Inovasi Mahasiswa Akuakultur UMM Dalam Penggunaan Bakteriofag Sebagai Agen Terapi Penyakit AHPND Pada Udang Vaname
Penulis: Thesa Lonicha Kitvirul A’ini, mahasiswa Program Studi Akuakultur, Fakultas Pertanian Peternakan, Universitas Muhammadiyah Malang.
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Udang vaname merupakan salah satu produk utama perikanan yang banyak di ekspor oleh Indonesia. Berdasarkan dari data kementerian kelautan dan perikanan, ekspor udang Indonesia sebesar US$2,16 dengan volume 241.200 ton pada 2022. Secara nilai ekspor udang indonesia mengalami penurunan sebesar 3,22% dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan jumlah ekpsor tersebut tentu dipengaruhi oleh jumlah produksi yang menurun akibat terjadinya gagal panen. Permasalahan dari kegagalan panen budidaya udang dengan presentase tertinggi disebabkan oleh adanya serangan penyakit. Umumnya serangan penyakit pada udang disebabkan oleh buruknya kualitas air tambak, virus atau bakteri yang berasal dari sisa pakan yang menumpuk, peralatan yang digunakan, serta gen carrier yang berasal dari udang tersebut.

Salah satu fenomena penyakit yang menyerang udang yaitu Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND). AHPND menyerang udang pada umur 20 sampai 30 hari dan pada umur 40 hari yang menyebabkan kematian dalam waktu 2-3 hari. penyakit AHPND pada udang vaname disebabkan oleh Vibrio parahaemolyticus, dan Vibrio harveyi. Bakteri Vibrio sp. sendiri merupakan jenis bakteri gram negatif yang bersifat fakultatif anaerob yang dapat menyebabkan kematian pada budidaya udang secara masal. Salah satu upaya pencegahan terhadap serangan penyakit AHPND para pembudidaya melakukan penyiponan dan pemberian probiotik. Akan tetapi kedua cara ini belum efektif dalam mengurangi penyakit AHPND sehingga para pembudidaya masih melakukan panen dini. Upaya lainnya pengaplikasian antibiotik dalam jangka waktu panjang menimbulkan dampak negatif seperti resistensi bakteri patogen dan residunya dapat mencemari lingkungan sehingga mengakibatkan kualitas air menjadi buruk.

Berdasarkan masalah diatas, tim kami melakukan penelitian terbaru mengenai penggunaan bakteriofag yang diisolasi dari dua sumber yang berbeda yaitu serasah mangrove dan hepatopankreas udang vaname untuk membunuh bakteri V. parahaemolyticus pada perairan budidaya udang vaname penyebab terjadinya penyakit AHPND.

Bakteriofag tersebut dapat menjadi solusi terbaru untuk pencegahan penyakit AHPND. Bakteriofag merupakan virus yang menginfeksi bakteri dan mampu membunuh sel bakteri secara langsung dalam waktu yang singkat dan rentang infeksinya hanya terhadap beberapa spesies sehingga dapat digunakan sebagai biokontrol terhadap bakteri patogen.

Hasil penelitian memperlihatkan aktivitas penghambatan bakteriofag terhadap Vibrio parahaemolyticus secara signifikan. Dengan demikian bakteriofag dari serasah mangrove dan hepatopankreas udang vaname memiliki potensi menjadi agen terapi penyakit AHPND pada udang.
Berkat inovasi tersebut, tim penelitian kami lolos dalam gelaran acara Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-36 di Universitas Padjajaran dengan meraih dua medali tingkat nasional. (*)
