Mahasiswa Akuakultur UMM Karya Pakan Udang Vaname Salinitas Rendah
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Mahasiswa Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2020, Adri Hafiz Yusuf beserta dosen akuakultur Ganjar Adhywirawan Sutarjo S.Pi, MP, Dony Prasetyo S.Pi, M.Si, dan Riza Rahman Hakim S.Pi, M.Si, melakukan terobosan baru tentang kebutuhan pakan pada pada budidaya udang vanamei dengan salinitas rendah untuk meningkatkat laju pertumbuhannya.
Vaname shrimp, atau udang vaname (Litopenaeus vannamei), memang dikenal sebagai salah satu jenis udang yang memiliki toleransi yang tinggi terhadap variasi salinitas. Kelebihan utamanya adalah kemampuan untuk hidup dalam rentang salinitas yang luas, mulai dari salinitas laut hingga salinitas rendah sekitar 5 ppt. Salinitas adalah tingkat kandungan garam dalam air.

Dengan adanya kelebihan dari udang vanname ini menjadikan salah satu upaya untuk petani melakukan budidaya pada salinitas rendah. Budidaya udang vaname dengan salinitas rendah, menggunakan air tanah, memiliki kelebihan karena kualitas air yang cenderung lebih bersih dan bebas dari agen penyakit laut seperti virus dan patogen.
Budidaya udang vaname pada salinitas rendah, khususnya pada tingkat salinitas sekitar 5 ppt, memberikan sejumlah tantangan yang perlu diatasi oleh para pembudidaya. Salah satu tantangan utama terkait dengan kondisi salinitas rendah adalah tingginya risiko terjadinya penurunan nilai oksigen terlarut dalam air. Pada salinitas 5 ppt, kadar oksigen terlarut cenderung menurun, yang dapat berdampak negatif pada kesehatan udang vaname. Sebagai panduan umum, kepadatan budidaya udang vaname pada salinitas rendah dapat berkisar antara 5 hingga 15 udang per meter persegi, tergantung pada faktor-faktor seperti sistem budidaya yang digunakan, manajemen air, dan kondisi lingkungan spesifik di lokasi budidaya. Pengurangan kepadatan ini bertujuan untuk menghindari stres pada udang akibat rendahnya nilai oksigen terlarut dan untuk meminimalkan risiko penyakit serta masalah kesehatan lainnya yang dapat muncul pada salinitas rendah.
Selain memperhatikan tentang kepadatan yang dilakukan pada budidaya udang vannamei salinitas rendah, kebutuhan pakan juga menjadi kunci untuk menyediakan energi serta nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan udang. Pemilihan pakan yang sesuai dengan kondisi salinitas rendah dan kebutuhan nutrisi udang vaname menjadi faktor penting untuk mencapai hasil budidaya yang optimal.
Nutrisi yang dibutuhkan oleh udang vaname melibatkan beberapa elemen utama, di antaranya adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan serat. Tingkat nutrisi yang dibutuhkan dapat bervariasi tergantung pada fase pertumbuhan udang dan kondisi budidaya, termasuk salinitas air yang digunakan. Secara umum, pakan untuk udang vaname perlu mengandung tingkat protein yang cukup tinggi, umumnya berkisar antara 30-40%. Lemak juga diperlukan dalam jumlah yang cukup, dengan asam lemak esensial, seperti omega-3 dan omega-6, menjadi komponen penting. Karbohidrat, meskipun dibutuhkan dalam jumlah lebih rendah dibandingkan protein dan lemak, tetap menjadi sumber energi yang vital.

Adapun pakan yang digunakan dalam kegiatan budidaya udang vannamei salinitas rendah Cacing sutera (Tubifex tubifex) menonjol sebagai sumber pakan alami yang kaya nutrisi, terutama untuk mendukung kebutuhan udang vaname (Litopenaeus vannamei) dalam lingkungan salinitas rendah. Dengan tingkat protein mencapai 57%, cacing sutera menjadi sumber protein yang berlimpah, memberikan kontribusi signifikan pada pertumbuhan dan perkembangan udang. Kandungan lemak sebesar 13,3% menyediakan sumber energi yang substansial dan mengandung asam lemak esensial yang mendukung fungsi tubuh udang. Meskipun serat kasar pada tingkat 2,04% relatif rendah, tetapi tetap memberikan dukungan untuk kesehatan saluran pencernaan dan penyerapan nutrisi. Kandungan mineral seperti kalsium dan fosfor dalam kadar abu sebesar 3,6% menjadi faktor penting untuk pertumbuhan cangkang udang. Meskipun cacing sutera didominasi oleh air dengan kadar 87,7%, kandungan nutrisi yang signifikan membuatnya menjadi tambahan yang berharga dalam formulasi pakan untuk budidaya udang vaname pada salinitas rendah. Namun, penting untuk mengatur penggunaannya dengan cermat dan memantau dampaknya pada kesehatan dan pertumbuhan udang dalam lingkungan budidaya yang bersesuaian.
Selain itu, ikan rucah dapat dijadikan opsi yang menarik sebagai pakan alternatif untuk udang vaname (Litopenaeus vannamei) dalam budidaya dengan salinitas rendah. Ikan rucah adalah ikan-ikan yang berukuran kecil dan merupakan kumpulan dari berbagai macam ikan. Kehadiran ikan rucah sebagai sumber pakan dapat memberikan variasi nutrisi yang dibutuhkan oleh udang, yang mungkin tidak sepenuhnya tercakup oleh pakan lainnya. Ikan rucah dapat memberikan sumber protein dan lemak yang berguna untuk pertumbuhan dan kesehatan udang vaname.
Top of Form
Dengan kebutuhan nutrisi yang telah cukup, maka diperlukan untuk mengelola pemberian pakan agar dapat dilakukannya kegiatan budidaya yang efisien. Dengan melihat FCR (Feed Conversion Ratio) yang merupakan indikator efisensi konversi pakan menjadi biomassa udang. FCR pada budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada salinitas rendah dapat bervariasi tergantung pada sejumlah faktor, termasuk manajemen budidaya, kualitas pakan, kondisi lingkungan, dan faktor genetik udang. Umumnya, pada budidaya udang vaname dengan salinitas rendah, FCR dapat berkisar antara 1,2 hingga 2,5, tetapi nilai ini dapat berubah tergantung pada praktek budidaya yang digunakan. Semakin kecil nilai FCR maka hal itu semakin bagus.
Namun harus juga diperhatikan bahwa FCR adalah parameter yang dapat berfluktuasi dan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk tingkat keberhasilan manajemen budidaya. Faktor tersebut meliputi kondisi udang, kepadatan udang, dan kualitas air dalam kolam budidaya. Pemantauan perlu dilakukan agar dapat melihat kondisi udang serta mengoptimalkan manajemen budidaya untuk mencapai FCR yang lebih baik dalam budidaya udang pada salinitas rendah.
Nah maka dari itu, budidaya udang vannamei pada salinitas rendah memerlukan pengelolaan yang cukup baik. Dalam pemilihan pakan juga penting dalam menopang pertumbuhan dan kesehatan udang, dengan cacing sutera dan ikan rucah sebagai opsi pakan alami yang kaya nutrisi. Pengelolaan pemberian pakan yang efisien dapat tercermin dalam Feed Conversion Ratio (FCR), yang dapat bervariasi tergantung pada faktor manajemen budidaya dan kondisi lingkungan. Pemantauan secara rutin diperlukan untuk mengoptimalkan kondisi udang dan mencapai FCR yang lebih baik dalam budidaya udang pada salinitas rendah. (*)
