Masuk Perut Bumi-Panjat Tebing, Arung Jeram, Anggota Muda XLII UKM DIMPA UMM Tempa Karakter Pecinta Alam
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Divisi Mahasiswa Pencinta Alam (DIMPA) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang tangguh melalui kegiatan Pengembaraan Anggota Muda XLII. Kegiatan yang berlangsung pada 11–18 Juni 2026 ini merupakan puncak dari rangkaian Pendidikan dan Pelatihan Lanjut Anggota Muda XLII sekaligus menjadi ujian akhir lapangan sebelum para Anggota Muda resmi menjadi bagian dari keluarga besar DIMPA UMM.
Pengembaraan bukan sekadar perjalanan menaklukkan alam, tetapi merupakan proses pendidikan karakter yang mengajarkan keberanian, kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, serta kemampuan bertahan dalam berbagai kondisi medan. Sebelum keberangkatan, seluruh peserta mengikuti prosesi pelepasan yang berlangsung khidmat dengan pesan utama untuk selalu menjunjung tinggi prinsip “Safety First” dalam setiap aktivitas selama pengembaraan.

Sebanyak lima Anggota Muda XLII bersama para pendamping diterjunkan langsung ke berbagai medan alam melalui tiga divisi kegiatan, yaitu susur gua, panjat tebing, dan arung jeram. Setiap divisi menghadirkan tantangan berbeda yang menguji kemampuan teknis, ketahanan fisik, mental, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak terduga.
Pada divisi susur gua, para peserta menjelajahi tiga gua dengan karakteristik medan yang berbeda, yakni Gua Manten, Gua Tledek, dan Gua Tengger. Gelapnya perut bumi, medan vertikal dan horizontal, serta ruang gerak yang terbatas menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan ketenangan, fokus, dan kerja sama tim.

Sementara itu, Divisi Panjat Tebing menjalani pengembaraan di Tebing Sepikul dengan ketinggian mencapai kurang lebih 250 meter. Tebing yang terjal menuntut kekuatan fisik, penguasaan teknik, konsentrasi tinggi, serta keberanian dalam menghadapi ketinggian.
Tantangan lainnya hadir melalui Divisi Arung Jeram yang mengarungi derasnya Sungai Pekalen, salah satu sungai dengan karakter jeram yang menantang di Jawa Timur. Selain kemampuan teknis dalam mengendalikan perahu karet, peserta juga dituntut untuk memiliki komunikasi yang baik, kekompakan tim, dan ketenangan dalam menghadapi arus sungai.
Seluruh rangkaian pengembaraan merupakan hasil dari proses latihan intensif selama kurang lebih dua bulan. Berbagai latihan fisik, penguasaan teknik, serta simulasi lapangan dilakukan sebagai bentuk persiapan agar para Anggota Muda mampu menghadapi kondisi sebenarnya saat berada di alam bebas.

Salah satu peserta Pengembaraan Anggota Muda XLII, Fara ardinarasti, divisi panjat tebing dari jurusan akuntansi, mengaku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
“Pengembaraan ini bukan hanya tentang melewati gua, menaklukkan tebing, atau menghadapi derasnya arus sungai. Kami belajar bagaimana mengendalikan rasa takut, mengambil keputusan dalam kondisi sulit, dan yang paling penting adalah percaya kepada tim. Setiap rintangan yang kami hadapi menjadi pengalaman yang akan selalu kami ingat sebagai bagian dari proses menjadi anggota DIMPA,” ungkapnya.
Pembina UKM DIMPA UMM sekaligus dosen Program Studi Perikanan UMM, Rindya Fery Indrawan, menyampaikan apresiasi atas semangat dan perjuangan Anggota Muda XLII yang telah berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian pengembaraan dengan baik dan penuh tanggung jawab.
“Pengembaraan bukanlah sekadar kegiatan untuk menguji kemampuan fisik dan teknik di alam bebas, tetapi merupakan proses pembentukan karakter. Melalui berbagai tantangan di gua, tebing, dan sungai, peserta belajar tentang disiplin, kepemimpinan, kerja sama, serta pentingnya keselamatan dalam setiap aktivitas. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi utama yang harus dimiliki oleh seorang pecinta alam.”

Menurutnya, pendidikan yang diberikan melalui organisasi mahasiswa seperti DIMPA memiliki peran penting dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, kemampuan beradaptasi, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.
“Harapan kami, Anggota Muda XLII tidak hanya bangga karena telah menyelesaikan sebuah pengembaraan, tetapi mampu membawa semangat menjaga alam, memiliki jiwa pengabdian kepada masyarakat, serta menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” tambahnya.
Pengembaraan Anggota Muda XLII menjadi bukti bahwa pendidikan di alam terbuka tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang menaklukkan medan, tetapi juga bagaimana menaklukkan dirinya sendiri. Setiap langkah perjalanan, setiap rasa lelah, dan setiap tantangan yang berhasil dilewati menjadi pelajaran berharga dalam membentuk karakter seorang pecinta alam.
Kegiatan ini merupakan pengalaman yang hanya dapat dirasakan satu kali selama masa menjadi Anggota Muda DIMPA. Oleh karena itu, setiap momen dalam perjalanan tersebut menjadi kenangan berharga sekaligus bekal untuk melanjutkan pengabdian sebagai anggota penuh DIMPA UMM.
Semangat dan perjuangan Anggota Muda XLII menjadi bukti bahwa proses pendidikan di alam bebas mampu melahirkan pribadi yang tangguh, disiplin, berjiwa kepemimpinan, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama dan kelestarian lingkungan. (indra)
