LHKI PP Muhammadiyah Ambassador Talk Hadirkan Dubes Iran
TABLOIDMATAHATI.COM, JAKARTA, – Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menyelenggarakan agenda rutin Ambassador Talk yang kini memasuki seri keempat. Diskusi yang berlangsung di Aula Lantai 5 Gedung PP Muhammadiyah ini mengangkat tema “Surviving Sanction: Iran’s Economic Resilience and Innovation under Embargo” dengan menghadirkan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, serta moderator Duta Besar Bunyan Saptomo. Program Ambassador Talk sendiri merupakan kegiatan rutin LHKI, di mana pada seri-seri sebelumnya telah menghadirkan Duta Besar Turki dan Duta Besar Malaysia sebagai narasumber.
Dalam forum tersebut, Duta Besar Mohammad Boroujerdi menguraikan ketangguhan masyarakat Iran dalam menghadapi embargo ekonomi berkepanjangan yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa meskipun sanksi tersebut ilegal, Iran justru berhasil meraih berbagai kemajuan signifikan karena memegang teguh prinsip kemandirian dan kepercayaan diri nasional. Dubes Boroujerdi memaparkan bahwa sebelum Revolusi Islam 1979, Iran memiliki citra yang indah namun memiliki indikator kemajuan yang rendah seperti angka literasi yang hanya 30 persen. Sebaliknya, pasca-1979, meskipun mendapatkan tekanan citra global, Iran justru mengalami lonjakan luar biasa dalam jumlah mahasiswa, penguasaan IPTEK, dan pembangunan infrastruktur pendidikan hingga ke pelosok desa.
Terdapat catatan sejarah menarik mengenai Nelson Mandela yang pernah berkonsultasi dengan Iran terkait strategi perjuangannya. Berdasarkan arahan Ayatollah Khamenei, Mandela kemudian beralih dari pendekatan kelompok bersenjata menuju penggalangan dukungan massa yang berlandaskan pada keimanan dan solidaritas rakyat. Strategi inilah yang akhirnya membawa kemenangan bagi Afrika Selatan pada tahun 1994. Pelajaran sejarah ini sekaligus membuktikan bahwa kekuatan sejati sebuah negara bukanlah terletak pada persenjataan seperti rudal atau drone, melainkan pada dukungan penuh dari rakyatnya.
Dubes Boroujerdi mengungkapkan bahwa saat ini masyarakat Iran tetap solid mendukung pemerintah, baik penduduk maupun diaspora, yang dibuktikan melalui gerakan “Jan Fada” atau kesiapan berkorban untuk negara. Hingga kini, sebanyak 31 juta warga telah mendaftar dalam kampanye tersebut yang berarti siap mengorbankan harta dan nyawa demi kedaulatan bangsa. Selain itu, pemerintah Iran fokus melakukan investasi pada sektor pendidikan dan penelitian dengan menghubungkan dunia kampus secara langsung ke dunia usaha dan pemerintahan. Kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas utama, dengan standar kualifikasi tinggi seperti syarat minimal lulusan S2 untuk bergabung di Kementerian Luar Negeri.
Dubes Boroujerdi menekankan bahwa upaya pihak luar yang menargetkan infrastruktur sipil dan pusat penelitian adalah sebuah kesalahan besar. Ia menegaskan bahwa kekuatan inovasi dan pengetahuan Iran tidak terletak pada bangunan fisik, melainkan pada pribadi para ilmuwannya yang tidak bisa dihancurkan oleh serangan fisik. Di sisi lain, penyelenggaraan acara ini juga semakin mempererat hubungan diplomatik kedua pihak, mengingat beberapa hari sebelumnya Dubes Mohammad Boroujerdi telah melakukan kunjungan resmi dan diterima langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir. (masruri/rilis grup media afiliasimu)
