Bahaya Polusi Udara Yang Mengganggu Kesehatan
Penulis: Raisya Rizkiditha Dwiari, mahasiswa Farmasi, FIKES, Universitas Muhammadiyah Malang
TABLOIDMATAHATI.COM, MALANG– Polusi udara merupakan hasil dari proses buangan yang dihasilkan dari aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhannya, dari sektor produksi maupun sektor transportasi. Pencemaran udara memberi dampak negatif bagi kesehatan manusia akibat polutan yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Dari beberapa jenis polutan yang dihasilkan, CO merupakan salah satu polutan yang paling banyak yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Polusi udara memberikan kontribusi, untuk sebagian besar kontaminasi pada makanan dan air, yang dikonsumsi dalam beberapa kasus rute utama asupan polutan. Melalui saluran pencernaan dan pernafasan, penyerapan polutan dapat terjadi, sementara sejumlah zat beracun dapat ditemukan dalam sirkulasi umum dan tersimpan ke jaringan yang berbeda.
Pencemaran udara di Indonesia sering kali terjadi karena kebakaran hutan dan lahan gambut yang memang kerap terjadi pada musim kemarau, namun situasi ini diperparah oleh beberapa faktor, termasuk musim kering berkepanjangan, El Niño, dan pemanasan global. Pertumbuhan polusi kota dan tingkat industrialisasi yang tak terhindar, akan mengarah kepada kebutuhan enegi yang lebih besar. Pada umumnya akan menghasilkan pembuangan limbah atau zat pencemar lebih banyak. Sumber utama dari pembuangan limbah zat-zat pencemar didaerah perkotaan yaitu pembakaran bahan bakar posil untuk pemanasan rumah tangga untuk pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, dalam proses–proses industri dan pembuangan limbah padat dengan pembakaran. Kualitas udara yang jelek akan mengganggu sistem pernafasan tubuh dalam menyerap oksigen dan membuang karbondioksida ke luar tubuh karena masuknya zat lain yang bersifat negatif ikut masuk dalam sistem pernafasan.
Tanpa disadari manusia merupakan faktor utama yang menjadi pelaku sekaligus menjadi korban pencemaran udara. Selain menjadi pelaku pencemaran juga menjadi korban, manusia juga tidak menyadari dirinya sebagai satu-satunya korban yang akan kehilangan kesehatannya. Polusi udara memiliki efek, baik yang akut maupun kronis terhadap kesehatan manusia, mempengaruhi sejumlah sistem yang berbeda pada organ. Mulai dari ringan seperti iritasi pernapasan bagian atas (ISPA) untuk pernapasan kronis dan penyakit jantung, memicu serangan asma, memicu kanker paru-paru, meningkatkan risiko infeksi dan peradangan pada jaringan paru-paru, menghambat tumbuh kembang anak, meningkatkan risiko berat badan lahir rendah, menyebabkan gangguan pernafasan, mengganggu Kesehatan mental, meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, hingga meningkatkan risiko kematian.
Salah satu penyakit yang sering terjadi akibat gangguan pernapasan yaitu Cronic Obstructive Pulmunary Diseases (COPD) atau PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversibel atau reversibel parsial. PPOK terdiri atas bronkitis kronis dan emfisema atau gabungan keduanya. PPOK merupakan salah satu gangguan pernapasan yang akan semakin sering dijumpai di masa mendatang di Indonesia, mengingat makin bertambahnya rerata umur orang Indonesia, bertambahnya jumlah perokok dan bertambahnya polusi udara akibat meningkatnya jumlah kendaraan bermotor dan industri. Bronkitis kronis ditandai dengan batuk dan produksi sputum yang berlebihan (ekspektorasi) dengan disertai rasa kelelahan atau lemah dan tidak nyaman akibat batuk kronik berdahak tersebut. Penyakit ini menimbulkan dampak baik fisik maupun psikis yang tidak sederhana kepada penderitanya dengan efek samping pada kualitas hidupnya. Penderita dengan bronkitis kronis mengalami eksaserbasi yang cukup sering sepanjang tahunnya, terutama pada saat musim penghujan atau musim dingin pada negara dengan 4 musim. Emfisema adalah kelainan anatomis paru yang ditandai oleh pelebaran rongga udara distal bronkiolus terminal, disertai kerusakan dinding alveoli. Orang yang menderita emfisema biasanya mengalami sesak nafas.
Dalam hal ini tenaga kesehatan juga berperan aktif untuk penyembuhan pasien yang terkena gangguan pernapasan akibat paparan polusi. Safety patient atau keselamatan pasien merupakan salah satu tanggung jawab semua pihak yang berkaitan dengan pemberi pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah perlindungan bagi pasien, tenaga kesehatan, tenaga pendukung dan bagi masyarakat di sekitarnya. Hal ini dapat diwujudkan dengan penerapan Pencegahan yang efektif dan efisien. Rasa sesak napas merupakan gejala paling umum diderita oleh pasien yang terpapar polusi. Maka dari itu, pasien diberikan edukasi untuk segera datang ke layanan kesehatan terdekat untuk memeriksa kondisi kesehatannya. Apabila penyakit sudah diketahui, maka dokter akan memberikan penanganan pertama yaitu dengan pemeriksaan kesehatan pasien dan pemberian resep obat yang cocok. Setelah diberi penanganan pertama pasien harus ditanyakan kembali apakah pasien tersebut masih merasa sesak atau tidak dan pihak rumah sakit atau dokter akan memberikan resep yang nantinya harus diserahkan kepada Apoteker agar obat tersebut bisa diberitahukan dosis tepat yang harus diminum kepada pasien. Agar rasa sesak napas yang diderita oleh pasien tidak berkelanjutan, maka pasien harus mengikuti arahan dan petunjuk dari dokter maupun tenaga Kesehatan yang lain.
Cara untuk meminimalisir dampak buruk pencemaran udara terhadap kesehatan dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan. Yaitu dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil untuk produksi energi, membeli produk daur ulang, menggunakan produk ramah lingkungan, menanam pohon, berjalan kaki, bersepeda, menggunakan transportasi umum, mengonsumsi produk lokal dan organik, mengurangi makan daging, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, dan tidak menggunakan kantong plastik.
Cara lainnya adalah dengan mengonsumsi makanan yang kaya nutrisi penting dan mengandung berbagai antioksidan seperti makanan sumber vitamin C, vitamin E, beta karoten, dan omega-3. Saat polusi udara meningkat, makanan yang layak dikonsumsi adalah brokoli, alpukat, minyak zaitun, kacang-kacangan, jeruk, anggur, kunyit, bayam, biji rami, serta makanan kaya vitamin B6, vitamin B12 dan metionin yang bersumber dari bahan alami, pangan nabati, serta pangan hewani sumber omega-3 seperti susu, keju, dan ikan. Selain itu, perlu juga menerapkan pola hidup yang baik, pola pikir positif, dan pola makan yang sehat. (Raisya Rizkiditha Dwiarim NIM: 202310410311191, Farmasi E)
