PIS-PK Sebagai Upaya Mengurangi Kasus Stunting
Penulis: Vivin Khoriah, mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Unversitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Guna mewujudkan Indonesia maju di masa yang akan datang, maka setiap permasalahan yang dihadapi oleh bangsa harus dapat diatasi bersama. Salah satu permasalahan yang dihadapi saat ini yaitu stunting. Permasalahan stunting dikalangan anak-anak masih menjadi problem utama di Indonesia, khususnya di daerah pelosok desa yang sulit terjangkau oleh layanan kesehatan.
Setiap anak memiliki tahap pertumbuhan dan perkembangan yang sangat penting pada saat balita, sehingga memerlukan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Kurangnya gizi yang terjadi pada masa prenatal hingga masa kanak-kanak merupakan tahap awal penyebab anak mengalami kelainan neurologis, gangguan perkembangan otak, serta kemampuan berpikir. Stunting merupakan salah satu masalah pertumbuhan dan perkembangan anak, di mana stunting dapat menyebkan berkurangnya kemampuan anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan (Hanani,2016).
Seorang anak dapat dikatakan stunting apabila tinggi badannya (TB) tidak sesuai dengan umurnya, yang dilihat dari Z-Score Indeks Tinggi atau Umur (TB/U) kurang dari -2 standar devisi (SD). Pada dua tahun pertama, anak stunting berpeluang 4,57 kali lebih tinggi untuk memiliki kecerdasan lebih rendah dibandingkan anak yang tidak stunting, hal ini mampu berkontribusi terhadap prestasi anak di masa depan (Kusumaningrum,2021).
Di Indonesia, berdasarkan data Asian Development Bank pada tahun 2022 presentase Prevalence Of Stunting Among Children Under 5 Years Of Age di Indonesia sebesar 31,8 persen. Jumlah tersebut menyebabkan Indonesia berada pada urutan ke-10 di wilayah Asia Tenggara. Namun berdasarkan data dari kementrian Kesehatan, angka stunting di Indonesia berhasil turun menjadi 21,6 persen. Walaupun mengalami penurunan, prevelensi stunting balita di Indonesia masih melebihi standar internasional. Standar stunting maksimal menurut WHO yaitu 20 persen atau seperlima dari jumlah total anak balita.
Stunting pada balita disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berhubungan satu sama lain. Adapun faktor utama adalah gizi pada balita yang tidak terpenuhi. Peran orang tua sangat penting dalam pemenuhan gizi pada anak, karena pada usia balita pertumbuhan dan perkembangan terjadi begitu pesat sehingga orang tua harus memperhatikan gizi yang sesuai dengan kebutuhan anak, seperti memberikan asupan nutrisi yang kaya akan protein, mineral, serta zat besi yang penting bagi pertumbuhan anak. Pemenuhan asupan ASI dan MPASI yang tidak terpenuhi oleh balita semasa mengalami pertumbuhan dan perkembangan juga menjadi penyebab anak stunting. faktor lain penyebab stunting yakni, pola asuh yang kurang efektif, tidak melakukan perawatan pasca melahirkan, gangguan mental dan hipertensi pada ibu, sakit infeksi yang berulang, dan faktor sanitasi.
Balita dapat dikatakan stunting apabila tinggi badannya berada di bawah kisaran normal dari standar usia pada dua kali pemeriksaan. Selain perawakan yang pendek, Adapun ciri-ciri lain dari stunting yakni, wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, berat badan tidak naik bahkan cenderung turun, kemampuan fokus dan memori belajarnya tidak baik, anak cenderung lebih pendiam, dan fase pertumbuhan gigi pada anak melambat.
Adapun upaya pencegahan stunting bisa dilakukan dengan program PIS-PK (Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga). Pendekatan keluarga adalah salah satu cara layanan kesehatan khususnya puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Adanya tenaga kesehatan dapat memainkan perannya sebagai penyemangat dan fasilitator yakni dengan cara memberikan layanan kesehatan. Melalui PIS-PK yang melibatkan kunjungan rutin ke rumah keluarga dengan menggunakan informasi yang sesuai dengan profil keluarga. Adanya program PIS-PK dapat menambah pengetahuan orang tua terhadap pencegahan stunting karena dampak yang akan terjadi jika orang tua terutama ibu hamil tidak mengetahui mengenai pencegahan stunting, maka akan menyebabkan terlambatnya pertumbuhan dan perkembangan janin semasa dalam kandungan, terhambatnya proses persalinan, serta terjadinyanya peningkatan kasus stunting.
Program ini dilakukan dengan mendatangi langsung dan memantau kesehatan masyarakat, termasuk pemantauan gizi masyarakat untuk menurunkan angka stunting oleh petugas puskesmas. Diharapkan gizi masyarakat terutama pada balita diseluruh wilayah terutama wilayah yang jauh dari pusat layanan kesehatan dapat terpantau agar penurunan stunting dapat tercapai. kemudian, terkait PMT (Pemberian Makanan Tambahan) sudah diatur dalam Permenkes RI nomor 51 tahun 2016 tentang standar suplementasi gizi yang di mana telah diatur standar makanan tambahan untuk anak balita, anak usia sekolah dasar, dan ibu hamil. Pemberian makanan tambahan berfokus pada zat gizi makro maupun mikro bagi balita dan ibu hamil sangat diperlukan dalam rangka pencegahan stunting.
Forum komunikasi untuk menjangkau keluarga dapat dilakukan melalui kunjungan rumah kepada keluarga di wilayah kerja puskesmas, diskusi kelompok terarah, dan pilihan konseling seperti PKK, posyandu, dan posbindu. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat sebagai mitra dapat diupayakan melalui penempatan kader kesehatan seperti kader posyandu, kader PKK, kader posbindu, pengurus organisasi daerah, pengurus PKK, dan karang taruna.
Dengan adanya program ini, memudahkan masyarakat untuk mendapatkan layanan kesehatan karena dari petugas sendiri yang akan mendata untuk terkait perihal kasus stunting yang terjadi di masyarakat, megetahui kesehatan keluarga sehingga ditemukan prioritas masalah kesehatan dan dilakukan intervensi terhadap masalah tersebut. Selain itu, masyarakat khususnya orang tua mendapatkan edukasi bagaimana cara pencegahan stunting yang dapat diterapkan langsung setelah mendapatkan edukasi dari puskesmas. Adanya program ini diharapkan permasalahan stunting ini dapat segera diatasi, tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, penanganan stunting juga perlu dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Dengan meningkatnya kesehatan masyarakat, maka akan terwujudnya Indonesia sehat. (vivin khoriah, mahasiswa Prodi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Unversitas Muhammadiyah Malang, email : khoriahvivin@gmail.com)
