Dampak Kemarau Bagi Masyarakat Pesisir
Penulis: Dinda Nur Mawaddah, Mahasiswa Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Kemarau yang melanda Indonesia terjadi mulai akhir bulan Mei hingga akhir bulan September. Berdasarkan analisis dinamika atmosfer terkini di wilayah Jawa Timur menunjukkan adanya gangguan MJO dan Gelombang Ekuatorial Rossby yang menyebabkan masih adanya potensi peningkatan pertumbuhan awan Cumulonimbus di beberapa wilayah Jawa Timur, sehingga cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang sesaat masih mungkin terjadi.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di Madura diperkirakan akan dimulai pada awal April puncak musim kemarau di Jawa Timur, biasanya terjadi pada bulan-bulan tertentu. Di beberapa wilayah Jawa Timur, kondisi cuaca ekstrem mungkin terjadi dan patut diwaspadai dapat mengakibatkan terjadinya bencana hidrometeorologi di Pulau Madura, salah satunya yaitu Kab. Bangkalan. Madura dikenal memiliki musim kemarau yang panjang, dengan rata-rata bulan kering antara 2 hingga 4 bulan. Pada saat kemarau, curah hujan di wilayah ini cenderung rendah, suhu meningkat, dan sumber air tawar menjadi langka.
Pertanian yang merupakan salah satu mata pencarian utama bagi sebagian besar masyarakat Madura mengalami tekanan besar. Tanaman padi dan tanaman lainnya membutuhkan air yang cukup untuk tumbuh dengan baik. Namun, dengan pasokan air yang menurun dapat mengakibatkan penurunan produksi pertanian dan kerugian ekonomi yang signifikan.
Selain itu, kemarau juga dapat memiliki dampak signifikan bagi kesehatan masyarakat di Madura. Beberapa dampak yang mungkin terjadi yaitu: Dehidrasi dan Iritasi Kulit: Selama kemarau, suhu cenderung panas dan kering yang dapat menyebabkan dehidrasi pada tubuh manusia. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat Madura untuk menjaga kesehatan dan stamina mereka dengan banyak minum air dan makan buah segar. Selain itu, udara yang kering juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Oleh karena itu, masyarakat Madura disarankan untuk menggunakan Tabir Surya dan menghindari paparan langsung sinar matahari yang berlebihan. Pencemaran Udara: Kondisi kemarau yang panjang juga dapat menyebabkan penurunan kualitas udara yang dapat berdampak negatif pada kesehatan manusia, seperti masalah pernapasan, iritasi mata, dan gangguan kesehatan lainnya. Kekeringan dan Keterbatasan Air Bersih: Kekeringan merupakan masalah yang sering terjadi di Madura selama musim kemarau. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah dan pihak terkait berupaya untuk mengatasi masalah kekeringan di Madura. Namun, hingga saat ini masih menjadi masalah yang belum sepenuhnya teratasi. Kenaikan Harga Pangan: Kemarau juga berdampak pada ekonomi masyarakat Madura, salah satunya yaitu keterbatasan pasokan pangan menyebabkan kenaikan harga pangan, sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Selain itu, Pulau Madura dikenal sebagai salah satu produsen garam terbesar di Indonesia dengan produksi garam rakyat yang dilakukan secara tradisional. Namun, musim kemarau basah dapat mempengaruhi kualitas dan produksi garam rakyat di Indonesia. Dalam kondisi kemarau, petani garam di Madura juga menghadapi tantangan. Namun, masyarakat Madura tidak hanya tinggal diam menghadapi tantangan tersebut. Mereka telah mengembangkan berbagai strategi untuk mengatasi musim kemarau yang sulit. Salah satu langkah yang dilakukan masyarakat Madura yaitu penggunaan teknologi irigasi yang lebih efisien. Dari irigasi tradisional menjadi irigasi tetes atau sistem irigasi berbasis teknologi yang memungkinkan petani untuk menggunakan air secara lebih efisien dan mengurangi kehilangan air akibat penguapan.
Selain itu, peran pemerintah juga sangat penting dalam membantu masyarakat Madura dalam mengatasi dampak kemarau. Mereka telah menyediakan bantuan dari segi finansial maupun teknis terhadap petani agar dapat mengadopsi teknologi irigasi yang lebih baik. Pemerintah juga mendirikan sumur-sumur air bersih dan memperluas jaringan pipa air untuk memastikan pasokan air bersih yang lebih baik bagi masyarakat. Kemarau panjang juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan. Pemerintah dapat melakukan langkah-langkah pengendalian kebakaran hutan, seperti patroli hutan, pemberantasan api secara cepat, dan penegakan hukum terhadap pembakaran hutan yang tidak sah.
Namun terdapat beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan masyarakat Madura dalam kehidupan sehari-hari untuk menghadapi musim kemarau. Beberapa di antaranya yaitu: Penghematan Air: Masyarakat Madura dapat melakukan penghematan air dengan cara menggunakan air secukupnya dan mengurangi pemborosan air. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbaiki keran yang bocor, menggunakan air hujan untuk keperluan non-potable, dan mengurangi penggunaan air pada kegiatan sehari-hari. Masyarakat Madura dapat melakukan pengelolaan sumber daya air dengan cara membangun dan memelihara sumur-sumur air, waduk, atau kolam penampungan air hujan. Selain itu, mereka juga dapat melakukan penghijauan dan reboisasi di sekitar area pemukiman untuk menjaga keberlanjutan sumber air. Kerjasama Komunitas: Masyarakat Madura dapat bekerja sama dalam menghadapi musim kemarau panjang dengan membentuk kelompok yang saling membantu dalam mengatasi masalah kekeringan. Mereka dapat saling berbagi sumber air, informasi, dan sumber daya lainnya untuk mengurangi dampak musim kemarau. Selama kemarau panjang, masyarakat di Madura juga memiliki tradisi dan ritual khusus untuk meminta hujan. Salah satu contohnya adalah tradisi memanggil hujan dengan menggunakan cambuk badan tiban. Ritual ini dilakukan oleh pria dewasa yang saling cambuk tubuh mereka di tengah lapang dengan harapan dapat mendatangkan hujan.
Selain langkah-langkah tersebut, kesadaran masyarakat juga sangat penting dalam mengatasi kemarau. Meskipun tantangan kemarau di Madura masih ada, upaya yang selalu dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat setempat menunjukkan adanya harapan. Dengan terus mengembangkan teknologi irigasi yang lebih efisien, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan memberikan dukungan finansial. Dalam menghadapi tantangan ini, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta sangatlah penting. Hanya dengan bekerja sama, Madura dapat mengatasi kemarau yang panjang dan memastikan keberlanjutan pertanian dan pasokan air bersih bagi masyarakat. (*)
