Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Remaja
Penulis: Vern Viber Pramayeda, mahasiswa jurusan farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Media sosial sudah menjadi media yang paling mendominasi dalam menyebarkan berita terkini mengenai kehidupan di masyarakat. Media sosial terhubung secara luas ke platform web dan seluler yang memungkinkan setiap individu yang menggunakannya dapat terhubung dengan orang lain dalam jaringan virtual, seperti Facebook, X, Instagram atau aplikasi jejaring lainnya. Sekarang ini, media sosial sudah dapat diakses oleh berbagai kalangan masyarakat, salah satunya adalah remaja. Sebuah studi pada tahun 2015 terhadap lebih dari 2,000 remaja berusia 13 hingga 17 tahun menunjukkan bahwa 92% remaja berada di jejaring
sosial (online) setiap harinya, dengan hampir 25% melaporkan penggunaan media sosial secara konstan. Perbedaan yang paling menonjol antara penggunaan media sosial orang dewasa dan remaja adalah bahwa tujuan umum penggunaan media sosial pada orang dewasa adalah untuk tetap terkini dan terhubung dengan teman dekat, sedangkan pada remaja lebih kepada tidak
membatasi postingan mereka hanya untuk teman.
Semakin berkembangnya teknologi, tidak hanya memberikan dampak yang positif pada penggunaan sosial media, namun ada risiko yang terlibat. Penggunaan sosial media yang secara terus-menerus dapat membahayakan kesehatan mental. Perasaan iri, tidak mampu dan kurang puas dengan hidup menjadi salah satu dampak yang mungkin terjadi akibat terlalu banyak dan lama dalam menggunakan sosial media secara pasif seperti melihat postingan pengguna lain.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa hal tersebut dapat menimbulkan gejala ADHD, depresi, dan kecemasan. Penelitian Health Behavior in School-aged Children (HBSC) oleh kantor regional WHO untuk Eropa, melaporkan bahwa perilaku kesehatan dan sosial anak sekolah dari 45 negara dengan usia 11, 13 dan 15 tahun, menunjukkan bahwa kesejahteraan mental remaja mengalami penurunan di banyak negara antara tahun 2014 dan 2018. Menurut Direktur Regional WHO
untuk Eropa, meningkatkan jumlah anak laki-laki dan perempuan di seluruh wilayah eropa yang melaporkan kesehatan mental yang buruk, merasa rendah diri, gugup atau mudah tersinggung. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti budaya, ekonomi dan penggunaan teknologi digital. Pada dasarnya, perkembangan teknologi yang semakin canggih, memperkuat kerentanan dan memperkenalkan ancaman baru seperti cyberbullying. Dilaporkan bahwa 1 dari
10 remaja mengalami cyberbullying setidaknya sekali dalam dua bulan terakhir. (WHO, 2020) Kesaksian dari para remaja yang menyatakan bahwa sosial media dapat menyebabkan gangguan suasana hati dan kecemasan, memandang media sosial sebagai platform untuk cyberbullying sehingga memungkinkan untuk para remaja ini mengalami stress, kecemasan, kesepian, hingga depresi, Hal ini biasanya dikarenakan adanya perbandingan sosial dalam membandingkan diri dengan orang lain untuk mengevaluasi dan meningkatkan diri, namun tidak jarang lebih banyak manusia yang membandingkan diri ke atas. Perbandingan ke atas adalah perbandingan dengan seseorang yang dianggap lebih baik dari diri sendiri, sehingga menimbulkan rasa lebih buruk pada diri sendiri. (Dibb, 2019) Berdasarkan penelitian twenge et al. 2018 dalam (Naslund et al., 2020) di Amerika Serikat memaparkan bahwa responden yang melaporkan lebih banyak menghabiskan waktu dirumah
dan mengakses sosial media dengan smartphone memiliki resiko tinggi terhadap depresi sampai ada kemungkinan untuk melakukan bunuh diri, dibandingkan dengan remaja yang melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu tanpa layar smartphone dan melakukan
kegiatan diluar rumah seperti interaksi sosial secara langsung, olahraga, dan aktivitas rekreasi.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Julius Ohrnberger, yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan antara kesehatan mental dan fisik yang berdampak pada gaya hidup dan interaksi sosial pada suatu individu. Jika pada masa lalu memiliki kesehatan mental yang baik maka akan memiliki kesehatan fisik yang baik juga (Ohrnberger, Fichera and Sutton, 2017).
