PMM 58 UMM Berpartisipasi Pagelaran Adat Budaya 1 Suro Desa Srimulyo Dampit
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) kelompok 58 gelombang 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) turut serta dalam belajar adat istiadat budaya masyarakat Desa Srimulyo, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengimplementasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

PMM) kelompok 58 gelombang 5 Universitas Muhammadiyah Malang ini beranggotakan Annisa Qoirotul Amelia (202210420311129), Ari Amanda ( 202210420311163), Dwi Ayu Wijayanti (202210420311168), Wulan Agus Yuliasari (202210420311171), dan Rahel Marcellina (202210420311172). Mereka ini di bawah bimbingan Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Setia Yunus Saputra, M.Pd.
Malam 1 suro merupakan perayaan tahun baru dan menjadi hari penting dalam kalender jawa yang masih dianggap sakral oleh masyarakat Desa Srimulyo. Tanggal 1 Suro jatuh pada tanggal 1 Muharram, masyarakat sekitar percaya bahwa malam 1 suro merupakan pertemuan dimensi antar dunia manusia dengan dunia ghaib. Warga desa Srimulyo percaya bahwa tanggal satu suro akan ada bala (kesialan) yang akan datang sehingga diperlukan adanya kegiatan slametan atau doa bersama sebagai tanda tolak bala.Banyak sekali tradisi yang perlu dilakukan dalam memperingati hari sakral ini seperti pengajian bersama, sedekah bumi, kesenian bantengan dan pegelaran wayang.

Sudah tidak asing lagi dengan budaya Indonesia yang satu ini “ pagelaran wayang” menjadi budaya turun temurun yang masih dilakukan setiap terdapat perayaan. Narasi serta alur cerita pegelaran wayang diambil dari mitodologi dan cerita sejarah seperti rama dan shinta. Pertunjukan wayang memberikan penyampaian banyak pesan moral untuk warga desa.
Tidak hanya itu para pemuda hingga anak anak masih tetap melestarikan budaya bantengan yang menjadi hiburan harian mereka. Bantengan atau lebih dikenal sebagai Mberot adalah suatu kesenian yang meggunakkan visualisasi seekor kerbau. Mberot merupakan perpaduan unsur sendratari, dimana gerakan tubuh dan tarian menjadi point utama dalam kesenian. Mberot dimainkan oleh dua orang , satu orang didepan berperan sebagai kaki depan dan pemegang kepala kerbau. Sedangkan satu orang dibelakang berperan sebagai ekor kerbau.

Setelah malam hari melakukan pagelaran wayang serta kesenian bantengan, warga Desa Srimulyo mengadakan acara sedekah bumi. Tujuan diadakannya sedekah bumi adalah sebagai simbol dan harapan atas syukur dan rejeki yang diberikan Tuhan terhadap warga Desa Srimulyo. Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada alam semesta bahwasanya mereka hanyalah pengelola alam bukan pemilik mutlak atas apa yang hidup dan tumbuh ditanah yang mereka pijak. (pmm 58 umm/don)
