Gangguan Kesehatan Yang Muncul Akibat Malnutrisi Pada Anak
Penulis: Ihza Fadilah Rizky, mahasiswa farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
Malnutrisi atau disebut juga ketidakseimbangan gizi yang terjadi ketika anak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan seimbang dalam jangka waktu lama. Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu kurang gizi (undernutrition) dan kelebihan gizi (overnutrition). Kondisi ini dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada anak, seperti sering infeksi karena imunitas tubuh yang lemah, gangguan tumbuh kembang, Kondisi ini diketahui menjadi penyebab kematian 300.000 anak balita setiap tahunnya di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ada beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab anak mengalami kondisi kurang gizi, yaitu ; kurangnya pengetahuan orang tua tentang kebutuhan gizi anak, kurangnya akses pangan yang cukup dan terjangkau, faktor sosial dan ekonomi, bencana alam, atau perang, kebersihan lingkungan atau sanitasi yang buruk, gangguan kesehatan tertentu, dan juga kelainan bawaan lahir.
Beberapa penyakit yang muncul akibat malnutrisi yang akan mengganggu kesehatan pada anak antara lain ; Marasmus (terjadi akibat sedikitnya jumlah asupan protein, lemak, dan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh), Kwashiorkor (terjadi akibat kurangnya asupan protein pada tubuh yang dapat mengganggu tubuh kembang anak), Skorbut (terjadi akibat kurangnya asupan vitamin C pada anak), Anemia (terjadi akibat kurangnya asupan vitamin B12 pada anak).
Marasmus adalah kondisi malnutrisi akibat sedikitnya jumlah asupan protein, lemak, dan karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh. Penyakit ini banyak terjadi di negara-negara Asia dan Afrika. Menurut dr. Valda Garcia, ciri-ciri marasmus pada anak adalah tinggi dan berat badan tidak sesuai dengan perkembangan usia. “Anak yang menderita marasmus juga umumnya memiliki gangguan tumbuh kembang, rambut yang rapuh atau mudah rontok, serta wajah cenderung terlihat lebih tua.” tambah dr. Valda.
Berikut ciri-ciri anak mengidap marasmus ; tubuh terlalu kurus, rambut mudah rontok, sering sakit kepala, lemas dan tidak bersemangat, dan juga anak akan lebih cepat marah. Penanganan marasmus pada anak dapat dilakukan dengan cara ; Resusitasi (menyuntikan larutan rehidrasi ke dalam pembuluh darah atau dengan memberikannya secara oral dan juga antibiotik untuk mengobati infeksi yang mendasarinya), Stabilisasi (pemberian makan secara bertahap untuk meningkatkan kadar nutrisi dalam tubuh), Rehabilitasi gizi dan tindak lanjut (peningkatan asupan nutrisi melalui pola makan kaya protein dan energi secara bertahap dengan cara memperbaiki pola makan pada anak)
Skorbut atau scurvy adalah kondisi langka yang terjadi karena kekurangan vitamin C selama kurang lebih 3 bulan. Tubuh tidak dapat memproduksi atau memetabolisme vitamin C, sehingga tubuh membutuhkan vitamin C dari makanan yang kita makan.
Gejala skorbut bisa muncul dalam jangka waktu 8–12 minggu. Tanda-tanda awalnya yakni badan lesu dan letih, berat badan turun, serta menurunnya nafsu makan. Dalam 1–3 bulan ke depan, mungkin timbul gejala lain berupa ; nyeri otot, anemia, penyakit gusi, sesak napas, gigi goyang atau lepas, rambut berlekuk-lekuk, perubahan mood (suasana hati), pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, serta munculnya bintik-bintik merah akibat perdarahan di bawah kulit.
