Kantin Eksyar UMLA-APSEI PTMA, Bahas Berbisnis Dengan Allah
TABLOIDMATAHATI.COM, LAMONGAN – Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) mengadakan kolaborasi dengan Asosiasi Prodi Ekonomi Islam PTMA (APSEI) dalam program Kajian Rutin (Kantin) pada (9/2) secara daring. Menghadirkan dua narasumber dari masing-masing kampus membawakan kajian dengan tema besar “Berbisnis Dengan Allah”.
Kajian pertama disampaikan oleh Ketua Bidang AIK APSEI, Dr. Adi Mansah, disapa ustadz Adi membicarakan apa itu harta yang hakiki. Dimulai dari pengertian harta yang hakiki adalah bukan harta yang disimpan dan ditumpuk hingga banyak. Harta yang hakiki adalah harta yang ketika diberikan, diinfakkan, dishodaqohkan, atau dikeluarkan di Jalan Allah. Ustadz Adi melandaskan pada kutipan dari Hadist Nabi yaitu bahwa tidak akan berkurang harta orang yang memberikan sedekah (wajib/sunnah)

Sambung ustadz Adi, menceritakan kisah Sa’alabah yang lupa beribadah karena sudah menjadi kaya. Harta yang didapatkan bisa saja berguna jika diperlakukan semestinya dan akan menjadi masalah jika sampai terlena. Selain itu ustadz Adi juga membahas tentang macam-macam harta, tujuan memiliki harta, dan bahaya-bahaya memiliki harta.
“Semoga bisa kita jadikan program rutin kerjasama antar kampus yang tergabung di dalam APSEI dan bergiliran. Alhamdulillah di UMLA bisa berlanjut memfasilitasi” ujar ustadz Adi yang juga sebagai Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Dilanjutkan dengan kajian kedua oleh Dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan, Tatag Satria Praja S.Pd.I, M.Pd, tentang berbisnis yang sesuai dengan syariat Islam. Ustadz Tatag membuka kajian dengan merefleksikan kehidupan kita dengan mengutip Hadist Riwayat Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi mengenai 4 pertanyaan pada hari kiamat tentang umur, jasad, ilmu, dan harta yang dimiliki digunakan untuk apa saja selama masih hidup.
Bisnis dipahami sebagai aktivitas memperoleh keuntungan baik personal maupun kolektif, sedangkan bisnis Islam adalah aktivitas memperoleh keuntungan dengan landasan syriat Islam dan bertujuan mendapatkan ridho Allah SWT.
Lanjut pemaparan ustadz Tatag, menceritakan bagaimana jejak bisnis Nabi Muhammad SAW sebagai pebisnis yang sebenarnya. Bisnis yang dijalankan Rasulullah memiliki nilai seperti Shidiq, Amanah, Fathanah, dan Tabligh yang selalu dipegang teguh. Selain Rasulullah juga diceritakan jalan bisnis dari sahabat seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.
Prinsip bisnis dalam Islam ada tiga yang disebutkan ustadz Tatag. Pertama adalah Dzikrullah atau boleh berniaga tetapi tidak boleh melalaikan kewajiban kepada Allah dan juga hak orang lain. Kedua adalah mendapatkan ridho Allah. Ketiga yaitu menjadikan bisnis sebagai ladang ibadah. Selain itu ustadz Tatag juga membagikan tips perniagaan yang tidak akan merugi yaitu dengan mengamalkan tiga hal selama menjalankan bisnis yaitu selalu membaca Al-Qur’an, Sholat, dan Infaq. (rilis: humas/editor: hamara)
