PGSD UMM Workshop Program Praktisi Mengajar ABK Siapkan Guru Pendamping Khusus Sekolah Inklusi
MALANG – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang menggelar workshop “Program Praktisi Mengajar ABK untuk Menyiapkan Guru Pendamping Khusus di Sekolah Inklusi” (26/5) 2026 di GBK 1 UMM. Hadir sebagai narasumber internasional, yaitu Bodhi Bragonier dan Dean Bragonier. Keduanya dikenal aktif dalam edukasi mengenai disleksia, pengembangan potensi anak, serta pemanfaatan teknologi asistif dalam dunia pendidikan.

Sebagai opening, Dean Bragonier menjelaskan pentingnya menciptakan suasana belajar yang dapat mendukung potensi dan kreativitas siswa. Bahwa siswa dengan disleksia tidak seharusnya dipandang memiliki kekurangan, melainkan sebagai individu dengan pola pikir yang unik dan kemampuan luar biasa yang dapat berkembang melalui dukungan serta pendampingan yang tepat.
“Fokus pada kekuatan anak menjadi landasan untuk menumbuhkan rasa percaya diri sebagai jalan dalam menggali potensi diri, tanpa melanggar aturan, serta membentuk karakter dari dalam diri tanpa mengabaikan berbagai hal yang ada di luar dirinya,” ujar Dean Bragonier.

Saat workshop dibagi menajdi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas guru sekolah dasar yang mengikuti sesi diskusi bersama Dean Bragonier. Dalam sesi tersebut, para guru membahas strategi pembelajaran inklusif serta cara mendampingi siswa dengan disleksia agar lebih percaya diri dalam belajar dan mampu mengembangkan potensi yang dimiliki.
Sedangkan kelompok kedua terdiri atas siswa sekolah dasar penyandang disleksia yang mengikuti sesi bersama Bodhi Bragonier. Pada sesi tersebut, Bodhi memberikan motivasi serta memandu berbagai kegiatan interaktif yang bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri siswa dan meningkatkan pemahaman bahwa disleksia bukan merupakan hambatan dalam meraih prestasi.

Dalam sesi bersama siswa sekolah dasar, Bodhi Bragonier menekankan bahwa proses belajar perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing anak. Siswa didorong untuk belajar dalam suasana yang nyaman tanpa tekanan, serta diberi ruang untuk mengembangkan diri melalui cara yang kreatif, visual, dan komunikatif. Ia juga menekankan pentingnya rasa percaya diri dalam proses belajar, sehingga siswa mampu mengenali dan mengembangkan potensi yang dimilikinya di lingkungan sekolah.
Kegiatan berlangsung dalam suasana kondusif dan menyenangkan. Para siswa tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, khususnya saat membuat menara dari spaghetti dan marshmallow sesuai dengan kreativitas masing-masing.

Selain kegiatan diskusi dan sesi interaktif, workshop juga mengenalkan penyampaian hasil yang mirip dengan pembagian rapor. Dalam kegiatan ini, guru pendamping dibagi menjadi lima kelompok, yang masing-masing menerima informasi mengenai kelebihan siswa serta strategi dalam memberikan motivasi agar siswa dapat mengembangkan bakat dan potensinya secara optimal.
Melalui workshop ini, diharapkan kesadaran mengenai pentingnya pendidikan inklusif semakin meningkat, khususnya dalam mendukung, bukan mengubah, siswa dengan disleksia di sekolah dasar. Kegiatan ini juga menjadi bentuk komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, adil, dan mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik tanpa adanya diskriminasi. Workshop ditutup dengan sesi foto bersama antara pemateri, guru, dan seluruh peserta kegiatan yaitu siswa dengan disleksia, guru pendamping, serta perwakilan mahasiswa PGSD UMM. (humas pgsd umm)
