Art Therapy PMM 45 UMM Tingkatkan Kesehatan Mental Lansia di Desa Bunut Wetan
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Kelompok 45 Gelombang 5 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dilakansakan di Desa Bunut Wetan, Pakis, Kabupaten Malang. Program ini bertujuan untuk memberikan dukungan kesehatan mental kepada lansia melalui kegiatan art therapy berupa meronce. Kegiatan ini dirancang dengan menggabungkan unsur seni dan kreativitas untuk membantu lansia dalam menjaga kesehatan mental dan emosional.
Anggota PMM Kelompok 45 Gelombang 5 terdiri dari Nurkharimah Vielayaty, Aliva Istighfarin, Arnetta Iyuttya Aprillinda, Zalsha Syahbani Maryam, dan Shafa Nurhaliza Rachman. Mereka semua berasal dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang dan dibimbing oleh Luqman Dzul Hilmi, SE., MBA. Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Dengan latar belakang ilmu psikologi, para mahasiswa ini ingin berkontribusi langsung dalam mendukung kesejahteraan emosional lansia di desa tersebut.
Program yang dilaksanakan selama beberapa minggu ini mengambil pendekatan kreatif dan edukatif melalui aktivitas meronce, sebuah teknik seni yang melibatkan penyusunan dan penggabungan manik-manik atau bahan lainnya menjadi sebuah karya seni. Meronce dipilih sebagai media terapi karena selain melibatkan keterampilan motorik halus, juga memberikan ruang bagi lansia untuk mengekspresikan diri dan meningkatkan konsentrasi serta kesabaran.

“Kami memilih meronce sebagai bentuk art therapy karena selain menyenangkan, aktivitas ini juga memberikan manfaat yang signifikan bagi lansia. Kegiatan ini membantu mereka tetap aktif, baik secara fisik maupun mental, serta memberikan rasa pencapaian ketika mereka melihat hasil karya mereka sendiri,” ujar Nurkharimah Vielayaty, salah satu anggota kelompok PMM.
Pada pelaksanaannya, mahasiswa tidak hanya memberikan panduan teknis tentang cara meronce, tetapi juga membangun suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan. Para lansia diberi kebebasan untuk memilih bahan dan desain yang diinginkan, sehingga mereka merasa dihargai dan diperhatikan. Aktivitas ini juga didukung oleh cerita dan dialog yang membuat para lansia merasa nyaman dan terlibat secara emosional.
Selain itu, PMM UMM Kelompok 45 juga melakukan sosialisasi tentang pentingnya menjaga kesehatan mental pada lansia. Mereka menjelaskan bagaimana aktivitas kreatif seperti meronce dapat menjadi sarana untuk mengurangi stres, kecemasan, dan perasaan kesepian yang sering dialami oleh lansia.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi para lansia untuk terus terlibat dalam aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan mental mereka. Ini bukan hanya tentang meronce, tetapi juga tentang memberikan dukungan moral dan emosional,” tambah Shafa Nurhaliza Rachman, salah satu anggota kelompok lainnya.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat Desa Bunut Wetan. Banyak lansia yang merasa terbantu dan menikmati setiap sesi yang diadakan. Mereka merasa dihargai dan senang dapat berinteraksi dengan mahasiswa yang penuh semangat dan perhatian.
Selama pelaksanaan program, para lansia menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti kegiatan meronce. Mereka merasa senang dan bersemangat saat memilih manik-manik serta merangkai menjadi karya seni. Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga membantu mereka mengasah keterampilan motorik halus dan menjaga pikiran tetap aktif. Interaksi yang hangat dan dukungan dari para mahasiswa juga menciptakan suasana yang nyaman, sehingga para lansia merasa lebih dihargai dan termotivasi untuk terus berkarya.
Melalui kegiatan ini, PMM UMM Kelompok 45 Gelombang 5 tidak hanya berhasil menyentuh hati para lansia, tetapi juga meneguhkan komitmen mereka untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat. Art therapy yang dilakukan di Desa Bunut Wetan ini menjadi contoh nyata bagaimana seni dapat digunakan sebagai alat terapi yang efektif dan bermanfaat, khususnya bagi lansia.
Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, mahasiswa dapat berperan aktif dalam mendukung kesejahteraan masyarakat dan menjadi agen perubahan yang positif. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan dan diaplikasikan di berbagai tempat lainnya, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari program pengabdian yang dilaksanakan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. (penulis/foto: kelompok 45 gelombang 5/editor: hamim)
