Amaliyah Tadris, Micro Teaching Ala Pondok Modern Babussalam Al Firdaus
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG-Amaliyah Tadris merupakan salah satu bentuk ujian akhir bagi santri kelas 6 KMI Pondok Modern Babussalam Al Firdaus, Desa Bocek, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Menurut pimpinan Pondok Modern Babussalam Al Firdaus, ustadz Tomy Alvanso, M.Ag, program Amaliyah Tadris adalah praktek mengajar terbimbing dan dievaluasi oleh santri kelas 6 lainnya.

Sistem Kulliyatul Mu’allimin wal Mu’allimat Al-Islamiyah (KMI) di Pondok Modern Babussalam Al Firdaus inilah yang mengharuskan masing-masing santri memiliki ketrampilan dan kemampuan mengajar atau menjadi pendidik yang ideal.
Menurut ustadz Tomy praktek mengajar perdana untuk santri kelas 6 KMI, santri yang mendapatkan kesempatan perdana untuk praktek adalah Melanie Juwita Qori’ Aisyah dengan mata pelajaran Muthala’ah kelas 2 KMI.
Sebelum maju untuk praktik, santri kelas 6 KMI sudah dibekali tentang metode mengajar (thariqah), materi yang akan disampaikan (maadah), bahasa yang akan digunakan (lughah), kepribadian guru ketika mengajar (ahwal mudarris), agar menjadi mudarris yang profesional.

Selain itu, cara mengkritik (darsun an-naqd) juga disampaikan saat pembekalan agar santri belajar mengkritik dan mengevaluasi santri lainnya dengan baik.
Praktik mengajar ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu hari ahad (12/02), Ahad (19/02) dan Rabu (22/02). Sebelum santri kelas 6 atau guru praktikan maju untuk praktik, masing-masing santri diharuskan membuat I’dad (RPP) yang harus dibuat menggunakan tulisan tangan, serta dikoreksi dan disahkan oleh guru pembimbing.
Setelah praktik mengajar, lanjut ustadz Tomy ada kegiatan Darsun an-Naqd atau kegiatan Mengkritik Proses Belajar dan Mengajar, kegiatan inilah yang tidak kalah menarik dan menantang selain menjadi guru praktikan.

Karena kritikan yang ditulis oleh teman kelompoknya, akan dibahas dalam forum bersama guru pembimbing dan teman-teman kelompoknya, selain itu yang mengkritik juga harus memberi islah/pembetulan dari yang salah tersebut.
Dengan demikian kegiatan amaliyah tadris di pesantren ini menjadi sangat penting, dengan begitu pesantren ikut berkontribusi mencetak dan melahirkan guru yang ideal di masa yang akan datang. (rilis: tom/editor: doni osmon)
