Kuliah Tamu PGSD UMM Hadirkan Tiga Pembicara Lintas Negara Bahas Program Unggulan SD Inklusif dan Berpihak Pada Siswa
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tanggal 25 Mei 2026 di aula BAU UMM menggelar kuliah tamu bertajuk Program Unggulan SD yang Inklusif dan Berpihak pada Murid. Kuliah tamu ini menghadirkan tiga pembicara lintas negara mengupas masa depan sekolah inklusif dari sudut pandang psikologi, kemanusiaan, hingga pemanfaatan teknologi digital.

Dean Bragonier, Founder and Executive Dyslexic dari NoticeAbility, Kanada, membuka sesi dengan memaparkan data tentang anak disleksia tumbuh dengan keyakinan keliru bahwa mereka tidak mampu, lalu memilih untuk menyerah. Hal ini disebabkan kegagalan sistem pendidikan konvensional dalam merangkul cara belajar anak disleksia berisiko mengubur potensi besar mereka.
Statistik menunjukkan 59% anak disleksia berisiko gagal menyelesaikan kuliah, dan sebagian besar dari mereka kerap terjebak pada masalah kepercayaan diri yang rendah. Namun, melalui pendekatan Learned Optimism di kurikulum NoticeAbility menjadi solusi mengatasinya. Kurikulum NoticeAbility dirancang untuk melejitkan kekuatan otak disleksia yang dikenal dengan paradigma M.I.N.D. Strengths—yaitu keunggulan dalam penalaran material, berpikir interkonektif, kecerdasan naratif, hingga penalaran dinamis.

Kurikulum berbasis proyek (project-based) ini mengarahkan anak-anak tersebut pada bidang kewirausahaan (entrepreneurship), arsitektur, teknik, dan seni. “Ingat, 35% pengusaha sukses di dunia adalah penyandang disleksia. Tugas kita bukan menyembuhkan mereka, melainkan membongkar penghalang di lingkungan belajar mereka,” tegas Dean.
Adalah pemateri berikutnya Bodhi Bragonier, dari International Youth Ambassador & Course Instructor NoticeAbility. Pengalaman empiris tentang metode Social Emotional Learning (SEL) mampu mengubah cara pandang anak disleksia terhadap diri mereka sendiri. Berdasarkan metrik dampak programmatic NoticeAbility, intervensi SEL terbukti meningkatkan harga diri (self-esteem) dan rasa percaya diri anak hingga lebih dari 80%, sekaligus memperbaiki relasi sosial mereka dengan teman sebaya.

Ekosistem Digital “SILLA MUTU” untuk Sekolah Inklusi Muhammadiyah pendidikan inklusif yang ideal tentu tidak bisa tegak hanya dengan metode, tetapi membutuhkan ekosistem sekolah yang adaptif dan suportif.
Menjawab tantangan tersebut, Ni’matuzahroh, S.Psi., M.Si., Ph.D., Dosen sekaligus Ketua Program Studi Psikologi UMM, memaparkan strategi praktis adaptasi sekolah di era digital. Salah satu tantangan sekolah inklusi di Indonesia adalah keterbatasan kompetensi guru, fasilitas yang belum ramah disabilitas, serta kurikulum yang belum terdiferensiasi dengan baik. “Era digital membawa angin segar. Prinsip utamanya adalah Universal Design for Learning (UDL), di mana teknologi digunakan untuk meminimalkan hambatan belajar di kelas,” jelasnya.

Pemanfaatan assistive technology seperti pemindai suara (text-to-speech dan speech-to-text), screen reader, hingga gamifikasi edukasi menjadi instrumen penting agar anak berkebutuhan khusus dapat belajar bersama tanpa merasa terdiskriminasi.
Ni’matuzahroh memperkenalkan inovasi sistem digital terintegrasi bernama SILLA MUTU (Sistem Literasi Inklusif dan Kolaborasi Bermutu). Sistem berbasis web ini mengintegrasikan tiga pilar utama: platform asesmen literasi akademik, sistem pendukung keputusan belajar berbasis data, dan ruang kolaborasi digital antara guru kelas, Guru Pendamping Khusus (GPK), serta orang tua murid.
“SILLA MUTU dirancang sebagai akselerator agar sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak sekadar melabeli diri sebagai sekolah inklusi, melainkan benar-benar menjadi sekolah yang Welcoming (menghargai keragaman), Adaptive (fleksibel terhadap kebutuhan), dan Progressive (berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan),” jelas Ni’matuzahroh.
Kuliah tamu ini diakhiri dengan sebuah refleksi bersama bahwa pendidikan inklusif bukanlah beban administratif bagi sekolah, melainkan sebuah gerakan kemanusiaan. Sinergi antara keahlian internasional yang dibawa oleh NoticeAbility serta inovasi lokal lewat riset SILLA MUTU UMM diharapkan mampu melahirkan lingkungan belajar sekolah dasar di Indonesia yang benar-benar berpihak pada murid, tanpa ada satu pun anak yang tertinggal di belakang.
Sekedar tambahan sebelum kuliah tamu peserta disuguhi ilustrasi pengondisian psikologis klasik tentang (learned helplessness) ditampilkan di layar. Teori lawas milik psikolog Martin Seligman ini sengaja diangkat untuk menyambut tema Program Unggulan SD yang Inklusif dan Berpihak pada Murid”, realitas pahit mengenai diskriminasi pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus kembali digugah. (humas pgsd umm) Kontak Media: Email: pgsd@umm.ac.id/Website: www.pgsd.umm.ac.id/Malang, Jawa Timur, Indonesia
