Mengulas Sejarah Fantastis Dibalik Tradisi Siraman Sedudo
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Berkunjung ke salah satu destinasi wisata alam Air Terjun Sedudo yang sudah konvesional hingga kekancah Internasional saat anda berada di daerah Kabupaten Nganjuk, merupakan hal wajib yang tidak boleh anda lewati. Air terjun ini terletak di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk tersebut memiliki banyak sekali keeolkan yang akan disuguhkan anda saat berkunjung kesana. Air terjun dengan ketinggian 105 meter ini juga akan mengekspos kepada anda kemegahan aliran airnya yang melenggang terjun kebawah dengan eloknya.
Air terjun ini juga merupakan objek wisata yang memiliki fasilitas tidak kalah lengkap dengan wisata alam lainnya. Objek wisata ini telah dilengkapi dengan jalur transportasi yang mudah dijangkau atau diakses. Selain itu letaknya yang berada ditengah-tengah Gunung Wilis menjadi kertertarikan bagi pengunjung. Tidak hanya itu banyaknya mitos air terjun dan tradisi-tradisi unik yang berada didalamnya menjadikan magnet tersendiri bagi pelancong-penlancong dari berbagai daerah yang dating.
Salah-satu tradisi yang masi melekat pada masyarakat adalah adanya upacara ritual yang biasa dinamakan sebagai upcara siraman sedudo. Upacara ini biasanya diadakan pada bulan Suro atau bulan Muharram. Upacara ini ditujukan untuk memohon keselematan dan meminta keberkahan dengan Air Terjun Sedudo sebagai medianya. Siapa sangka terdapat sejarah fantastis dibalik adanya upacara tersebut. Mari kita ulik cerita unik yang ada dibaliknya.
Sejarah awalnya dimulai saat zaman Wali Ngliman atau biasa disebut dengan sapaan Ki Ageng Ngliman. Sejak zaman itu tradisi siraman sedudo dimulai. Di perkirakan sekitar pertengahan abad XVI seorang muslim bernama Maulana Ishaq (Ki Ageng Ngliman) datang di daerah ini dengan tujuan untuk menyebarkan ajaran Islam. Setelah beberapa saat beliau berpindah dari Kadipaten Blambangan menuju daerah Ampel. Diperjalanan beliau sempat bersinggah kebeberapa tempat terlebih dahulu, seperti daerah Besuki dan yang lainnya.
Disitulah kepercayaan masyarakat muncul. Dipercaya Ki Ageng Ngliman merupakan orang yang menjadi pembuka “cikal bakal” di Desa Ngliman tersebut. Air Terjun Sedudo juga merupakan tempat yang sering digunakan beliau untuk bertapa. Saat itulah kepercayaan tersebut bertahan sampai sekarang. Selain itu air terjun tersebut dianggap suci dan di percaya sebagai tempat mandi para dewa yang bersemeyam, hal itu membuatnya diyakini masyarakat bahwa air terjun tersebut dapat memberikan khasiat awet muda kepada orang yang mandi disana.
Karena air dan lokasinya yang dianggap suci oleh masyarakat, akhirnya munculah sebuah tradisi atau upacara yang konon dipercaya untuk mensucikan benda-benda pusaka seperti keris dan dilakukannya siraman dibawah air terjun sedudo tersebut. Dalam upacara siraman tersebut banyak poin-poin didalamnya seperti air suci, tabur bunga serta para penari Wanita yang masih perawan berambut panjang dan penari laki-laki yang masi perjaka, begitu juga tanggal pelaksanaanya yang selalu dilaksanakan pada malam pertama bulan suro.
Terlepas dari mitos atau kepercayaan masayarakat terhadap kesucian air terjun serta pelaksanaan kepercayaan upacara sedudo. Tradisi tersebut tetap harus terjaga dan terlestarikan oleh kita semua sebagai ciri khas kebudayaan daerah tersebut. (*)
Artikel ini ditulis Salsabila Zakia Jinan mahasiswa semester 2 Prodi Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Malang. Bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia oleh Ibu Dra. Afrida Boedirochminarni, MS.
