Pengaruh Sosial Media Bagi Psikolog Anak
Penulis: Lira Syara Sabila, mahasiswa jurusan farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Media sosial merupakan sebuah media online yang memudahkan semua penggunanya untuk mengakses berbagai informasi dibelahan dunia dan membantu memudahkan berkomunikasi secara virtual. Saat ini media sosial sangat banyak digunakan oleh masyarakat, terutama di kalangan remaja dan anak-anak. Beberapa jenis situs media sosial yang populer saat ini yaitu seperti Instagram, Twitter, Facebook, TikTok, hingga Youtube.
Psikologi anak merupakan salah satu cabang dari ilmu yang mempelajari mengenai perubahan dan pertumbuhan kembang jasmani, perilaku dan mental dari manusia yang dimulai semenjak lahir hingga dia tua. Seseorang di sebut anak apabila yang belum berusia delapan belas tahun, dan anak yang masih dalam kandungan ibunya juga di sebut anak.
Generasi bangsa sekarang tentunya terletak pada anak yang dikemudian hari akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang pemimpin. Dikatakan seorang pemimpin jika dia mampu memimpin dirinya terlebih dahulu sebelum menjadi pemimpin orang lain. Hal yang perlu di perhatikan tentunya pembentukan karakter atau bagaimana seorang anak bisa membangun prilaku dan sikap dalam bermasyarakat sejak dini.
Sekarang banyak orang tua yang memberikan kebebasan terhadap anaknya dengan membelikan gadget sejak diusia dini. Mereka beralasan bahwa hal tersebut memberi kenyamanan untuk mempermudah mengawasi anak serta berkomunikasi dengan anaknya kapanpun dan dimanapun. Tapi mereka tidak menyadari bagaimana pengaruh yang akan terjadi terhadap tumbuh kembang seorang anak jika terlalu sering ataupun berlebihan dalam menggunakan gadget.
Bagi anak-anak ataupun anak yang masih di sekolah dasar, di masa usia mereka merupakan masa yang matang untuk belajar, sehingga mereka akan mengalami perubahan dan perkembangan dalam hidupnya, baik itu moral, fisik, pengetahuan, berbahasa, sosial emosional, serta agama yang berbeda pada masa perkembangannya hal tersebut biasanya terjadi karna faktor lingkungan. Akan tetapi, di era digital ini dengan berkembangnya media dan teknologi menjadi sebuah tantangan atau halangan tersendiri dalam pembentukan karakter seorang anak. Anak-anak dan anak usia sekolah dasar sudah mengenal dan bisa menggunakan produk teknologi seperti ponsel, komputer, video game dan dan lain sebagainya. Yang tentunya hal tersebut dapat berdampak bagi kesehatan psikolog anak, baik berdampak positif maupun berdampak negatif.

Dampak positif dari media sosial terhadap psikolog anak-anak biasanya dapat membantu anak untuk terhubung dengan keluarga dan teman-temannya dengan mudah dimanapun dan kapan pun itu, memungkinkan anak mempelajari hal-hal baru secara luas seperti belajar dari beberapa media yang memuat berbagai ilmu pengetahuan, dapat bertukar pikiran, menambah keterampilan berkomunikasi dengan menonton atau membaca tata cara berkomunikasi yang baik dari berbagai aplikasi, membantu mereka terhubung dengan pendidikan dan fasilitator dari berbagai belahan dunia, sehingga pengetahuannya lebih luas. Sedangkan dampak negatif dari sosial media terhadap psikolog anak yaitu seorang anak bisa mengalami depresi, merasa kesendirian, sering gelisah, aggresi, fobia sosial yang menyebabkan anak akan lebih senang berteman online dari pada melakukan sosialisasi secara langsung dengan temannya, menimbulkan sifat iri pada orang lain, terbawa suasana hati terhadap komentar negative, terbiasa berbicara tidak sopan karna dipengaruhi oleh konten maupun hal lainnya di media, tidak dapat mengendalikan dorongan untuk menggunakan internet atau teknologi.
Jadi media sosial sangat berpengaruh besar terhadap psikologi anak, hal tersebut dibuktikan dengan jurnal yang di tulis oleh Maulidia Rahmawati, bahwa “media sosial dapat mempengaruhi perkembangan moral, karakter, dan kepribadian anak” anak sekolah dasar pada zaman sekarang ini saat bermain media sosial mereka belum bisa mengontrolnya dengan baik.
Oleh sebab itu dalam hal ini peran orang tua sangatlah penting untuk membatasi penggunaan sosial media, seperti membatasi penggunaan handphone, yang apabila digunakan secara berlebihan akan berdampak bagi kehidupan dalam membentuk karakter seorang anak, bahkan orang tua juga harus berperan aktif dalam pengawasan anak untuk selalu bijak dalam bersosial media agar tidak menyalahgunakannya.
Kaitan antara farmasi dan psikolog anak meliputi berbagai aspek, salah satunya yaitu pemahaman tentang bagaimana faktor psikologis itu dapat mempengaruhi penggunaan obat untuk anak, serta pentingnya komunikasi yang baik antara seorang apoteker atau ahli farmasi, orang tua, dan anak. Kolaborasi antara ahli farmasi dan psikolog anak dapat memberikan konstribusi yang berharga
dalam pemahaman dan pelayanan kesehatan yang baik bagi anak. Berikut adalah beberapa peran farmasi yang relevan dengan kondisi psikologi anak:
- Edukasi dan kesadaran : Farmasi memiliki tanggung jawab dalam menyediakan informasi dan kesadaran tentang obat, terutama untuk masyarakat yang belum memahami mengenai penggunaan obat dan keterampilan dosen yang tepat. Hal ini juga berlaku bagi anak-anak yang mungkin belum memiliki kesadaran yang tepat tentang obat dan kegunaannya.
- Pelayanan kefarmasian : Farmasi di apotik merupakan bagian penting dalam menangani pasien, termasuk pasien gangguan jiwa. Pelayanan farmasi klinis memastikan membantu dalam menjaga kesehatan pasien dan penggunaan obat yang aman dan efektif.
- Koordinasi dengan tenaga kesehatan : Farmasi berperan dalam koordinasi dengan tenaga kesehatan lainnya, seperti dokter dan perawat, untuk menangani pasien secara holistik dan memastikan penggunaan obat yang tepat
- Meningkatkan ketahanan kefarmasian : Farmasi memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan ketahanan kefarmasian di Indonesia, termasuk dalam penyelidikan dan pengembangan obat-obatan.
- Farmasi sosial : Farmasi sosial merupakan hibrida ilmu kefarmasian yang bergerak di atas landasan teori serta metodologi ilmu sosial, yang juga relevan dengan kondisi psikologi anak.
Meskipun pada dasarnya farmasi tidak secara khusus untuk menangani kesehatan pada psikologis anak seperti seorang dokter ataupun psikolog, namun farmasi juga dapat membantu kondisi psikologis seorang anak yang tentunya melalui berbagai cara seperti yang disebutkan diatas. Selain itu farmasi juga dapat melakukan kerja sama dengan tim medis lainnya, seperti psikolog maupun dengan seorang psikiater, hal itu untuk memberikan perawatan yang holistic bagi anak dengan gangguan psikologis yang dialaminya. (Lira Syara Sabila, mahasiswa jurusan farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang, NIM: 202310410311196 – Farmasi E)
