Tim PKM PGSD UMM Workshop Inspiratif Membaca untuk Mengenal Diri, Literasi Pengenalan Gender di SD-MI Muhammadiyah Kabupaten Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Tim pengabdian dosen MIA Pendidikan Guru Sekolah dasar Universitas Muhammadiyah Malang (PGSD UMM) terdiri Murtyas Galuh Danawati, S.Pd, M.Pd, Innany Mukhlishina, M.Pd, dan Arinta Rezty Wijayaningputri, S,Pd, M.Pd, melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk workshop luring dan daring tematik Membaca untuk Mengenal Diri: Pendekatan Literasi dalam Pengenalan Identitas Gender di Sekolah Dasar.
Kegiatan ini dijelaskan perwakilan tim Arinta Rezty Wijayaningputri, S,Pd, M.Pd, bahwa tim pengabdian tersebut bekerjasama dengan Majeleis Dikdasmen PNF PDM Kabupaten Malang. Peserta workshop adalah guru dan paguyuban orang tua wali siswa SD/MI Muhammadiyah Kabupaten Malang.
Menurut Arinta tujuan pengabdian ini mengenalkan sekaligus meningkatan literasi lewat karya buku cerita bergambar dengan berbasis pengenalan identitas gender pada anak melalui pendekatan literasi. Harapannya memberikan pengetahuan edukatif dan mudah diterima oleh anak-anak jenjang sekolah dasar.
Sekedar diketahui workshop ini menghadirkan pemateri Ketua PCIM Thailand Dr. Ns. Fauzan Saputra, S.Kep, MNS, dan Penulis Terpilih Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2023-Guru SDN Kebonsari 2 Malang Fauziah Rachmawati, M.Pd. Kedua pemateri didampingi moderator Murtyas Galuh Danawati, S.Pd, M.Pd, (tim pengabdian PGSD UMM).
Arinta melanjutkan sambutan kegiatan workshop Membaca untuk Mengenal Diri: Pendekatan Literasi dalam Pengenalan Identitas Gender di Sekolah Dasar, untuk mengenalkan pada peserta terkait pemahaman juga keterampilan bagaimana nantinya peserta bisa mengenalkan pada anak-anak konsep indentitas gender yang sesuai dengan tumbuh kembang mereka.
Di tempat sama, unsur pimpinan Majelis Dikasdasmen PNF PDM Kabupaten Malang, Dr. R. Iqbal Robbie, MM, mengatakan anak-anak harus sedini mungkin dikenalkan gender. Gender hanya ada dua yaitu laki-laki dan perempuan. Sehingga ketika mereka sudah dibekali pengetahuan gender sejak usia jenjang sekolah dasar semakin memperkuat karakternya. Karakter gender yang kokoh membuat tumbuh kembang anak sesuai gendernya.
Ketua PCIM Thailand Dr. Ns. Fauzan Saputra, S.Kep, MNS, Ketika menyampaikan materi mengusung topik Pengenalan Identitas Gender Anak Usia Sekolah. Secara umum membahas fakor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak usia dini terkait identitas gendernya. Perkembangan anak pada usia sekolah 6-12 tahun memiliki karakteristik seperti mudah bergaul dan mandiri.

Fase anak usia sekolah dasar anak sudah mulai mandiri, bersosialisasi, memiliki tokoh idola (bukan orang tua) melainkan seperti guru hingga tokoh kartun kesukaannya, dan mulai memiliki perhatian dan empati kepada orang lain.
Nah, untuk menyeimbangkan karakteristik tersebut anak harus memiliki keterampilan seperti menolong diri sendiri, bantuan seperti meminta bantuan dan berterimakasih pada orang lain.
Fauzan Saputra juga memaparkan tentang perilaku normal yang harus dimiliki anak sekolah dasar seperti mampu menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai dengan kemampuan siswa, mempunyai rasa bersaing, terlibat pada kegiatan kelompok, berinterasi dengan teman sebaya, mampu menyelesaikan pekerjaan rumah yang sederhana, memiliki hobi, memiliki teman tetap, dan tidak ada bekas luka akibat penganiayaan.
Sebagai pakar pendidikan, Fauzan Saputra menegaskan jika anak sudah cenderung keluar dari kebiasaan atau karakteristik yang dimilikinya, biasanya muncul berperilaku tidak wajar, anak menjadi pembangkang, malas, tidak mau bersaing, tidak ada motivasi belajar, ketakutan, murung. Prinsipnya hal-hal di luar kebiasaannya.
