PGSD UMM Seminar Tantangan-Inovasi Pembelajaran PDBK di SD Menuju Inklusi Berkelanjutan
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar seminar pendidikan bertema Tantangan Dan Inovasi Dalam Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah Dasar: Menuju Inklusi Yang Berkelanjutan.
Seminar tersebut dilaksanakan pada Jumat 7 Juni 2024 menghadirkan pembicara dari AKASA Center, Aloysia Dian Nimas Prameswari, S.Pd, dengan moderator Vivi Kurnia Herviani, M.Pd. Sementara peserta seminar adalah mahasiswa PGSD UMM.

Tujuan seminar untuk menambah wawasan mahasiswa PGSD UMM terkait pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus. Hal ini menjadi salah satu bentuk kepedulian akan tantangan dalam menumbuhkan inovasi di dunia pendidikan khususnya bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Tantangan dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus di sekolah dasar adalah kompleks dan memerlukan pendekatan yang holistik untuk mencapai inklusi yang berkelanjutan. Pendidikan Inklusi merupakan salah satu program pemerintah dalam mewujudkan keadilan di bidang pendidikan.
Pendidikan inklusi menjadi salah satu bentuk perwujudan pemerataan pendidikan tanpa diskriminasi. Dalam pendidikan inklusi, anak berkebutuhan khusus (ABK) harus mendapatkan layanan pendidikan yang sama dengan anak normal di sekolah reguler.

Salah satu tantangan utama adalah kurangnya sumber daya, termasuk kurangnya pelatihan bagi guru dan keterbatasan peralatan yang sesuai. Namun, melalui inovasi dalam pelatihan guru dan pengembangan teknologi pendidikan yang disesuaikan, kita dapat mengatasi hambatan ini.
Selain itu, kesadaran akan pentingnya dukungan psikososial bagi anak-anak berkebutuhan khusus menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang inklusif. “Inovasi perlu dilakukan dalam pengembangan pembelajaran saat ini, karena pembelajaran ini harus lebih responsif sesuai kebutuhan peserta didik,” ujar Aloysia
Menurut Aloysia hal ini menjadi tantangan bagi seluruh calon pendidik saat ini, perbaikan ini bisa dimulai dari pembaruan pendekatan pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang beragam, seperti pembelajaran berbasis proyek atau pembelajaran berbasis masalah, dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka dengan lebih baik.
Selain itu, kata Aloysia integrasi sosial juga menjadi fokus penting, dan program-program yang mendorong interaksi sosial antara anak-anak berkebutuhan khusus dan rekan sekelas mereka dapat menjadi inovasi yang efektif dalam menciptakan lingkungan yang inklusif serta mendorong kolaborasi dengan lembaga-lembaga pendidikan khusus untuk pertukaran pengetahuan dan pengalaman.Termasuk pengembangan sumber daya dan menggandeng komunitas lokal, keluarga, dan pihak swasta untuk mendukung program inklusi di sekolah.

Maka kolaborasi menjadi penting antara semua pemangku kepentingan agar terciptanya keberlangsungan pendidikan inklusi, termasuk guru, orang tua, masyarakat, dan lembaga pendidikan, sangat penting untuk memastikan inklusi yang berkelanjutan.
Melalui upaya bersama dan penerapan inovasi-inovasi yang sesuai, tentu dapat membangun sekolah dasar yang lebih inklusif, di mana setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal. Oleh karena itu, kolaborasi dan sinergi antara berbagai pihak diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan inklusif yang memadai dan berkelanjutan.
Ini merupakan tanggung jawab bersama bagi semua pihak untuk memastikan bahwa setiap individu, tanpa terkecuali, memiliki akses yang setara terhadap pendidikan yang berkualitas. (humas pgsd umm/kha)
