Indonesia dan Segala Perbedaan
Penulis: Al-Muthi’ah Lirobbiha, mahasiswa PGSD, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG – Keberagaman masyarakat Indonesia merupakan salah satu aset terbesar. Contoh yang sering diulangi adalah adanya perbedaan agama, banyak dialek teritorial, jumlah pulau yang sangat banyak, dan banyaknya suku bangsa.Yang sering terabaikan, selain marga yang sangat besar, misalnya Jawa, Sunda, dan Melayu, Indonesia adalah rumah bagi ras Melanesia terbesar di dunia, lebih besar dari gabungan Melanesia di enam negara: Papua Nugini, Timor Leste, Vanuatu, Kaledonia, Sulaiman, dan Fiji. Sebagian besar ras Melanesia berdiam di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ketersinggungan antarkelompok ini tidak memandang usia. Orang dewasa, remaja dan bahkan anak-anak pun ikut tersinggung dan membenci kelompok yang berbeda dengannya. Dari tiga generasi tersebut, anak-anaklah yang akan menanggung resiko paling besar akibat kelakuan orang dewasa. Jangan sampai hanya karena kepentingan pribadi dan kelompok kecil dari orang dewasa, lalu mereka saling menyindir dan menjatuhkan dengan menggunakan isu SARA, anak-anakpun kemudian menjadi korban. Perdebatan isu SARA di kalangan orang dewasa sangat mudah menular kepada anak-anak. Hal tersebut akan berdampak pada kebencian yang terpupuk pada anak-anak. Sementara jika orang dewasa sudah sampai pada kepentingan di inginkan, mereka dengan mudah berdamai dengan sesamanya. Namun, bagi anak-anak benih-benih kebencian bisa saja terpatri dibenaknya.
Sebelum negara Indonesia resmi berdiri pada Agustus 1945, keberagaman merupakan sebuah fakta kehidupan. Keberagaman agama, identitas, masyarakat, dan dialek merupakan sumber daya penting sekaligus ujian dalam mewujudkan kehidupan sehari-hari yang sarat dengan keselarasan dan kerukunan. Tantangan paling jelas yang bisa dihadapi adalah kemungkinan munculnya perpecahan, terutama karena perbedaan kepentingan politik. Saat ini kita berada pada tahun politik dimana segala sesuatu bisa diarahkan untuk mendukung atau menolak suatu partai atau calon presiden tertentu, yang dapat menimbulkan konflik jika kita tidak hati-hati.
Apalagi jika ada perhitungan bunga yang ketat. Masalah pemerintahan demi agama bisa berdampak pada perdebatan yang lebih berbahaya bagi kejujuran negara. Para pemimpin negara ini mempunyai keterlibatan yang besar dalam menangani permasalahan yang diakibatkan oleh konflik antar kelompok etnis, suku, dan ras. Itu memiliki masa lalu yang panjang dan sulit. Tantangan berbeda muncul dari sebuah perselisihan. Terjadi kebrutalan, migrasi massal, pemindahan, dan bahkan pencabutan akar selama beberapa waktu atau bahkan bertahun-tahun. Mereka tidak lagi dapat menempati desanya sendiri atau mengolah tanah.
Toleransi harus di suburkan pada masyarakat dari anak-anak sejak dini, sebab serpihan memori di masa anak-anak bisa mempengaruhi perilakunya saat dewasa nanti. Jika semasa kecil mereka terjebak dalam rasa kebencian, maka secara tidak langsung rasa damainya terhadap dunia bisa terenggut. Johan Galtung, seorang akademisi konflik dan perdamaian menjelaskan bahwa perdamaian haruslah menghilangkan setiap benih konflik. Pembelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam kelas bagi anak-anak belum cukup. Mereka butuh praktik nyata untuk memahami toleransi secara utuh.
Sebagai masyarakat awam, kita memiliki peran yang sangat penting untuk menyuburkan toleransi di kalangan anak-anak dengan cara yang menarik dan menyenangkan bagi mereka. Kita tidak boleh mengkhotbahi mereka. Kita bisa mengajak mereka untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang mereka sukai namun sarat makna dengan penanaman nilai-nilai toleransi dan peningkatan kesadaran diri (self-awareness) serta rasa berterimanya pada hal-hal yang berbeda dengan mereka.
Tentu di balik upaya untuk menyuburkan toleransi akan ada sejumlah pertanyaan yang muncul dari mereka, maka selaku orang dewasa hendaklah kita menjawabnya dengan jujur. Kita harus menjelaskan kepada mereka bahwa memang benar kita berbeda. Kita memiliki keyakinan dan latar belakang yang berbeda, namun kita harus saling menghormati dan menghargai. (*)
