Modul Khebinekaan Kuliner Nusantara: Nasi Kuning Tumpeng
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Sabtu, tanggal 12 Desember 2023, Mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) Batch 3 Kelompok A Inbound Universitas Muhammadiyah Malang, bersama Dosen Modul Nusantara Bapak Abdurrahman Muzakki, M. Pd, dan dibantu oleh Liaison Officer Ramadhani Ayu Veirimitha serta Anggun Rahmayanti, mempersembahkan acara Modul Nusantara yang mengangkat tema kuliner khas Indonesia, dengan fokus utama pada keindahan Nasi Kuning Tumpeng.
Kegiatan ini berlangsung di Dome UMM yang terletak di Jl. Karyawiguna No.90, Babatan, Tegalgondo, Kecamatan Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur 65152.
Modul Nusantara ini merupakan bagian dari program Mahasiswa Pertukaran Mahasiswa Merdeka yang bertujuan untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam meresapi kekayaan budaya Indonesia.

Nasi Kuning Tumpeng, sebuah simbol kearifan dan keindahan, membawa filosofi dalam setiap helai nasi yang tersusun rapi. Warna kuning yang kemerahan menggambarkan sinar kebahagiaan dan keberuntungan, mencerminkan kekayaan alam dan semangat hidup yang berlimpah.
Bentuk kerucut Tumpeng, sebagai replika gunung suci, bukan hanya menunjukkan kemuliaan alam tetapi juga menyiratkan ketangguhan dan tekad dalam menghadapi perjalanan hidup.
Dalam proses penyajiannya, dari pemilihan bahan hingga susunan yang artistik, terpancar filosofi kesabaran, kerja keras, dan keuletan. Seperti hidangan ini yang menggoda lidah, filosofi Nasi Kuning Tumpeng mengajak kita untuk merayakan keberagaman, mengejar kebahagiaan, dan merangkai setiap hari sebagai perjalanan menuju puncak kehidupan yang penuh makna.
Nasi tumpeng bukan sekadar kuliner. Nasi tumpeng memiliki filosofi yang bisa ditemukan dalam setiap lauk yang ada di dalamnya.Nasi tumpeng yang berbentuk kerucut dikaitkan dengan gunung yang berarti tempat rena yang dinilai sakral oleh masyarakat Jawa.
Nasi tumpeng dinilai memilii kaitan yang erat dengan langit dan surga. Nasi yang menjulang ke atas ini merupakan harapan agar kehidupan masyarakat dapat meningkat. Setiap komponen atau lauk dalam nasi tumpeng pun memiliki maknanya masing-masing seperti berikut.
Pertama Nasi, yang memiliki harapan untuk hidup lebih baik. Nasi adalah bahan dasar pada nasi tumpeng. Selain sebagai fondasi utama pada tumpeng, nasi pada tumpeng juga punya makna filosofis. Makna tersebut tidak lain adalah sebagai simbol untuk harapan hidup lebih baik. Bahan tumpeng itu juga bermakna agar setiap manusia harus mendapatkan rezeki dengan cara halal.
Kedua, Telur rebus yang memiliki arti setiap tindakan harus selalu direncanakan. Dalam nasi tumpeng, tersedia berbagai macam lauk-pauk, salah satunya adalah telur rebus. Ada yang menyajikannya tanpa diberi bumbu dan ada yang diolah menjadi semur telur.
Telur rebus pada nasi tumpeng mempunyai makna yang sama, yaitu setiap manusia harus merencanakan tindakannya terlebih dulu supaya selamat dan sukses.
Ketiga, ayam bumbu kuning dengan makna simbol pelindung dari berbagai sifat buruk. Selain telur, lauk lain yang harus ada pada nasi tumpeng adalah ayam bumbu kuning.Secara filosofis, lauk satu ini dimaknai sebagai simbol pelindung dari berbagai sifat buruk, seperti sombong, arogan, dan angkuh.
Lauk ini juga bermakna kalau setiap manusia harus beribadah dengan khusuk.
Ke empat Ikan teri, ikan teri bermakna gotong-royong. Ikan teri adalah jenis ikan yang paling sering digunakan dalam nasi tumpeng. Dalam filosofi nasi tumpeng, ikan teri menggambarkan simbol gotong-royong yang harus selalu dijunjung tinggi manusia.
Makna itu selaras dengan ikan teri yang sering disajikan dalam jumlah banyak dalam satu tumpeng.
Ke lima, urap merupakan lauk yang bermakna kehidupan yang tentram, kreativitas, dan sebagainya. Tidak hanya protein hewani, nasi tumpeng juga mempunyai lauk berprotein nabati berupa urap. Lauk ini terdiri atas berbagai macam sayur. Setiap sayur mempunyai makna filosofis masing-masing. (rilis: pmm pgsd)