Penanganan skorbut pada anak dapat dilakukan dengan cara ; Skorbut dapat diatasi dengan mencukupi kebutuhan vitamin C melalui makanan dan pemberian suplemen vitamin C oleh dokter. Jika kekurangan vitamin C teratasi, pasien dapat sembuh dalam waktu sekitar 2 minggu. Anjuran pemberian vitamin C yang dapat diterapkan sebagai berikut ; Pada bayi usia 0–5 bulan: 40 mg, usia 6–11 bulan: 50 mg, Pada anak-anak usia 1–3 tahun: 40 mg, usia 4–6 tahun: 45 mg, usia 7–9 tahun: 45 mg
Anemia pada anak di tahap awal sering kali menunjukkan gejala yang tidak khas, bahkan ada anak dengan anemia yang tidak merasakan keluhan atau gejala apa pun sehingga anemia pada anak yang baru terdeteksi ketika sudah terjadi komplikasi, misalnya gangguan tumbuh kembang atau gangguan pada organ tertentu, seperti jantung, otak, dan ginjal.
Secara umum anak yang mengalami anemia mengalami gejala berikut ; terlihat lemas atau lelah, terlihat malas bermain atau berinteraksi dengan orang di sekitarnya, kulit pucat atau kekuningan, mata menguning, jantung berdebar, sesak napas, sakit kepala, pusing, atau nyeri di tulang atau bagian tubuh tertentu, sering terkena infeksi, luka sulit sembuh, kesulitan belajar atau sulit berkonsentrasi di kelas bagi anak yang sudah di bangku sekolah.
Penanganan anemia pada anak dapat dilakukan dengan cara ; pemberian suplemen zat besi dan vitamin (anemia yang disebabkan kurangnya zat besi atau vitamin tertentu, seperti folat dan vitamin B12), pemberian antibiotik atau obat cacing (anemia yang disebabkan oleh infeksi bakteri ataupun cacing), penghentian atau penggantian jenis obat (anemia yang disebabkan oleh efek samping obat yang rutin dikonsumsinya, maka dokter akan menghentikan atau mengganti obat tersebut), transfusi darah (anemia yang dialami anak sudah parah, transfusi darah juga akan rutin dilakukan pada anak dengan anemia akibat penyakit tertentu, seperti thalasemia dan anemia sel sabit), transplantasi sumsum tulang (anemia pada anak yang disebabkan oleh gangguan pada sumsum tulang, anemia aplastik, dan kanker darah)
Salah satu fungsi protein adalah menjaga keseimbangan volume cairan di dalam dan di luar pembuluh darah. Jika asupan protein kurang, keseimbangan cairan tubuh akan terganggu dan cairan dari pembuluh darah bocor ke jaringan. Kondisi inilah yang membuat tubuh penderita kwashiorkor mengalami pembengkakan. Pembengkakan umumnya terjadi di tungkai, tetapi juga bisa memengaruhi seluruh tubuh, bahkan wajah.
Berikut ciri anak yang mengidap kwashiorkor ; penurunan ketebalan otot, perut membesar, kulit berwarna kemerahan, kering, bersisik, atau terkelupas, kuku rapuh, rambut menjadi kering, rapuh, mudah patah, bahkan berubah warna menjadi kuning kemerahan seperti rambut jagung, gangguan tumbuh kembang, penyakit infeksi yang terjadi dalam jangka panjang atau sulit sembuh, sering lemas, anak-anak lebih rewel dan sering menangis
Pengobatan kwashiorkor akan disesuaikan dengan keparahan kondisi pasien. Jika kwashiorkor terdeteksi lebih awal dan belum parah, dokter akan memberikan formula khusus atau ready-to-use therapeutic food (RUTF) yang terbuat dari campuran susu, gula, minyak, kacang, vitamin, dan mineral. Untuk pengobatan lebih lanjut dengan cara ; memberikan cairan infus yang terdiri dari elektrolit dan glukosa, menyelimuti pasien untuk mencegah terjadinya hipotermia, mengobati dehidrasi, mengobati infeksi dengan antibiotik. (Ihza Fadilah Rizky, 202310410311087)