Karakteristik menyimpang tersebut harus segara disadari oleh guru maupun orang tua agar dapat segera dicarikan solusinya. Karena perilaku-perilaku menyimpang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak secara psikis maupun motorik.
Menariknya, Fauzan Saputra juga menyampaikan konsep gender pada anak. Gender merupakan sebuah istilah untuk mendeskripsikan peran, tanggung jawab, sifat, dan perilaku yang dikaitkan antara perempuan dan laki-laki. “Cara mengenalkan gender pada anak dengan membiasakan anak bertingkah laku sewajarnya, dan memberikan contoh yang sewajarnya seperti berpakaian yang pantas sesuai dengan kodratnya,” tandas Fauzan.
Berikutnya materi disampaikan Penulis Terpilih Gerakan Literasi Nasional (GLN) 2023-Guru SDN Kebonsari 2 Malang, Fauziah Rachmawati, M.Pd, mengusung topik Pendekatan Literasi dalam Pengenalan Identitas Gender di SD. Topik ini mengulas tentang menulis cerita bergambar untuk anak sekolah dasar. Penulisan cerita bergambar harus menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak. Sebab buku yang baik adalah buku yang hidup di jiwa anak-anak.
Fauziah Rachmawati mengatakan ketika menulis sebuah cerita khususnya cerita anak, harus memahami bagaimana dunia anak tersebut. Itu sebabnya diperlukan riset, menentukan ide dan meramu konflik sesuai dunia anak.
Melalui pendekatan literasi dalam pengenalan identitas gender di SD juga perlu memperhatikan peran anak, kegiatan yang dilakukan, baju, warna, symbol, dan kekuatan. Misalnya pada saat pembuatan tokoh sebuah cerita dengan pemilihan nama yang sederhana, karakter tokoh yang kuat, hingga kesesuaian karakter dengan kenyataan yang ada.

Seperti contoh pada salah satu karyanya yang bertajuk Biji-Bijian Timmy. Dalam buku ini Fauziah Rachmawati menggambarkan terdapat dua tokoh yakni Timmy sebagai tokoh utama dan Kiki merupakan sahabat dekat Timmy. Timmy adalah seekor tupai yang suka menyisihkan dan menyimpan makanan berupa biji-bijian. Sedangkan Kiki adalah seekor anak kucing liar yang selalu bermain dengan Timmy. Alur ceritanya mereka memiliki karakter yang kuat.
Timmy suka menyisihkan makanan namun pelupa, sehingga sering merasa kehilangan biji-bijian yang sudah disimpan. Sementara Kiki memiliki karakter pemberani dan tidak suka makan biji-bijian. Dari penggambaran Timmy dan Kiki dapat ditarik kesesuaian karakteristik tokoh pada kehidupan nyata.
Memudahkan peserta memahmi materi yang disampaikan, Fauziah Rachmawati mengajak peserta workshop membuat tokoh cerita dengan karakteristik yang sesuai dengan anak-anak mereka. Bahkan beberapa peserta diminta maju ke depan melaksanakan game edukasi sambung kata. Melalui game edukasi diharapkan membuat peserta workshop termasuk guru dapat menambahkan ekperien dan pengalaman dalam mendidik anak-anaknya.
Perwakilan peserta, Ibu Titik dari SD Muhamamdiyah 8 Dau, bertanya bagaimana cara menangani anak yang yang dewasa sebelum waktunya. Pertanyaan ini dijawab pemateri Fauzan Saputra bahwa pertumbuhan yang begitu cepat seperti anak perempuan haid pertama dan anak laki-laki sudah mimpi basah, meskipun secara psikologi mereka belum siap menerima resiko yang mungkin terjadi, dapat dilakukan dengan memisahkan tempat duduk antara anak perempaun dan laki-laki.
Hingga anak-anak memiliki kesadaran gender sehingga guru dapat mengarahkan potensi anak didiknya pada bidang akademik dan mengarahkan bakat dan minatnya dengan benar.
Sesi akhir kegiatan ini, moderator workshop Murtyas Galuh Danawati, berharap melalui worshop ini peserta bertambah pengetahuannya serta bisa membuat karya literasi seperti buku cerita bergambar yang dapat dijadikan media pembelajaran di kelas. Kegiatan ini ditutup penyerahan cinderamata. (tim pkm pgsd umm/don)
