan buket bunga siap untuk dijual.
Dengan adanya inovasi ini diharapkan masyarakat Desa Tegalgondo bisa memiliki ide untuk memulai UMKM dengan memanfaatkan limbah organik yang tidak terpakai namun bisa menghasilkan nilai jual barang yang tinggi. (rilis: PMM 24 gelombang 9)
